Saharuddin, Bakal Calon Bupati Muna Periode 2021-2026. (Foto: Istimewa)

‘Ribut Soal Baliho’ di Muna, Bakal Calon Bupati Ini Ikut Berkomentar

Reporter : Rahmat R

KENDARI – Bakal Calon Bupati Muna periode 2021-2026, Saharuddin, ikut berkomentar soal ribut-ribut baliho jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Muna, tahun 2020 mendatang.

Kata Dosen Institut Pertanian Bogor ini, Persoalan baliho “Mai Te Wuna” yang sedang ramai dibahas, sebetulnya bukan hal prinsip. Menurutnya, hal seperti itu, mengkutip tagline, sudah lazim, tentu, karena tagline tersebut menarik dan didukung.

“Sama halnya dengan tagline “Visit Indonesian Year”, sangat dianjurkan untuk dikutip, dan disebarluaskan biar semakin bergema di berbagai lapisan masyarakat dan semakin melembaga serta berdampak positif,” katanya melalui WhatsApp, Jumat (30/08/2019).

Saharuddin menyebut, persoalan baliho tidak perlu dikhawatirkan. Sebaliknya juga, tidak perlu pihak lain, apalagi pejabat dari daerah lain masuk ke wilayah daerah tertentu di luar wilayah kekuasaan/kebijakannya.

“Lebih baik mereka fokus pada tugasnya mengurus rakyatnya. Saya melihat persoalan baliho di Muna semata-mata hanyalah pertanda sedang terjadi gejala kepanikan elit politik secara kolektif yang telah berlangsung lama, dan terjadi secara sistematis di pulau Muna,” jelas pria asal Wakuru ini.

Menurutnya, kepanikan kalangan elit berimbas pada masyarakat menengah, khususnya aparatur pemerintahan level menengah, yang dengan mudah menempuh cara eksodus ke daerah lain termasuk pindah ke Kendari.

Ini sekaligus mengkonfirmasi bahwa penyelenggaraan pemerintahan di Muna, sedang tidak kondusif bagi aparatur, dan bagi pembangunan di Kabupaten Muna.

“Malah saya lebih menyarankan agar kedua daerah, antara Muna dan Muna Barat secara bersama menciptakan ruang kolaboratif dan bersinergi untuk mengelola komoditas unggulan dan strategis sehingga bermanfaat bagi masyarakat di kedua kabupaten,” ungkap Saharuddin.

Kata dia, terkait persaingan tidak sehat antar elite poilitik lintas kabupaten, “saudara kandung” hanya akan merugikan masyarakat di pulau Muna secara keseluruhan.

“Sekali lagi bahwa penciptaan ruang kolaboratif lebih penting dari pada urusan memperseterukan Baliho,” tandasnya. /B

error: Content is protected !!