oleh

“Ini Baru Dua Hari Jembatan Teluk Kendari Diresmikan, Kita Ini Sudah Banyak Yang Nganggur…..,”

-NEWS-9.388 dibaca

Reporter: Febi Purnasari

KENDARI – Tahun ini nampaknya menjadi momen terberat dalam rangkaian kisah perjalanan hidup Samsudin (73), pria paruh baya warga Kelurahan Lapulu, Kecamatan Lapulu, Kota Kendari.

Belum hilang benar kesedihan mendalam atas kepergian istri tercintanya akibat terpapar wabah corona pada tiga bulan silam, Samsudin kembali diterpa ujian berat dalam hidupnya.

Dia harus kehilangan pekerjaan yang menjadi tumpuan hidup sejak tahun 1967 sebagai ojek perahu di Teluk Kendari. Pekerjaan yang dilakoninya sejak masa muda itu kini tidak bisa lagi menjadi harapan.

Ditengah masa senjakala-nya, dalam kesendiriannya setelah istri cintanya kembali pada sang khaliq, Samsudin, dipaksa memutar otak agar bisa ‘sekedar hidup’ disaat fisiknya tidak lagi prima.

***

Saya menemui Samsudin beberapa hari lalu, disudut pangkalan perahu di pesisir Teluk Kendari tidak jauh dari Pasar Sentral Lapulu. Menjelang tengah hari saat matahari bersinar terik, dia menunggu calon penumpang yang tidak jua datang.

Kepada saya, dia menceritakan rangkaian kesedihan yang silih berganti, justru disaat dirinya tengah berjuang melupakan kesedihan atas wafatnya sang istri, yang menemani hidupnya sejak puluhan tahun silam.

Karena Jembatan Teluk Kendari (JTK), kata Samsudin, sejak adanya jembatan itu dirinya bersama 20-an orang pengojek perahu di Teluk Kendari harus kehilangan pekerjaan dan sekaligus penghasilan.

“Ini baru dua hari orang lewat disana itu (baca: diresmikan), kita ini sudah banyak yang nganggur. Itu (sambil menunjuk sejumlah perahu) sudah banyak mi yang tidak turun,” kata Samsudin.

Pengojek perahu di Teluk Kendari disebut juga papalimbang. Ini adalah panggilan sehari-hari untuk para penjaja jasa penyebrangan menggunakan perahu bermesin tempel, yang konon telah ada sejak zaman belanda.

Siang itu kepada saya, Samsudin menceritakan nasib dirinya bersama puluhan rekan papalimbang lainnya yang ini kehilangan harapan, bahwa pekerjaan yang dilakoni itu bisa masih bisa jadi tumpuan.

Menurutnya, banyak rekan seprofesinya kini bekerja serabutan setelah tahu keberadaan papalimbang sudah dianggap tidak dibutuhkan lagi di Teluk Kendari, setelah JTK diresmikan presiden Jokowi.

Samsudin juga menjelaskan, meski ada sedikit yang memilih bertahan seperti dirinya, itu karena tidak tahu lagi harus kemana dan bekerja apa. Sebab, fisik sudah tidak lagi mumpuni untuk dipaksa bekerja.

Dalam posisinya kini, Samsudin mengaku hanya bisa mengelus dada untuk urusan penghasilan sebagai papalimbang. Disebutkanya, JTK yang mengangkangi Teluk Kendari itu telah merenggut setengah lebih dari penghasilan sehari-harinya.

“Saya dari tadi pagi ini baru dapat Rp 50 ribu. Padahal biasanya kalau sebelum ada ini jembatan, lancar-lancar saja, malah kadang sampe Rp 300 ribu sehari,” ungkap Samsudin, sembari menunjukan selembar uangnya.

Untuk mentaktisi keadaan dalam menutupi kebutuhan BBM katinting yang muatannya tidak pernah lagi penuh lagi, dirinya bersama rekan papalimbang lainnya terpaksa menaikan ongkos sewa.

“Ya terpaksa kita naikkan harga sewanya, yang tadinya hanya Rp 5 ribu, sekarang jadi Rp 10 ribu. Karena kalau tidak begitu, kita juga rugi kalau hanya satu dua orang satu kali antar,” terangnya.

Meski menurun dari jumlah biasanya, namun Samsudin mengaku bersyukur karena penghasilannya itu masih cukup untuk makan sehari-hari, tanpa harus meminta-minta dijalan.

Jika masih ada sisa dari ongkos makan dan rokoknya, dirinya menyisahkannya sedikit untuk disimpan, dicelengan yang disiapkanya di rumahnya. “Jaga-jaga kalua nanti ada kerusakan mesin,” katanya.

***

Tidak ingin melarutkan Samsudin dengan kesedihan atas nasibnya kini, saya mengajaknya bernostalgia masa mudanya ketika mengawali pekerjaan sebagai pengojek perahu di tahun 1967.

Menurutnya, papalimbang dahulu adalah pekerjaan yang menjanjikan diawal tahun 60-an hingga 2000-an. Bahkan, dibangunnya pasar di pesisir Teluk Kendari membuat kebutuhan jasa papalimbang meningkat.

Nampak tergurat jelas di memori Samsudin, saat dirinya bersama rekan papalimbang lainnya bersaing berburu rejeki, mengantarkan penumpang dari satu sisi Teluk Kendari ke sisi lainnya.

“Dulu ini paling lancar dua jalur, sekarang tinggal dibagian sana (sambil menunjuk arah Pelabuhan Sanggula) dulu orang sebut itu pantai biru,” kata Samsudin, sambil menunjuk ke arah pesisir di sisi teluk bagian sebrang.

Diceritakannya, dari pekerjaanya sebagai papalimbang inilah dirinya bisa menikahi dan menghidupi istrinya, yang darinya telahdilahirnya tujuh anaknya yang saat ini seluruhnya telah berkeluarga.

Samsudin juga mengungkapkan, jika penghasilan paplimbang merosot bukan dimulai saat diresmikannya JTK, tapi jauh sejak pembangunan jembatan terpanjang ketiga di Indonesia itu dimulai.

Pasalnya, tiang pancang proyek jembatan telah menutup satu dari dua jalur utama yang dilewati papalimbang, untuk mengantarkan penumpang emak-emak yang berbelanja di Pasar Sentral Kota.

“Selama ada ini jembatan, itu kan disana (sambil menunjuk kearah Tabaci) itu yang tembusannya gunung potong sudah tertutup mi disana (sekarang macet total), jadi sekarang tinggal di Pelabuhan Sanggula,” ujarnya.

Disela nostalgia bercerita tentang masa mudanya, Samsudin bercanda, dengan menyebut jika dirinya seorang PNS, maka dirinya saat ini sudah pensiun dan menikmati hari tua dengan santai.

Namun apa daya, diusianya sudah sungguh mulai menua, dirinya masih harus berjibaku dengan pekerjaan kasarnya, hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya.

***

Kepada saya, Samsudin juga menceritakan perihal istrinya yang telah meninggal dunia dengan diagnosis terpapar pandemi covid-19, pada tiga bulan silam tepatnya diawal Agustus 2020.

Dengan mata berkaca-kaca, Samsudin mengaku dirinya sudah ikhlas dengan apa yang menimpa istrinya, karena sudah menjadi takdir Ilahi yang digariskan untuk belahan jiwanya itu.

Namun, tidak bisa dipungkiri masih ada kesedihan mendalam yang dirasakan Samsudin, karena tidak diberikan kesempatan untuk mengantarkan belahan jiwanya itu ke peristirahatan terakhirnya.

“Sekitar tiga bulan lalu istri saya meninggal dunia. Padahal sakitnya itu sudah lama, hanya sakit biasa tapi dari rumah sakit langsung dibilang kena corona, saya sedih sekali,” tuturnya.

Samsudin mengaku, dirinya hanya bisa mengantar jenasah istrinya dengan doa, karena harus menjalani isolasi mandiri di rumah, akibat diagnosis paparan covid-19 yang menimpa istrinya.

“Dari rumah sakit karena sudah meninggal, langsung di shalatkan disana. Saya tidak ketemu, hanya anak-anakku saja,” ungkapnya.

Terkini