oleh

15 Gubernur Sudah Konfirmasi Kehadiran di HPS

Redaksi

KENDARI – 2.500 tamu sudah mengkonfirmasi siap hadir di peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-39 di Sulawesi Tenggara. Dari jumlah itu 15 Gubernur, tiga Wakil Gubernur serta 57 Bupati dan Wali Kota bersama petani dari wilayah masing-masing memastikan kehadirannya.

Kegiatan itu juga akan dihadiri 14 Duta Besar negara sahabat, enam organisasi internasional yang dirangkaikan dengan acara Diplomatic Tour dengan melaksanakan kunjungan lapangan ke Desa Labela, Kecamatan Besilutu, Kabupaten Konawe.

“Tentunya ini menjadi kebanggaan dan penghargaan bagi masyarakat Sultra untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan HPS. Oleh karena itu mari kita bahu membahu menyukseskan acara ini,” ungkap Dirjen Holtikultura Kementerian Pertanian saat mengecek kesiapan yang sudah 90 persen, Selasa (29/10/2019) seperti dalam rilis Diskominfo Sultra.

Kata dia, HPS kali ini merupakan momentum terbaik karena tidak hanya diperingati oleh Indonesia, namun juga seluruh anggota PBB ikut berpartisipasi. Pendirian Food and Agriculture Organization atau FAO dalam konferensi 1943, diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia dan mengusung tema internasional “Our Actions are Our Future, Healthy Diets for #ZeroHungerWorld.”

Dan tema nasional adalah “Teknologi Industri Pertanian dan Pangan Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045”. Hal itu juga sejalan dengan strategi pembangunan Pertanian Kementerian Pertanian 2015—2019, yaitu menjadikan pangan sebagai basis produksi dan ekspor melalui penyediaan bahan baku bio industri.

BACA JUGA: Sering Demo Jelang HPS, Wali Kota Kendari: Hargai Tamu

Puncak acara dilaksanakan 2 November 2019 dengan menampilkan komoditas utama yaitu kakao dan sagu. Kakao saat ini ada 1,7 juta hektare. Di Sulawesi ada 1 juta hektare. Di Sulawesi Tenggara sendiri ada kurang lebih 260 ribu hektare. Produktivitasnya masih rendah, sehingga menjadi tantangan untuk menerapkan teknologi untuk meningkatkan produktivitasnya.

Dirjen yang akrab dipanggil Anton menyebutkan, HPS kali ini juga menjadi momen kebangkitan sagu. Sagu merupakan komoditas sumber karbohidrat pangan alternatif masa depan.

“Sagu menjadi tanaman yang tahan terhadap perubahan iklim. Berbeda dengan tanaman sumber pangan lainnya yang mudah terpengaruh perubahan iklim. Artinya kebutuhan akan pangan utama bisa diperoleh dari komoditas ini,” ujar Anton.

“Buang mindset bahwa sagu hanya menjadi masakan orang timur. Bicara lumbung pangan dunia, jangan hanya berbicara beras. Ada sagu, ubi, jagung bahkan sukun. Nanti di HPS akan disajikan aneka olahan sagu menjadi berbagai jenis olahan panganan. Dari berbagai segi kesehatan, sagu lebih baik dari nasi,” ujarnya lagi.

Anton menambahkan, penyelenggaran HPS tahun ini memberikan manfaat yang luar biasa. Di lokasi acara puncak pelaksanaan HPS terdapat beberapa gelar teknologi yang tentunya bisa menjadi referensi bagi para petani mengembangkan teknologi tepat guna.

Selain itu terdapat rangkaian kegiatan berupa seminar, temu bisnis, pameran dan aneka lomba yang berguna bagi petani dan masyarakat umum. Ditambah lagi kegiatan festival pangan lokal yang menampilkan produk komersial yang berbahan baku pangan lokal dari 34 provinsi di seluruh Indonesia. Bertujuan untuk menumbuhkan kreatifitas dan inovasi dalam membuat olahan pangan lokal yang menarik, bercita rasa tinggi, bernilai gizi dan ekonomis.

Terkini