oleh

Ketua DPRD Konawe : Pilkada Konawe Gaya Barat Rasa Lokal

-FEATURED-68 dibaca
Ketua DPRD Konawe : Pilkada Konawe Gaya Barat Rasa Lokal

UNAAHA, MEDIA KENDARI.COM – Ketua DPRD kabupaten Konawe, Gusli Topan Sabara mengungkapkan bahwa di tanah kerinduan ini, Kabupaten Konawe tidak ada yang namanya terkhusus tahun politik.

Menurut dia, intinya semua tahun sama seperti setiap tahun tahun yang lainnya.

” Jadi tidak ada yang namanya tahun politi, tahun ini,  itu adalah tahun untuk siap bekerja bagi negara, terkhusus di kabupaten Konawe yang kita cintai ini,” ujarnya, saat dimintai tanggapannya terkait pandangan politiknya seputar pemilukada Konawe.

Tak terasa perhelatan pesta demokrasi tak lama lagi berkumandang di Konawe. Apalagi tahun ini dan tahun 2018 nantinya merupakan tahun politik? Bagaimana menyikapinya?

“Saya pikir para politisi kita secara keseluruhan adalah keluarga besar kita. Sehingga kita ingin perhelatan di tahun depan itu, kita tetap menggunakan sistem demokrasi barat tetapi dengan rasa lokal konawe yang menjunjung tinggi kebersamaan, kekeluargaan dan persaudaraan kita,” kata Ketua DPD PAN Konawe.

Gusli Topan Sabara

Gusli sendiri telah digadang-gadang bakal berpasangan dengan petahana Konawe, Kery Saiful Konggoasa.

Mendengar pertanyaan tersebut, dia hanya tersenyum sambil mengatakan bahwa Politik itu sama halnya ada kemungkinan- kemungkinan.

” Jadi biarkan saja berkembang. Dan insya allah,  kalau semakin banyak alternatif, maka itu yang mananya politik sehat untuk masyarakat Konawe,” ungkapnya

Gusli menerangkan, bahwa tema CINTA We Love Konawe yang selama ini digaungkan, itu berasal dari kata rasa. Yang mana cinta itu berawal dari diri kita sendiri dulu. Dan kalau tidak ada rasa cinta maka, tidak akan pernah ada yang namanya ketulusan.

Karena dengan keiklasan setiap orang, maka apapun yang dikerjakan akan selalu tulus dalam berbuat dan bekerja.

“Jika tidak ada cinta  dan keiklasan maka, itu tidak akan pernah maksimal dalam bernegara yang sifatnya mengelolah daerah kita dan kemudian di hadapan Allah swt,” ucap Gusli menerangkan makna cinta dan ikhlas dalam bekerja baik dalam bernegara maupun dalam kerkehidupan ini.

Ditanya apakah dengan slogan We Love Konawe tersebut adalah bagian dari strategi politiknya? Dengan tegas mengatakan ini berangkat dari niat yang tulus.

“Kita tidak pernah sadar bahwa ada kekuatan besar dari kearifan lokal kita,” terangnya.

Dengan mombeka pehawa hawako ( saling mengingatkan ), kata Gusli,  itu merupakan konsep para leluhur dimana rasa kekeluargaan dan rasa kebersamaan itu harus kita hilangkan semua adanya sekat-sekat.

“Mari kita bangun dengan rasa lokal kita ini,” imbaunya.

Kapan kesiapannya untuk mendeglarasikan diri dalam mengikuti perhelatan pilkada konawe?

Mendengar pertanyaan tersebut dengan tegas, mantan Sekretaris DPD PAN era Kery menjadi ketua menyatakan bahwa Belanda masih jauh.

“Masih sangat jauh, mari kita lihat bersama, ada saatnya, ada waktunya dan Insya allah kita akan lihat nantinya. Akan tetapi kita ingin pesta demokrasi Konawe, ala barat dengan rasa lokal Konawe,” pungkasnya lagi.

Gusli juga mengajak masyarakat Konawe untuk saling menjaga proses Demokrasi ini agar tetap berada pada kebinekaan, seperti Mombeka Meririako (Saling menyayangi) adalah kunci kita kembali pada kekuatan kearifan lokal.

“Saling sayang-menyayangi yang kemudian saling ingat-mengingatkan karena tidak ada manusia yang sempurna,” tutupnya

Laporan : Firman / Jafrun

Terkini