oleh

Begini Kronologis Pemukulan Dokter Kata Direktur RS BLUD Djafar Harun Kolut

-FEATURED-274 dibaca

LASUSUA – Direktur Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Djafar Harun Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) Sulawesi Tenggara (Sultra), dokter Syarif Nur Ramli, membeberkan kronologis atas kasus pemukulan dan pengeroyokan keluarga pasien terhadap dokter Giovani Sigading, (35), dokter Spesialis anastesi yang bertugas pada Rabu malam 15 November 2017, sekitar Pukul 22:00 Wita.

“Kronologis awalnya, ketika saya terima laporan, bahwa ada pasien dokter bedah yang dirawat di Ruangan Mawar. Sesuai dengan Protap (Prosedur Tetap, red), kalau pasien yang mau operasi itu harus dilaporkan secara terencana oleh petugas di ruangan masing-masing, setelah mendapatkan instruksi dari dokter bedahnya,” ujar Syarif, Sabtu (18/11).

Lanjut Syarif menjelaskan, Pada malam harinya petugas melaporkan ke dokter anastesi dalam hal ini dokter Giovani Sigading, bahwa ada pasien dokter bedah yang akan di operasi besok harinya, namum dokter Giovani Sigading merasa tidak sesuai dengan runutan standar protap yang diberikan kepada dirinya.

Akhirnya dokter Giovani Sigading membalas menyampaikan “kenapa cara melapormu kayak begitu,” ucap Syarif dengan meniru perkataan dokter Giovani ke petugas yang juga sebagai keluarga pasien.

[ Baca juga: Terkait Penganiayaan Dokter di RSUD Kolut, IDI Kolut dan IDI Sultra Beda Persepsi ]

“Kamu kayak orang tidak berpendidikan saja, masih salah-salah melapor, kita kan butuh data lengkap (kata Giovani), itu demi keamanan pekerjaan dan keamanan pasien, dokter Giovani Sigading membutuhkan data lengkap pasien, begitu kejadiannya,” kata Syarif.

Lanjut Syarif menjelaskan perkataan dokter Giovani, agar semua Protap harus jelas dan detail ketika ada rencana pasien akan melakukan operasi. “Mau orangka, mau kambing, hewanka, anjingka,” begitu bahasa yang disampaikan kepada petugas medis itu kata Syarif.

[ Baca juga: Dokter BLUD Djafar Harun Kolut Babak Belur Dihajar Keluarga Pasien ]

“Memang kedengarannya sangat keras, dan agak kasar, tetapi bukan kerangka untuk menghina pasien, melainkan menjelaskan kepada petugas bahwa laporan harus detail,” jelas Syarif.

Dokter Spesialis Anastesi, dr. Giovani Sigading

Tambah Syarif, pasien tesebut melapor, karena merasa dokter telah memberikan respon kurang baik.

“Mungkin karena penangkapannya si petugas seperti itu, kerena orang tuanya mau dioperasi, secara pisikologis dia ada beban,” tambahnya.

Syarif kemudian mengatakan, pada saat mendengarkan kata-kata seperti itu, Petugas RS selaku keluarga pasien langsung menganalogikan bahwa orang tuanya (pasien) dihina.

Lanjut, Si petugas langsung menghubungi dokter bedahnya (dokter Widi) untuk melaporkan bahwa dirinya tidak menerima perlakuan dokter Giovani.

Setelah memerima laporan dari si petugas, kata Syarif, dokter Widi mengklarifikasi ke dokter Giovani Sigading, menayakan kenapa kejadian seperti itu bisa terjadi, dan tidak disampaikan dengan lebih baik dan beretika.

Mendapatakan laporan seperti itu, dokter Giovani Sigading langsung mendatagi petugas tersebut untuk mengklarifikasi laporan yang masuk pada dirinya oleh dokter Widi.

Setelah itu, Giovani dan petugas adu argumentasi, semua bertahan dengan pendapatnya masing-masing dan terjadilah adu mulut. Pada saat adu mulut keluarga pasien yang berada di tempat itu, langsung terpancing emosi dan akirnya dokter Giovani menghindar keruangan internal.

Ketua IDI Kolaka Utara, dr Syarif Nur Ramli. (Foto: Ady Arman)

“Tapi keluarga pasien tetap mengikuti dari belakang dan di situ pemukulan dan pengeroyokan terjadi. Ada saksi yang melihat pada saat kejadian itu yaitu dokter bedah (dr Widi, red),” ujarnya.

Atas kejadian itu, Syarif sangat kecewa, terlebih lagi kejadian itu di Rumah Sakit, yang dilakukan terhadap oknum petugas kesehatan terhadap dokter.

“Jadi saya sangat sesalkan sekali, tapi kembali pada perkataan saya, saya inginkan kasus ini dapat diselesaikan dengan baik,” katanya.

Ia mengatakan, ini menjadi pembelajaran bagi siapa saja, terutama kepada dokter, petugas kesehatan agar menjaga komunikasi yang efektif dan etis kedapa siapapun juga.

Mengajarkan kepada keluarga pasien, Masyarakat umum bahwa dokter harus taat hukum normatif dan jika ada masalah tidak harus dengan penyelesaian seperti konfrontasi atau main hakim sendiri karena telah ada hukum yang mengatur.

“Kasihan kami disini di Rumah Sakit kalau tidak ada penyelesaian. Karena kalau hal ini dibiarkan akan menjadi penilaian buruk untuk Rumah Sakit ini dimata dokter-dokter yang lain dan tidak ada lagi nantinya dokter yang mau bertugas di Kolut,” keluhnya.

Tambahnya, kasus yang menimpa dokter Giovani telah ditangani pihak Kepolisian Polres Kolut, namun pada perinsipnya kalau malasah tersebut dapat diselesaikan secepat mungkin dan tidak merugikan pihak-pihak lainnya.

“Kami membuka jalan kearah itu. Akan tetapi kasus ini sudah dipantau IDI (Ikatan Dokter Indonesia, red) Wilayah Sultra dan IDI Pusat. Bahkan institusi profesi dokter anastesi,” tambahnya.

Sementara itu, korban pengeroyokan, dokter Giovani Sigading, menyayangkan kejadian tersebut yang seharusnya pihak pasien dapat bekerjasama dengan baik walaupun ketika ada masalah.

“Saya juga tadi sudah ketemu dengan Direktur RS BLUD Djafar Harun untuk sementara saya akan evakuasi pribadi menghindari terjadi insiden lanjutan, itu yang saya khawatirkan, dan saya juga mau ke luar kota untuk memeriksa CT Scan di kepala, kerena saya masih merasa nyeri pada kepala bagian belakang,” ujar Giovani.

Ia juga menjelaskan, ada beberapa bagian ditubuhnya yang lecet yakni di punggung bagian belakang dan jari tangan, kemudian luka lebam di telinga sebelah kanan dan luka di punggung disertai nyeri pada kepala bagian belakang.

Reporter : Ady Arman
Editor: Kardin

Terkini