oleh

BI : Ekonomi Sultra Tetap Tumbuh Kuat di Tengah Ketidakpastian Global

KENDARI – Perekonomian dunia diperkirakan akan terus mengalami pertumbuhan yang positif didorong oleh pemulihan ekonomi Amerika Serikat, meskipun perekonomian kawasan Eropa dan Jepang diperkirakan akan mengalami moderasi pertumbuhan.

Pemulihan ekonomi mendorong sejumlah negara melakukan normalisasi kebijakan moneter yang dampak rambatannya perlu terus diwaspadai terutama terhadap stabilitas pasar keuangan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara, Minot Purwahono saat ditemui di salah satu hotel kota Kendari, Rabu (29/8).

Dia mengatakan, meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dipicu oleh ketegangan perdagangan antara AS dengan sejumlah negara. Saat ini, ketidakpastian global telah memicu pembalikan arus modal dari negara berkembang kembali ke negara maju.

“Bank Indonesia terus melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya, serta menjaga bekerjanya mekanisme pasar dan didukung upaya-upaya pengembangan pasar keuangan,” ujarnya.

Katanya, di tengah ketidakpastian global, perekonomian Indonesia mengalami peningkatan cukup signifikan dari 5,06% (yoy) pada triwulan I 2018 menjadi 5,27% (yoy) pada triwulan II 2018. Pertumbuhan tersebut didorong oleh membaiknya perekonomian di wilayah Sumatera, Kalimantan dan Maluku-Papua serta didukung oleh masih kuatnya ekonomi Jawa dan Sulawesi.

“Pertumbuhan ekonomi yang baik tersebut juga didukung oleh tingkat inflasi yang terus terjaga dan sesuai dengan target nasional,” imbuhnya.

Dia menuturkan, dari sisi perkembangan harga, inflasi tahunan Sulawesi Tenggara berada dalam tren yang menurun yang disebabkan oleh based effect point . Sementara itu, inflasi bulanan kembali mengalami peningkatan dengan komoditas ikan segar, sayuran dan angkutan udara menjadi penyumbang utama.

“Sampai akhir 2018, perekonomian Sulawesi Tenggara diperkirakan akan tumbuh positif dengan capaian diatas nasional. Namun pertumbuhan tersebut cenderung bias ke bawah, disebabkan oleh faktor eksternal,” ucapnya.

Dia menambahkan, ke depan perlu dilakukan upaya-upaya peningkatan ekspor untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara yang berkelanjutan. Ketergantungan ekspor pada komoditas pertambangan mendorong urgensi pengembangan ekspor komoditas non tambang.

“Adapun sektor yang dapat didorong ekspornya antara lain pertanian dan perikanan. Peningkatan ekspor tersebut pada akhirnya juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tutupnya.(a)


Reporter : Waty

Terkini