oleh

Komoditas Bahan Makanan Kembali Dorong Deflasi Sultra

KENDARI – Bank Indonesia (BI) perwakilan Sulawesi Tenggara (Sultra) mengeluarkan rilis terkait deflasi Sultra pada April 2018.

Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi BI Sultra, Surya Alamsyah mengatakan, pada April 2018, Sultra mencatatkan deflasi sebesar 0,16 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan deflasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,37 persen (mtm).

“Deflasi tersebut terutama didorong oleh penurunan harga pada kelompok bahan makanan dan kelompok inflasi inti, di tengah meningkatnya tekanan inflasi pada kelompok administered price. Secara spasial, Kota Kendari dan Kota Baubau mencatatkan deflasi masing-masing sebesar 0,16 persen (mtm) dan 0,14 persen (mtm),” ujarnya melalui press release Kamis (03/05/2018).

Katanya, dengan capaian tersebut, inflasi tahunan Sultra tercatat sebesar 2,51 persen (yoy), sedikit lebih tinggi dari periode sebelumnya yang tercatat sebesar 2,39 persen (yoy). Deflasi di Sultra pada periode ini masih lebih baik dari pencapaian nasional saat bersamaan justru mencatatkan inflasi sebesar 0,10 persen persen (mtm) atau 3,41 persen (yoy).

BACA JUGA: Pertumbuhan Ekonomi Kota Kendari Bulan April Mengalami Deflasi 0,16 Persen

“Kelompok komoditas bahan makanan bergejolak (volatile food – VF) mencatatkan deflasi sebesar 1,09 persen (mtm). Deflasi pada kelompok VF tersebut terutama didorong oleh penurunan harga pada sub kelompok komoditas ikan segar, sayur-sayuran dan beras,” ucapnya.

Ia menjelaskan, komoditas ikan segar yang turut mendorong deflasi utamanya ikan ekor kuning, kembung, layang, cakalang dan baronang yang banyak digemari oleh masyarakat. Sedangkan komoditas pada sub kelompok sayur-sayuran yang mencatatkan deflasi yakni sawi hijau, kacang panjang, kangkung, dan jantung pisang.

Demikian halnya, dengan komoditas beras yang kembali mencatatkan deflasi seiring dengan panen raya yang berlangsung di sentra produksi beras Sultra dan deflasi yang lebih dalam pada kelompok Volatile Food, tertahan oleh inflasi pada sub kelompok komoditas bumbu-bumbuan utama komoditas bawang merah, bawang putih dan cabe rawit.

Deflasi juga terjadi pada kelompok inflasi inti di Sultra yang tercatat sebesar 0,05 persen (mtm), setelah pada bulan sebelumnya mencatatkan inflasi sebesar 0,14 persen (mtm). Deflasi pada kelompok inti didorong oleh deflasi pada komoditas air minum kemasan, telepon seluler dan peralatan dapur.

“Deflasi yang lebih dalam, tertahan oleh inflasi yang terjadi pada komoditas emas dan sandang wanita. Kenaikan harga emas yang terjadi di pasar dunia turut mendorong kenaikan harga pada komoditas emas perhiasan khususnya di Kota Kendari,” bebernya.

Sementara itu, komoditas administered price pada April 2018 mencatatkan inflasi sebesar 0,52 persen (mtm), lebih tinggi dari periode sebelumnya yang tercatat mengalami deflasi sebesar 0,16 persen (mtm).

Ia menuturkan, peningkatan tekanan inflasi pada kelompok administered price terutama didorong oleh inflasi yang terjadi pada komoditas rokok putih, rokok kretek filter, bensin, dan angkutan udara. Kenaikan harga rokok utamanya disebabkan oleh adanya kenaikan cukai rokok.

Sementara, inflasi komoditas bensin disebabkan oleh penyesuaian harga jual bensin non subsidi Pertalite dan Pertamax yang dilakukan oleh Pertamina sebagai dampak dari kenaikan harga minyak di pasar dunia. Adapun inflasi pada komoditas angkutan udara didorong oleh penyesuaian rute penerbangan oleh beberapa maskapai.

“Menyikapi perkembangan terkini dan memperhatikan risiko ke depan utamanya menyongsong bulan Ramadhan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Tenggara telah melakukan sidak pasar yang dilanjutkan dengan rapat koordinasi dalam rangka antisipasi kenaikan harga,” pungkasnya.

Ia menyampaikan, dalam rapat tersebut telah diputuskan beberapa hal diantaranya meminta semua pemerintah daerah untuk melakukan pengawasan harga komoditas strategis dengan mengacu pada HET, menyelenggarakan pasar murah, dan meminta para distributor untuk melaporkan stok yang dimiliki guna memastikan ketersediaan di pasar.

“Langkah-langkah tersebut dilakukan untuk menjaga inflasi Sultra berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional di tahun 2018 sebesar 3,5%±1 persen (yoy),” tutupnya.


Reporter: Waty
Editor: Kardin

Terkini