oleh

Kisah Pengumpul Sampah di Konawe yang Tidak Ingin Anaknya Bernasib Sama

-NEWS-150 dibaca

 

Reporter : Andis
Editor : Ardilan

KONAWE – Tak ingin bernasib sama dengan dirinya, itu lah kalimat yang bisa menggambarkan keinginan Barto menjalani kehidupan sehari-hari. Pria berusia 68 tahun itu tak pernah lelah bekerja keras setiap hari mengumpulkan uang demi untuk biaya sekolah anak-anaknya.

Barto menyadari jika memiliki sekolah yang tinggi dirinya tak akan sesulit seperti saat ini mencari pekerjaan yang lebih layak. Ia pun memotivasi dirinya sendiri agar memastikan anak-anaknya mendapat pendidikan yang cukup sebagai bekal dikemudian hari.

“Saya tidak ingin anak-anak merasakan seperti saya yang hanya punya pendidikan SD akibat kelemahan ekonami orang tua dulu. Sebisa-bisanya saja nyari rezeki buat anak-anak tetap sekolah,” kata Barto kepada MEDIAKENDARI.Com, Rabu 10 Maret 2021.

Warga Kelurahan Matahoalu Kecamatan Uepai ini bercerita ia memulai aktifitasnya sebagai pengumpul sampah sejak pukul 06.30 pagi Wita. Ia menyasar tempat pembuangan akhir (TPA) di daerah itu. Disana (TPA), Barto menggantungkan betul hidupnya.

Ia pun menjalankan fungsi layaknya seorang selektor (Orang yang melakukan seleksi) yang memilah-milah sampah mana saja yang masih berharga bila dijual ulang seperti sampah plastik, besi, kardus dan lainnya yang dimasukkan ke dalam karung berukuran besar untuk dijual ke pengepul.

Selain itu, ia juga menyusuri jalan-jalan sekedar mengumpulkan sampah yang dibuang secara sembarangan. Barto bekerja sekaligus ikut membantu membersihkan jalan-jalan diseluruh Kecamatan Uepai.

15 tahun bergelut dengan sampah, Barto tanpa keraguan menyebut dirinya satu kesatuan yang tidak terpisah dari sampah-sampah yang ada di Kabupaten Konawe. Bau menyengat dari sampah dan panas terik matahari adalah santapan Barto tiap hari.

“Awalnya saya dari jawa, terus pindah ke sini sekitar tahun 2006. Karena tak ada kerjaan lain, ya terpaksa kerja begini. Pagi berangkat. Kalau gerobaknya sudah penuh, pulang dulu kumpul digudang. Terus nyari lagi. Udah biasa (Bau menyengat sampah). Pakai masker juga tetap saja baunya tercium. Tapi mau bagaimana lagi, namanya kerjaan,” katanya.

Ia menuturkan dirinya memiliki empat anak. Satu anaknya saat ini telah bekerja di Kabupaten Bombana. Sedangkan tiga lainnya masih mengeyam pendidikan di bangku SMP dan SD. Barto mengaku empat tahun silam, ia harus berpisah dengan istrinya karena sang Khalik (Allah SWT) telah lebih dulu memanggil istri tercintanya.

Di tahun 2017 lalu, sang istri wafat. Sejak saat itu, ia pun berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya yang masih kecil-kecil.

Meski begitu, Barto merasa tertolong saat salah satu kenalannya menawarkan sebuah lahan untuk ia pakai sebagai gudang sampah. Sebelumnya memiliki gudang sampah itu, ia harus bolak-balik sejauh puluhan kilometer saat mengumpulkan sampah-sampah berharganya.

“Awalnya ambil sampah di sini (TPA) terus bawa ke rumah di Matahoalu sana. Lalu ketemu teman yang menawarkan untuk memakai lahannya untuk di jadikan gudang sampah. Katanya biar nggak usah bolak balik bawa sampah ke rumah karena jauh,” katanya.

Ia menuturkan apabila sedang hoki (Beruntung) dalam sehari ia bisa memperoleh duit Rp 100-200 ribu jika sampah yang ia kumpulkan berjumlah banyak. Hanya jika kuantitas sampah sedang surut pula, ia cuma mampu mendapat uang sekira Rp 75 ribu saja dalam sekali jual.

“Kalau aqua kecil Rp 1.500 per kilogram, aqua besar Rp 12 ribu per kilogram, plastik bukan kemasan Rp 1.500 per kilogram, gardus Rp 1.200 per kilogram dan besi Rp 3 ribu per kilogram,” katanya.

Barto terbilang tegar dalam menjalani hidupnya selama ini. Ia mengaku selama ini belum pernah mendapat bantuan sekali pun dari pemerintah daerah setempat padahal dirinya sudah tercatat sebagai warga Kabupaten Konawe. Bahkan selama pandemi Covid-19 pun dirinya tidak tersentuh bantuan.

“Kalau capek ya nginap dulu nggak pulang. Makan seadanya nasi campur mie. Kalau ada kesempatan beli sayur dulu, terus memasak,” imbuhnya. (b).

Terkini