oleh

DKP dan WWF Indonesia Ungkap Masalah Produksi Rumput Laut di Wakatobi

WAKATOBI – Produksi Rumput Laut Jenis Eucheuma Cottoni di Kabupaten Wakatobi beberapa tahun terakhir menurun produksinya, terjawab sudah dengan adanya kerjasama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Waktobi dan WWF Indonesia yang mendatangkan ahli untuk dilakukan penelitian.

Budidaya rumput laut jenis Eucheuma Chotoni di Kabupaten Wakatobi sudah dilakukan sekitar tahun 80-an dan mulai menurun sekitar tahun 2011 lalu.

Hal tersebut, mendorong Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Wakatobi menjalin koordinasi dengan pihak WWF Indonesia mendatangkan ahli untuk melakukan penelitian penyebab menurunnya hasil produksi rumput laut jenis cottoni.

Hasilnya di sosialisasikan oleh WWF bersama DKP dan Balai Taman Nasional (BTN) Wakatobi pada Rabu (29/8) kemarin di Hotel Wakatobi, yang melibatkan para petani rumput laut di Kabupaten Wakatobi.

Perwakil WWF Indonesia yang terlibat selama proses penelitian, Muhammad Yusuf mengungkapkan, turunnya produksi Eucheuma Cottoni, disebabkan kandungan nutrien yang dibutuhkan rumput laut jenis cottoni tidak lagi tercukupi.

“Sudah tiga kali program yang cukup besar dari WWF Indonesia yang sifatnya nasional yang pertama, tiga tahun lalu, untuk melihat metode budidaya kenapa bisa turun, setelah diskusi ternyata cara budidayanya normal seperti biasa bahkan ada perbaikan tapi masih gagal. Tahun berikutnya kita melakukan pengadaan kebun bibit dari kultur jaringan dan itu skala penelitian dan biayanya mahal namun tetap tidak mampu di atasi kegagalan panen dan penyakit pada rumput laut,” ucapnya.

“Kemudian di tahun ketiga ini kami melakukan kajian Carryng capacity istilahnya, dukungan lingkungan, sejauh mana faktor-faktor lingkungan mendukung perkembangan rumput laut jenis cottoni di Wakatobi, hasilnya nutrien sangat kurang tidak sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan rumput laut,” papar Muhammad Yusuf, 29 Aguatus 2018, kepada Mediakendari.com.

Penyebabnya, selain karena kurangnya curah hujan, juga karena proses perputaran arus yang hanya dari arah barat dan timur.

“Sumber nutrien itu ada beberapa, pertama dari laut sendiri namun itu sangat sedikit. Kemudian input bahan-bahan nutrien dari darat biasanya dari aliran sungai atau hujan, kalau curah hujan tinggi biasanya kandungan nitrogen bagus. Atau sebaiknya dilokasi tak jauh dari tempat budidaya ada tempat peternakan. Kotoran sisa atau bahan organik dari peternakan akan menjadi sumber nutrium ketika dilalirkan oleh hujan ke laut,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala DKP Wakatobi, Oktawinus mengatakan, kehadiran BTN, WWF dan DKP belum akan cukup dalam menangani hal ini. Butuh kerjasama semua pihak dalam hal ini Dinas Peternakan, Pertanian dan lainnya untuk mendukung potensi budidaya rumput laut di Wakatobi.

“Kita harus berkolaborasi untuk mensinergikan kekuatan dalam menciptakan petani rumput laut sebagai komoditi unggulan yang menjadi sumber pendapatan ekonomi masyarakat,” tuturnya.

Pihaknya bahkan akan membuat program Demonstration Plot (Demplot) atau uji coba mengenai rekomendasi ahli berdasarkan hasil riset tersebut untuk pengembangan kembali tanaman andalan para nelayan Wakatobi itu.(a)


Reporter : Syaiful

Terkini