Cadangan Fosil Tinggal 12 Tahun, Masyarakat Didorong Bangun Listrik Mandiri

Reporter: Muh. Ardiansyah
Editor: Kang Upi

KENDARI – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Sultra membuka ruang investasi energi terbaru bagi masyarakat dan kalangan swasta.

Kepala Balitbang Sultra, Sukanto Toding menyatakan ruang investasi energi terbaru di bidang energi listrik mendorong pelibatan masyarakat dan UMKM dengan tingkat konsumsi listrik rutin, program ini kedepan akan bekerjasama dengan Perusahan Listrik Negara (PLN).

“Masyarakat didorong untuk bersama menekan konsumsi energi fosil dalam produksi listrik. alternatifnya adalah bisa memakai rooftop, mereka bisa menyediakan sendiri alatnya selanjutnya akan ada suport dari PLN, konsepnya saling subtitusi,” terang Sukanto saat ditemui MEDIAKENDARI.com, Jumat, (6/12/2019).

Menurutnya, mendorong masyarakat agar ikut dalam program pembangunan sumber listrik secara mandiri lewat Pusat Listrik Tenaga Surya (PLTS ) atau PLTS Rooftop adalah satu dari sekian skema pemerintah menekan pemakaian energi fosil.

Selain itu, Pemerintah menilai langkah ini sangat penting mengingat cadangan energi tak terbarukan (energi fosil) di Indonesia kian menipis.

Riset terkini bahkan menyebutkan bahwa cadangan energi fosil dalam negeri hanya bertahan hingga 12 tahun mendatang.

Bukan hanya karena konsumsi besar, kata Sukanto, energi fosil seperti minyak bumi dan batu bara Indonesia terkuras cepat lantaran ekspor besar-besaran.

“Listrik kita masih andalkan fosil. PLTU kita di Nii Tanasa bahan bakunya adalah fosil, batu bara. Kalau kita terus menguras energi fosil akan habis. Makanya mesti ada gerak cepat bagaimana mengedukasi agar masyarakat beralih ke energi terbarukan lewat PLTS atap,” jelasnya

Selain PLTS Rooftop, lanjut Sukanto ada banyak model investasi energi terbarukan yang bisa diadopsi. Diantaranya, pembangunan listrik tenaga air untuk daerah dengan potensi sumber daya air.

Baca Juga :

“Di Bombana sangat cocok untuk ini, banyak potensi sungai di sana, kelompok masyarakat bisa mengupayakan pembangunan PLTA sederhana secara mandiri yang nantinya berkolaborasi dengan PLN,” pungkas Sukanto.

Provinsi Sultra sendiri dinyatakan tidak masuk dalam provinsi prioritas penerima bantuan rooftop listrik tenaga surya oleh Kementrian ESDM tahun 2020 mendatang.

“Inilah mengapa Balitbang Sultra mendorong masyarakat secara mandiri ikut dalam program investasi PLTS Atap dengan sistem kolaborasi dengan PLN,” ujarnya.

Dengan mengikuti program ini masyarakat secara langsung turut berpartisipasi aktif menekan konsumsi energi fosil yang depositnya kian menipis di perut bumi.