Hari Pers Nasional dan Resolusi untuk Pariwisata Indonesia

Oleh: Sari Lenggogeni

Direktur Pusat Studi Pariwisata Universitas Andalas & Staf Ahli Pokja Pariwisata Komite Ekonomi dan Industri Nasional Republik Indonesia

Sumbar akan menjadi host Hari Pers Nasional (HPN) 2018. Peristiwa ink tentu akan jadi berita gembira, mengingat benefit dan dampak positif yang akan dihasilkan dari iven yang berkategori Meeting Incentive Conference dan Exhibition (MICE) ini. Namun, HPN bukan sekedar iven MICE biasa, dampak samping yang dihasilkan tidak hanya diasumsikan akan membawa kunjungan 6000 wisatawan (domestik) serta internasional, dampak terhadap industri perhotelan, kuliner, ekonomi kreatif, dan beberapa indirect effect lainnya akan ikut terangkat pula.

Video Jendela Sepekan 6 September 2020

Mari kita telaah. HPN, dengan segmentasi media yang menjadi bagian dari stakeholders pariwisata Akademis-Bisnis-Goverment-Community dan Media (ABGCM), jelas punya peranan penting, yaitu; “media sebagai driver dari perilaku”(wisatawan, investor, pemerintah dan masyarakat). Media sebagai sumber informasi eksternal bagi stakeholders pariwisata, merupakan tools yang memiliki peran besar dalam mengubah atau menciptakan persepsi, positif ataupun negatif, dan bisa pula berperan sebagai penangkal persepsi resiko, bahkan bisa menjadi kontributor persepsi resiko yang merupakan driver perilaku stakeholders pariwisata.

Dari hasil penelitian yang dilakukan Tourism Development Centre Andalas University dan Lenggogeni ( 2015, 2016, 2017); wisatawan internasional sepakat menyatakan Indonesia darurat sampah, misalnya. Upaya dinas pariwisata kabupaten kota tidak akan cukup hanya dengan memberantas sadar bersih wisata untuk wisatawan, sehingga memont ini harus bisa menjadi deklarasi utama dalam HPN yang akan dihadiri Presiden Jokowi nantinya.

Penelitian terkait mengungkapkan bahwa, pro enviromental behavior wisatawan domestik menjadi catatan utama yang harus dituntaskan bersama. Sebuah media televisi Australia, baru baru ini mengekspos upaya Kemenpar menambah Bali baru, justru mendapat respon negatif oleh para netizen Australia. Indonesia dipersepsikan sebagai negara yang kotor, perilaku masyarakatnya tidak pro lingkungan, minimnya sanitasi air bersih dan lainnya. Kasus ini adalah salah satu contoh nyata kontemporer terkait peran media terhadap sebuah destinasi.

Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi peranan media menciptakan persepsi positif dalam menggerakkan behavior masyarakat agar sadar bersih wisata akan menjadi point penting dalam mem-breakdown program dan aktivitas HPN.

Sejatinya ada banyak masalah yang membentang di tengah relasi media dan pariwisata. Terlepas dari itu semua, menurut hemat saya, ada 4 sasaran yang dapat dicapai pada 4 target stakeholders terkait dengan HPN:

1.Media dan Visitor

Media adalah salah satu driver utama peningkatan jumlah pergerakan wisatawan nusantara yang pro lingkungan. Dalam konteks peningkatan jumlah visitor melalui upaya branding dan strategi komunikasi pemasaran media HPN-Melalui media nasional, maka HPN diharapkan mampu menstimulasi pergerakan wisnus pada daerah tujuan wisata di Indonesia Bagian Barat. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan ekposure destinasi yang dapat dikategorikan sebagai mass tourism destination, seperti daerah urban destination. Untuk eksposure destinasi berbasis alam atau heritage, eskpos media diimbangi dengan gerakan proteksi destinasi agar tidak terjadi kehancuran destinasi.

Pemerintah diharuskan untuk tidak hanya fokus pada jumlah kunjungan, tetapi melakukan strategi proteksi destinasi agar destinasi bisa berkelanjutan. Aktivitas bisa mengarah pada lomba penulisan wisata urban, suistanable tourism pada destinasi alam dan heritage, dan edukasi pembaca untuk wisata minat