oleh

Ajemain Suruambo Lahirkan Rumah Adat Tolaki Melalui Bantuan Pemerintah Pusat

-Opini-370 dibaca

Di era sekarang ini berbagai fenomena yang terjadi di kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya yang mana Indonesia telah memasuki peradaban modern ditandai dengan lahirnya  pasar bebas, digitalisasi serta maraknya terorisme dan bahkan sering terjadi gesekan sesama anak suku bangsa saat ini.

Sebagai contoh saat ini adalah Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai salah satu bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan didiami oleh 4 suku bangsa yaitu Tolaki, Muna Buton dan Moronene.

Salah satu suku yang eksis saat ini dalam Pengembangan dan Pelestarian Budaya di Sultra adalah suku Tolaki diawali dengan dibentuknya Lembaga Adat Tolaki Konawe  Mekongga (LATKOM) diera 90an lalu berubah nama di tahun 2000an dengan nama Lembaga Adat Tolaki (LAT).

Tujuan dari pembentukan lembaga adat Tolaki tersebut untuk melestarikan nilai-nilai Budaya dan mempererat persatuan serta mendukung program pemerintah dalam berbagai aspek kehidupan.

Seiring dengan perkembangan zaman saat ini lahir pula generasi muda suku tolaki yang mendirikan Ormas Adat Tolaki dengan visi melestarikan seni dan budaya tolaki.

Dengan hal demikian, muncul berbagai apresiasi atas lahirnya keberadaan ormas adat tolaki dimasa modernisasi saat ini yang mana banyak pemuda sudah tak mau ambil bagian dalam melestarikan budaya nenek moyangnya. Namun sebaliknya, pemuda suku tolaki sangat antusias semangat dalam memajukan dan melestarikan Budayanya agar tak punah dimasa yang akan datang serta mendukung dan memperkokoh keberadaan Lembaga Adat Tolaki.

Generasi muda Tolaki yang berhimpun dalam berbagai Ormas Adat Tolaki maupun secara individu telah banyak berbuat nyata dalam hal mempertahankan serta melestarikan Budayanya melalui sebuah penelitian, pembangunan serta pelestarian nilai-nilai sejarah budaya suku Tolaki.

Namun jika itu semua tak mendapat dukungan dari semua masyarakat Tolaki maka hasil dari apa yang telah dibuat oleh para generasi muda tolaki tidak diimplementasikan secara nyata, dan budaya Suku Tolaki nantinya hanya sebuah kenangan bagi generasi pelanjut.

Untuk itu ada beberapa hal yang perlu di lakukan oleh Generasi muda Tolaki melalui Organisasi Adat bersama dengan Lembaga Adat Tolaki yaitu diantaranya Menetapkan hari wafatnya para Raja Konawe, Raja Mekongga, para Tamalaki Konawe dan Tamalaki Mekongga. hal ini sangat penting agar dapat dijadikan sebagai agenda tahunan dalam rangka memperingatinya.

Selain itu, perlu dilakukannya Pembangunan /rehabilitasi makam para Raja dan Tamalaki, dan Pembangunan Kantor LAT Pusat serta Kabupaten mencirikhaskan Rumah adat Tolaki yang sesuai dengan aslinya. Dan melakukan Pengadaan Kalosara bagi setiap masyarakat  Suku Tolaki sebagai Lambang dan Pelestarian Budaya.

Mendapati hal demikian, Tolaki juga nantinya akan dijadikan sebagai Destinasi Wisata Religi setiap tahunnya.

Hal tersebut dapat dilaksanakan misalnya telah ditetapkan hari wafatnya para Raja dan Tamalaki, maka setiap tahunnya masyarakat Tolaki akan mengadakan Upacara Adat dalam rangka mengenang wafatnya para Raja dan Tamalaki yang nantinya akan memberikan kontribusi positif dari segi sosial, budaya dan ekonomi bagi semua Suku Tolaki dan pada umumnya masyarakat Sulawesi Tenggara dan momentum sebagai sarana dalam Mempererat tali silaturahmi, Melestarikan Budaya, dan Memperkuat Persatuan Masyarakat Suku Tolaki.

Sebagai salah satu kerja nyata dari generasi muda Tolaki dalam mengembangkan budayanya yakni pembangunan Rumah Adat Tolaki di Kelurahan Meluhu Kecamatan Meluhu Kabupaten Konawe pada tahun 2015, hal ini adalah hasil karya perjuangan dari Bapak Ajemain Suruambo,S.Si, M.Sos, (Ketua Komunitas Masyarakat Adat Wonua Ndinudu dan Pelaku Penggiat Pemerhati Budaya Tolaki).

Yang mana selama ini beliau telah berjuang bersama-sama mendorong terwujudnya pembangunan Rumat Adat Tolaki melalui bantuan Pemerintah Pusat pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Penulis Adi Yusuf Tamburaka, Dewan Pendiri Lingkar Pemuda Masyarakat Tolaki LPMT Sulawesi Tenggara.