oleh

Inilah Penyebab Bahasa Daerah di Sultra Mulai Ditinggalkan Penuturnya

Redaksi

KENDARI – Peran bahasa daerah sebagai bahasa ibu di Indonesia sangat strategis sebagai bagian dari budaya dan dari jati diri bangsa. Namun seiring perkembangan teknologi bahasa daerah mulai ditinggalkan penuturnya, di Sultra misalnya dari sembilan bahasa daerah yang ada beberapa diantaranya mulai ditinggalkan penuturnya.

Peneliti bahasa dari Kantor Bahasa Sultra, Firman A.D. mengatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberadaan bahasa daerah di Sultra kurang dipakai.

Pertama adanya kecenderungan di masyarakat terutama generasi muda yang enggan menggunakan bahasa daerah. Kedua bahasa daerah tidak bisa digunakan dalam perbincangan soal ekonomi, ketiga tidak diwariskanya bahasa daerah dari orangtua kepada anaknya.

Dikatakan, kesembilan bahasa daerah itu masing bahasa Moronene, bahasa Tjulanbacu di perbatasan Konawe Utara dengan Kabupaten Morowali, bahasa Kulisusu di Ereke, Buton Utara, bahasa Muna, bahasa Wolio, Bahasa Ciacia di Kabupaten Buton, bahasa Lasalimu di Kabupaten Buton bagian Utara dan bahasa Wakatobi.

Menurut bahasa yang penuturnya makin sedikit adalah bahasa Tjulanbacu, saat ini mereka berada di lima desa di Konawe Utara dan sebagian berada di Morowali. “Itu juga berada di daerah agak ke pelosok kampung,” terangnya.

Faktor lain, sehingga bahasa daerah keberadaanya makin terdesak adalah kurangnya perhatian pemerintah. “Terus terang Pemkab kurang peduli kelestarian bahasa daerah, malahan terkesan dianak tirikan,”jelasnya, kepada Media Kendari.Com,via watshap, Rabu 3 Juni

Ia menjelaskan, saat ini DPRD provinsi sedang merancang peraturan daerah tentang pelestarian bahasa daerah. “Rancangan perda ini merupakan inisiatif DPRD provinsi, mudah-mudah setelah perda terbentuk bisa diikuti pemerintah kabupaten di daerah,” ungkapnya.

Ditanya solusi pelestarian bahasa daerah melalui pendidikan di sekolah, Firman menambahkan salah satu program yang telah dilaksanakan adalah menerapkan pelajaran bahasa daerah di sekolah dasar melalui pendidikan muatan lokal (mulok).

Hanya saja, dia menilai belum efektif karena ada beberapa sekolah guru yang mengajar tidak menguasai bahasa daerah atau daerah guru bidang study lain. “Kendala penerapan mulok adalah masaalah SDM dan infrastruktur,” ungkapnya.

Terkini