Atlet Muna Tidur Alas Tikar Berbantal Tas, Kemana Anggaran Rp 9,7 Miliar?

KOLAKA– Kontingen Kabupaten Muna di Pekan Olahraga Provinsi (Porporv) Sulawesi Tenggara ( Sultra) ke-13, baru tiba dua hari di Kolaka, untuk berburu medali dalam kompetisi empat tahunan tersebut.

Harapan dan doa tentu saja berada di pundak para atlet yang sedianya akan berjuang mati-matian untuk mengharumkan nama daerah. Bendera ‘Bumi Sowite’ harus melangit di Tanah Mekongga.

Beruntung, tidak hanya doa dari masyarakat, pun Pemda Muna mensupport penuh perjuangan ini dengan mengucurkan dana yang dikabarkan sebesar Rp 9,7 miliar. Nyaris terbesar jika dibandingkan dengan anggaran daerah lainnya.

banner travel

Dengan anggaran sebesar itu, tentu atlet bisa mendapatkan fasilitas terbaik, gizi yang cukup dan layanan prima. Tentu saja, untuk melahirkan mental juara, fasilitas yang diterima harusnya juga kualitas pertama.

Dengan begitu, atlet hanya fokus dengan latihan, dan persiapan kompetisi. Perjuangan mungkin tidak mudah, tapi komitmen juara sudah ada dalam dada para atlet sejak hari pertama menjejak Kabupaten Kolaka.

Namun sayangnya, semangat juara mungkin hanya akan jadi cerita. Karena harapan ternyata sangat jauh dari kenyataan. Bukannya bersemangat, atlet malah hanya bisa elus dada.

Adalah fasilitas jadi penyebabnya.  Alih-alih tinggal di hotel mewah dengan fasilitas lengkap. Para atlet malah tinggal di pondokan bak “hotel prodeo”. Tidur beralas tikar, dan berbantal tas pakaian.

Saat mediakendari.com mengunjungi pemondokan atlet ini, Rabu (4/12/2018), kenyatan miris bisa langsung dilihat didepan mata, wajah atlet yang kuyu, dan tubuh mereka yang lesu.

Jelas saja, lantai yang keras dan dingin bukan tempat terbaik untuk melelapkan mimpi. Dan yang terjadi malah keluhan sakit badan, leher dan lengan karena mereka harus tidur meringkuk ala “tidur pistol”.

Bahkan, salah seorang atlet bercerita jika rekannya sesama atlet Muna harus mondok di gedung sekolah. Tidur beralas meja belajar dan tikar. Bahkan tikar dan bantalnya pun katanya dibeli dari dana yang dirogoh dari kantong pribadi salah seorang Pengcab. Buntutnya para atlit banyak yang mengeluhkan sakit perut dan masuk angin, akibat angin dingin mengigit menembus tikar yang tipis.

Tidak hanya soal fasilitas yang sungguh miris, asupan gizi para atlet juga terkesan kurang diperhatikan oleh pengurus kontingen Muna.

Menurut para atlet, saat mereka hendak mengajukan komplain ke pengurus, malah rumah yang disewa sebagi posko koordinasi kontingen Muna, kosong melompong.

Bedasakan informasi yang diterima para atlet, pengurus kontingen memilih menginap di sejumlah hotel. Cukup disayangkan, karena jika para atlet yang sedang berjuang untuk mengharumkan nama derah malah harus tidur beralas lantai, para pengurusnya justru sedang berada di kasur yang empuk.

Saat dimintai tanggapan atas kondisi ini, Ketua KONI Muna, La Ode Dyrun mengakui dan tak membantah akan kondisi yang terjadi.

Ia sendiri melemparkan tanggung jawab pada Kerukunan Kelurga Muna yang menurutnya pernah menjanjikan akan menyediakan pemondokan layak bagi atlet. Namun, saat kontingen Muna tiba di Kolaka, pemondokan yang dijanjikan tidak ada.

Akhirnya pemondokan atlet memanfaatkan gedung sekolah setempat, dengan beralas tikar dan bantal yang tidak mencukupi. Namun menurutnya, masalah atlet akan diatasi. Begitu pula dengan makanan, Ia sudah memerintahkan pengurus konsumsi untuk mengganti menunya.

“Lagi proses penyesuaian, maklum kan kita baru dua hari disini (Kolaka),” singkat Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Muna itu saat ditemui di salah satu hotel yang ada di Kolaka. (a)

Reporter : Erwino


error: Content is protected !!