oleh

Begini Harapan Senator Aceh Untuk Milad GAM ke 41

-FEATURED, NASIONAL-74 dibaca

ACEH – 41 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 4 Desember 1976, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pertama kalinya diproklamirkan secara resmi oleh almarhum Dr Muhammad Hasan di Tiro selaku Wali Nanggroe di Gunong Halimon, Pidie.

Kemudian pada setiap tahunnya, hari lahir atau milad GAM selalu diperingati. Skalanya semakin meluas pasca reformasi bahkan hingga kini pasca perjanjian damai dengan Pemerintah Indonesia yang berlangsung pada 15 Agustus 2005 lalu.

Mayoritas dari masyarakat Aceh terutama para mantan aktivis GAM kembali akan memperingati Milad GAM ke 41 di berbagai daerah di Aceh yang bertepatan tanggal 4 Desember 2017 ini.

Menurut Senator asal Aceh, H Sudirman atau dikenal dengan sebutan Haji Uma, Milad GAM memiliki nilai dan makna tersendiri bagi dirinya. Menurutnya, semangat perjuangan dan kerelaan diri mengorbankan kemapanan hidup pribadi demi membela Aceh yang ditunjukkan Teungku Muhammad Hasan di Tiro adalah sebuah sikap yang harus terus direproduksi dan menjadi teladan bagi seluruh masyarakat Aceh.

“Peringatan Milad GAM adalah sebuah refleksi atas perjalanan panjang dari sebuah perjuangan cita-cita kedaulatan, martabat, keadilan dan kesejahteraan rakyat Aceh,” ungkap Haji Uma, Minggu (03/12).

Dia berharap, melalui Milad GAM ke 41 yang diperingati setiap 4 Desember dapat menjadi momentum untuk menanamkan nilai dan semangat sebuah perjuangan yang dicetus almarhum Teungku Hasan di Tiro kepada generasi Aceh. Baginya, siapapun dan dimanapun, sebagai orang Aceh maka secara moral wajib untuk menyumbang pikiran dan energi sebagai kontribusi dalam membangun dan memajukan Aceh.

“Makna merdeka sebagai tujuan perjuangan, selain memisahkan diri adalah merdeka dari kesewenangan, kemiskinan dan kebodohan, merdeka menentukan apa yang terbaik bagi Aceh baik dalam bidang budaya, ekonomi, agama, pendidikan dan politik. Dalam hal ini tentu saja Aceh dalam bingkai NKRI,” ujarnya.

Selain itu, Haji Uma juga menambahkan, kondisi Aceh saat ini dimana sejumlah persoalan kerakyatan masih menyeruak dan menjadi tantangan semua pihak, terutama kemiskinan dan kesejahteraan.

“Karena itu, semangat perjuangan yang pernah tertanam harus terus tumbuh dan mekar sebagai salah satu modal sosial kita dalam mewujudkan Aceh yang makmur dan sejahtera serta bermartabat,” pungkasnya.

Redaksi

Terkini