oleh

Lamomea, Desa Agro Wisata Pertama Konsel yang Canangkan Pepaya California

KONDA – Desa Lamomea Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) sedang fokus pencanangan Desa Agro Wisata.

Desa yang dipimpin oleh Syukri Hakim ini memiliki sejumlah potensi pertanian dan perkebunan yang tidak kalah dengan desa lainnya.

Hal itu dibuktikan saat Mediakendari.com bertandang di sejumlah kawasan perkebunan dan persawahan di desa tersebut.

Kepala Desa Lamomea, Syukri Hakim mengungkapkan, untuk tahun ini pihaknya fokus pengembangan desa kawasan agro wisata.

“Sesuai intruksi Pemda, semua desa di Konsel harus memiliki bursa inovasi unggulan. Dalam rangka mewujudkan desa maju Konsel Hebat,” ungkapnya saat ditemui di persawahan belum lama ini.

“Makanya untuk di desa kami, setelah pihak DPMD berkunjung, desa kami sangat potensial. Makanya kita coba gerakan masyarakat untuk bisa kembangkan kawasan agro ini,” sambungnya.

Selanjutnya, salah satu tanaman perkebunan yang coba digenjot adalah budi daya penanaman pepaya California. Itu dilakukan dengan memberdayakan kelompok tani yang ada di otoritanya.

“Pemerintah desa berupaya menyiapkan lahan, nanti pengelolaan perkebunan kita serahkan kepada kelompok tani,” papar Syukri.

“Mereka bebas bercocok tanam, yang penting mengenai Agro wisata. Makanya seperti penanaman pepaya California ini coba dikembangkan dan ini satu-satunya desa di Konsel yang baru pencanangan,” imbuhnya.

Dari segi pengembangan perkebunan pepaya California ini, ada sekitar satu hektar lahan yang disiapkan. Di samping itu, pihaknya memberikan dukungan melalui dana bantuan belanja pupuk.

“Baru-baru ini kita berikan bantuan melalui Dana Desa yang dikelola melalaui dana Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Rp 10 juta kita alokasikan dalam upaya penyamaian bibit tanaman pepaya yang masih langka di Konsel ini,” ucapnya.

BUMDes
Persawahan Desa Lamomea yang dikelola dengan Dana Bumdes. Foto: Erlin

Selain tanaman Hortikultura, pihaknya juga kelola persawahan melalui Dana BUMDes. Hingga tahun ini, alokasi dana Bumdes desa Lamomea capai Rp 130 Juta.

“Kita berikan pinjaman dana ke masyarakst sesuai kebutuhan. Nah hasil dari itulah di samping meningkatkan ekonomi warga juga menambah pendapatan kas desa,” urainya.

“Contohnya seperti sawah satu hektar ini, kita kelola melalui dana Bumdes. Bahkan kita jadikan di area persawahan ini Agro wisata. Di sana bisa tempat memancing, karena kita mau seting buat empang sekaligus bikin rumah pondok tempat wisata. Apalgi di area ini adalah jalur lintasan pesawat, jadi bisa juga tempat refresh bagi pengunjung,” tambahnya.

Pihaknya pun optimis, jika potensi Desa Lamomea ini sangat besar. Jika dikelola dengan maksimal, maka bisa mendongrak perekomomian masyarakat.

“Hanya kadang yang menjadi kendala adalah kesadaran masyarakat untuk bercocok tanam yang masih kurang. Mereka terbiasa dengan terima gaji harian, tidak mau berkreasi dulu,” katanya,

“Makanya inilah yang kita coba kembangkan, bila perlu kita akan adakan pelatihan berwirausaha, supaya bisa menciptakan peluang kerja bagi masyarakat pengangguran. Apalagi di desa kita banyak lahan kosong yang bisa dikembangkan bercocok tanam,” tandasnya.

Tanam 700 Pohon Pepaya, Raup Untung Puluhan Juta Rupiah

BUMDes
Kepala Desa Lamomea, Sukri Hakim saat berada di perkebunan pepaya salah satu warganya. Foto: Erlin

Pencanangan pepaya California benar-benar menjanjikan. Dalam satu pohon bisa menghasilkan tiga sampai empat kilo. Nah, jika dikalikan seharga Rp 6000 perkilo, untungnya lumayan besar bahkan sampai puluhan juta rupiah.

Itulah yang membuat warga Desa Lamomea, bernama Dodi, langsung banting stir dari perkebunan nilam.

Salah satu Kelompok tani pembudidaya pepaya California ini mengungkapkan, upaya pengembangan bibit pepaya asal negeri Paman Sam ini adalah yang kali pertama dilakukan di Konsel.

Awalnya, lahan seluas satu hektar yang dikelolanya itu diisi dengan tanaman nilam. Namun sayang tak membuahkan hasil yang maksimal.

Ia tak putus asa, dari pada lahan tersebut mubazir, ia mencoba mencari hal yang baru. Dengan mengupgrade artikel pola bercocok tanam via internet.

“Akhirnya saya tertarik pada penanaman pepaya California yang beda dari tumbuhan pepaya lokal. Setelah itu saya cari bibitnya di toko dan coba ikuti petunjuk penyamaiannya,” papar Dodi.

“Ternyata berhasil, bahkan awalnya satu pohon, saya lihat begitu subur,  makanya saya fokus sampai 700 pohon di atas lahan satu hektar,” pungkasnya.


Reporter: Erlin
Editor: Kardin

Terkini