oleh

Etika dan Berkomunikasi di Media Sosial Secara Aman dan Nyaman

 

Redaksi

MINAHASA SELATAN – Rangkaian Literasi Digital ‘Indonesia Makin Cakap Digital’ di Sulawesi yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siber Kreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 14 Juni 2021. Kolaborasi ketiga Lembaga ini diselenggarakan khusus pada penyelenggaraan Literasi Digital pada wilayah Sulawesi Utara. Sebagai kegiatan pembuka, menghadirkan beberapa narasumber di antaranya, Firji Eprilla Teresa Massie selaku Konten Kreator; Melki M.I Kumaat selaku PP Ikatan Doktor Ilmu Komunikasi IDIK Undap; Irwan selaku Konten Kreator dan Massive Open Online Courses; dan Daniel Tampi selaku Pegiat Industri Kreatif. Kegiatan kali ini memiliki tema yaitu ‘Aman dan Nyaman dalam Bermedia Sosial’ dan diikuti oleh 532 peserta.

Narasumber pertama yang menyampaikan materinya adalah Firji Eprilla Teresa Massie dengan materi ‘Digital Skill’. Firji memaparkan pentingnya memiiliki keterampilan digital (digital skill), seperti berpikir lebih cepat, mendapatkan banyak wawasan, selalu terhubung, menjadi lebih aman, dan dapat mempengaruhi orang lain. Devie mengatakan, “Tujuan kita bermedia sosial adalah membagikan sesuatu. Bagaimana hal ini dapat memengaruhi dan membawa dampak positif bagi orang lain yaitu adalah dengan kemampuan sosial digital marketing yang baik.” Pada kesempatan tersebut, Firji juga membagikan hal-hal apa saja yang dibutuhkan agar seseorang memiliki keterampilan digital serta tips-tips dalam membuat konten internet.

Narasumber kedua adalah Melki Kumaat yang memberikan materi mengenai “Pentingnya Etiket di Media Sosial.” Pada awal sesi, Melki membagikan pengalaman pribadinya perihal temannya yang mengunggah percakapan di antara mereka ke media sosial tanpa izinnya. Ia menyebut kasus tersebut merupakan salah satu contoh dari banyaknya pengguna media sosial yang masih kurang literasi, seperti kurangnya etika dalam menggunakan media sosial. Untuk mengatasi hal tersebut, kata dia, perlu diberlakukan netiket. Melki menjelaskan bahwa netiket merupakan etika yang kita gunakan saat sedang menggunakan internet. Tujuannya untuk mengatur pengguna internet agar dapat berlaku sesuai norma yang ada. Netiket ini berlaku untuk pengguna internet yang sedang berinteraksi dengan pengguna internet lainnya, tapi apabila seseorang hanya sekadar menjelah internet, maka netiket tersebut tidak berlaku.

Menurut Melki, berkomunikasi di dalam media sosial dan kehidupan nyata adalah sama. Persamaan tersebut terletak pada nilai Pancasila yang berguna sebagai pedoman yaitu saling menghormati dan menghargai. Oleh karena itu, Melki berpesan agar sebagai pengguna media sosial, kita harus mengetahui batasan-batasan yang berlaku.

Narasumber ketiga adalah Irwan yang memberikan materi mengenai gambaran umum media sosial. Menurut Irwan, pada zaman sekarang, kita berada pada kehidupan yang hibrid. Hal ini tercermin seperti saat sedang kumpul bersama, seringkali orang memegang gawainya masing-masing. “Mungkin terdapat orang yang tidak menyukai hal tersebut, namun kita harus menyadari bahwa zaman semakin berkembang sehingga kasus seperti itu tidak dapat terhindarkan,” tukasnya.

Kemudian, semakin berkembangnya zaman, lanjut Irwan, maka kecanggihan teknologi pun ikut berkembang. Ia memberikan salah satu contohnya, yaitu munculnya aplikasi ojek daring. Berbeda dengan ojek pangkalan, ojek daring ini lebih praktis karena memudahkan penggunanya untuk memesan ojek di manapun dan kapanpun. Selanjutnya, Bang Irwan memberikan tips-tips untuk mengatasi perkembangan teknologi tersebut.

Narasumber terakhir Daniel Tampi memberikan materi mengenai keamanan digital. Keamanan digital adalah kemampuan untuk melindungi diri saat kita terhubung melalui perangkat digital. Perangkat digital ini dapat berupa internet, media sosial, dll. Ancaman keamanan digital tersebut terdiri dari kebocoran data, pornografi, dan perundungan siber. Kemudian, Daniel menjelaskan tentang hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menghindari hal-hal tersebut, seperti tidak menggunakan kata sandi yang tidak berhubungan dengan data pribadi, selektif dalam menerima pertemanan di media sosial, memverifikasi berita sebelum dibagikan, dan meminimalisasi penggunaan wifi gratis.

Daniel memaparkan beberapa tipe kejahatan siber. Pertama, pencurian data pribadi melalui teknik pengelabuan (phishing). Kedua, kelumpuhan sistem karena serangan Ddos sehingga pengguna tidak akan bisa mengakses layanan dari laman atau server tersebut karena penuh lalu lintas di dalam lama ataupun server. Terakhir, pembajakan situs laman oleh serangan kerusakan laman (web deface).

Kegiatan Literasi Digital mendapatkan apresiasi dan dukungan dari semua pihak karena menyajikan konten dan informasi yang baru, unik, dan pastinya mengedukasi para peserta webinar. Kegiatan Literasi Digital ini disambut positif oleh masyarakat khususnya Sulawesi.

Seperti yang disampaikan oleh salah seorang peserta, Faruqi Al Ghiffari, yang menanyakan bagaimana cara kita memberitahu orang yang membuat konten abal-abal dan selalu mengulangi perbuatannya tersebut. Menurut Firji, kita dapat mengatasinya dengan cara memfilter video-video tersebut di pengaturan aplikasi sehingga tidak kembali muncul pada beranda aplikasi. Pada webinar ini, tiap penanya terbaik mendapatkan voucher uang elektronik sebesar Rp 100.000 untuk 10 penanya terbaik.

Kegiatan Literasi Digital ‘Indonesia Makin Cakap Digital’ di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan materi yang informatif yang pastinya disampaikan oleh para narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.

Terkini