oleh

Awas, Sultra ‘Diserang’ HIV AIDS

-FEATURED, Kendari, KESEHATAN-128 dibaca

KENDARI – Penyakit berbahaya yang biasa disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV)/AIDS di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) terus meningkat.

Direktur RSU Bahteramas Sultra, M Yusuf Hamra mengatakan, HIV/Aids di Sultra dari tahun-ke tahun menunjukan peningkatan, meskipun penyakit tersebut masih dalam batas Low Epidemic dan belum menyebar pada sub polulasi tertentu.

“Data menunjukan, sejak Tahun 2004 sampai Oktober 2017 terdapat 987 orang, dengan 420 masih dalam status HIV, dan 567 telah menjadi Aids,” ungkap Yusuf saat usai melaksanakan kegiatan pertemuan kordinasi lintas program dan lintas sektor penanggulangan program HIV/AIDS, Senin (27/11).

Lanjut Yusuf, Periode Bulan Januari hingga Oktober 2017, telah ditemukan 125 orang HIV Positif baru, dengan rincian 80 orang masih dalam status HIV dan 45 orang telah menjadi AIDS.

“Dari jumlah 45 orang (57,5) penderita AIDS tersebut juga disertai TB (Tuberkulosis, red),” jelasnya.

Yusuf Hamra mengungkapkan, kasus-kasus HIV/Aids di Sultra seperti fenomena gunung es, karena angka-angka tersebut tidak mengambarkan keadaan sesungguhnya, apalagi layanan konseling dan tes HIV sebagai pintu masuk penemuan kasus HIV di Sultra masih sangat terbatas.

Fenomena itu, lanjutnya, akan terus bertambah bila tidak sesegara mungkin diantisipasi sedini mungkin, yang harus dilakukan, tambahnya, salah satunnya dengan mengadakan berbagai kegiatan pengendalian secara menyeluruh dan komprehensif,

“Dengan semakin meningkatnya pengidap HIV dan kasus AIDS, yang memerlukan terapi antiretroviral, maka penanggulangannya akan dilaksanakan dengan memadukan upaya pencegahan dan upaya perawatan serta pengobatan,” terangnya.

“Berbagai upaya untuk pengendalian HIV/AIDS dan IMS yang telah dilakukan selama ini di Sultra masih belum mencapai hasil yang optimal,” tambahnya.

Yusuf mengungkapkan, prioritas kegiatan kedepannya, akan ditargetkan pada masyarakat yang berisiko tinggi dan orang terinfeksi HIV, serta masyarakat yang rentan lainnya dengan pendekatan pelayanan komprehensif berkesinambungan, mulai dari tahap promosi, pencegahan, deteksi dini/penemuan kasus, dan diagnosis, pengobatan sampai perawatan dan dukungan serta rehabilitasi kesehatan.

“Sebagai titik awal dalam menganalisis situasi dan permasalahan yang ada maka diperlukan suatu koordinasi bersama antar lintas program dan sektor dalam perencanaan program pengendalian HIV/AIDS,” tutup Yusuf.

Reporter: La Niati
Editor: Kardin

Terkini