oleh

Antara Dinasti dan Masa Depan Bupati atau Walikota

-OPINI-88 dibaca

Diselah antara tahun 2017 dan tahun 2018, masyarakat daerah Sulawesi Tenggara sibuk dan ramai memperbincangkan arah dimana dan siapa yang akan menahkodai Bahtera Daerah berikutnya setelah Pasca Kepemimpinan Bapak H. Nur Alam dan H. Saleh Lasata. Berbagai model perbincangan isu, taktis, strategis, hingga suku teradu dimana-mana, hingga tak jarang berakhir pada titik jenuh Kusir tak bermuara oleh sekelompok masyarakat.

Hal ini memberikan gambaran bahwa masyarakat Sulawesi Tenggara telah berhasil memahami dan meresapi nilain dan makna demokrasi di setiap momentum Peralihan Kepemimpinan daerah. Meskipun nilai demokrasinya masih abu-abu sepenuhnya tergantung pada sisi pandang Kehangatan Pendengaran dan keramahan isi perut serta kedekatan yang damai dalam memihak.

Berbagai tokoh, pejabat publik, elit hingga Para Matan telah berjejeran di khalayan masyrakat, tak jarang nampak di berbagai lorong dan pepohonan memberikan tanda keyakinan serta keberanian seakan meminta masyarakat untuk memberi restu dan dukungan sebagai jawaban bahwa mereka layak untuk hadir sebagai solusi kebisingan berpikir masyarakat saat ini. Dengan berbagai Gaya dan warna masing-masing telah memberikan gambaran Konsisten dengan penuh keyakinan kepada masyarakat sulawesi tenggaraa saat ini.

Pramuka

Tentu ini akan menjadi sebuah moment yang sangat menarik untuk di telaa. Bahwa dari sekian para Tokoh, elit dan para mantan yang telah berani meletakkan niat baik dalam membawah daerah ini menjadi lebih baik, baik pembangunan, baik pelayanan baik kesejahteraan masyarakat, perlu ditelusuri lebih mendalam melalui gagasan dan ide masing-masing.

Sehingga kekwatiran dengan Komitmen daerah menjadi lebih baik tidak tergelincir pada perlakuan sekelompok atau golongan tertentu saja. Maka perlu sesekali pula kita menilai dan menghitung pada angka-angka yang merata secara umum.

Salah satu dari hitungannya adalah peletakan pada masa depan daerah secara kolektif termasuk Mampu memberi ruang Generasi yang berkelanjutan dalam sisi perpolitikan yang ada di daerah sulawesi tenggara. Paham yang mesti di kedepankan adalah Asas Keadilan yang merata dalam demokrasi namun bukan sebatas jargon atau hitungan hasil bisnis, akan tetapi penting men jadi sebuah Landasan berpolitik.

Dengan demikian pula akan menghapuskan asumsi Keserakahan Elit politik dalam mengejar jabatan oleh masyarakat kita. Maka, Sepantasnya saat ini Merujuk pada Demokrasi Politik Anti Dinasti.

Ya, Tanda-tanda bahwa politik dinasti itu ada di daerah dalam moment ini sangatlah nampak, namun banyak pula di antara kita masyarakat sulawesi tenggara tidak menyadarinya.

Inilah yang menjadikan faktor rusaknya ritme Masa depan perpolitikan Generasi berkualitas daerah ini akan terputus. Karena Politik dinasti membuat orang-orang yang tidak kompoten akan memiliki kekuasaan.

Tapi hal sebaliknya pun bisa terjadi, dimana orang-orang berkompoten akan menjadi tak terpakai karena alasan Kekeluargaan dan Kekerabatan.

Melihat pada sisi tersebut, jika politik dinasti terjadi di sulawesi tenggara, maka akan tiba dimana waktu waktu kedepan terjadi pemotongan Generasi hingga 2 Dekade.

Wajar jika kemudian kita bertanya. Kemana?, Dimana arah dan kiprah karir Para Bupati dan wali kota yang saat ini selanjutnya? Yang alaminya bahwa semua para elit memiliki semangat untuk mengadu tantangan pengabdian dijenjang berikutnya? Peluang Politik dinasti menghentikan mereka diKursi saat ini sangatlah Besar.

Maka tentu sebagian orang secara bebas akan memikirian langkah-langkah antisipasi, masyarakat harus dituntut untuk lebih jeli, cerdas dan cekatan dalam menentukan pilihan dengan tidak melihat pada ” Ikut Rame” atau Tagline ” Yang Banyak Uangnya”.

Akan tetapi menetukan pilihan idaman dengan melihat Ide Gagasan, prestasi, konsep serta kredibitas (bukan isi tas) sosok pemimpin yang baik untuk daerah sultra Selanjutnya**

Terkini