Laode Budi, Pria Asal Buton yang Sukses Dirikan Sekolah di Tangerang

Reporter: Rahmat R
Editor: Kardin

JAKARTA- Lelaki asal Buton yang bernama Laode Budi memang masih asing bagi kita semua. Pria Alumni Statistik Institut Pertanian Bogor (IPB) ini berhasil membangun Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) di Kota Tangerang, Provinsi Banten.

Laode Budi memberi nama sekolah tersebut yakni TK dan SD Permata Hati atau lebih dikenal dengan sebutan sekolah PH yang beralamat di Jalan Wijaya Kusuma Nomor 1 Bojong Nangka, Tangerang.

Saat ditemui di Sekolah PH tersebut, Budi menceritakan proses pembangunan sekolah yang berawal dari rumah pribadi, mengutang hingga harus menjaminkan sertifikat rumah milik orang tua ke Bank.

Kata dia, sejak tahun 1974 dirinya merantau dari Buton ke Jakarta mengikuti jejak orang tuannya yang sejak 1972 ada di Jakarta.

“Alasan bikin sekolah karena orang tuanya adalah Guru. PNS dulu harus masuk Partai Golkar, bapak saya tidak mau, dia masuk Jakarta 1972. Orang tua saya sempat jadi kepala sekolah di salah satu sekolah di Jakarta, dia tinggal di rumah jabatan yang kecil kami ini banyak sekali sekeluarga,” katanya beberapa waktu lalu.

“Kami kadang kami tidur di kelas, di sinilah saya bercita-cita sewaktu-waktu nanti punya sekolah. Tetapi saya tidak mau jadi guru hanya mau jadi pemilik yayasan karena niat saya adalah mensejahterakan guru, tidak seperti bapak saya di masa lalu,” sambung Laode Budi.

Alumni S1 Statistik IPB ini mengutarakan, dirinya membangun sekolah sambil kerja di salah satu Stasiun Televisi lokal. Dia menjual rumah untuk modal membangun sekolah tersebut, kredit tiap tahun demi sekolah tetap berjalan.

“Istri setuju bikin sekolah, dan kami mulai cari tanah. Ada anak yang sekolah di TK itu adalah anak lurah. Lurah mempermudah untuk pencarian tanah,” kata dia.

Ia menuturkan, lahan yang didapat, dicicil karena keadaan keuangan sangat tidak memungkinkan untuk dibayar sekali.

“Saya awalnya sempat bangun TPA tetapi karena sudah ada TPA di dekat rumah sehingga kepikiran bangun TK setelah itu bangun SD. Bangun SD harus punya tanah yang luas sehingga rumah pribadi dipakai dan saya kontrak rumah. Awalnya ada lima orang siswanya keluar satu sisa empat,” beber pria berkacamata ini.

Lanjut Budi, untuk TK sendiri telah terbentuk sejak 1996, berselang limat tahun SD terbentuk pada 2001 silam atas permintaan para orang tua siawa.

Laode Budi sempat pesimis karena jumlah murid yang sedikit. Namun tahun kedua (2002) ajaran baru, banyak siswa yang mendaftar di sekolah Permata Hati tersebut.

“Jujur ya, kami untuk bangun sekolah ini pinjam di Bank karena siswa sudah banyak yang masuk sampai sertifikat orang tua dijadikan jaminan. Mengutang di Bank itu kira-kira sekitar enam tahun tetapi semua sudah diselesaikan,” bebernya.

Yayasan Pendidikan Permata Hati ini bekerjasama dengan Bank untuk penyediaan mobil pengantaran jemputan siswsa. serta pembayaran SPP dan administrasi siswa semua melalui Bank.

“Alhamdulillah kami sekarang sudah dalam pembangunan SMP lagi dan cicil tanah. Sajak tahun ajaran 2019/2020 sudah ada yang kami terima,” jelasnya.

Kepala Sekolah SD Permata Hati, Uswatun Hasanah juga ikut memberikan informasi. Menurut dia, SPP tiap tahun ada kenaikan tetapi itu bukan keputusan sepihak dari sekolah melainkan permintaan orang tua,

“Kenaikan itu juga hanya Rp 5- 10 ribu. Ini tujuannya untuk meningkatkan minat pendidikan siswa misalnya kegiatan siswa yang sifatnya tidak terlalu wajib,” kata dia.

Untuk SPP sekitar Rp 410 ribu perbulan bagi kelas yang lebih tinggi dan kelas yang lebih rendahnya lebih mahal, tetapi kurang lebih hampir sama. Begitu juga dengan TK yang SPP-nya kurang lebih sama.

“Ini anggaran dipakai untuk kegiatan dalam setahun ada 13 item. Banyak sekali termasuk Out Bound dan seminar,” sebutnya.

Lanjutnya, untuk pembayaran tersebut tidak memberatkan, sekolah juga melakukan menagement yang baik, mulai dari pihak guru hingga siswanya.

“Karakter siswa dibangun dari sekarang. Ada saling membantu termasuk yatim piatu dibantu pembayarannya oleh siswa yang lain. Siswa juga nilai gotong royong tinggi, biasa kalau ada anak siswa sekolah yang bermasalah dibantu, misalnya kecelakaan siswa atau orang tua siswa, anak-anak lain akan patung-patungan untuk membantu kawannya tersebut,” kata Ibu yang akrab disapa Ukha ini.

Untuk diketuai, Yayasan Pendidikan Permata Hati memiliki sebanyak 433 siswa SD, TK 60 orang dan SMP 18 orang. Sementara guru 28 orang untuk SD dan staf 3 orang, tenaga umum 5. Sementara TK 8 guru dan SMP 6 orang guru.

Sistem penggajian guru-guru yakni dapat gaji 14 kali 12 bulan gaji bulanan THR dan bonus akhir tahun. Guru-guru di sekolah ini dibantu rumah juga oleh pihak yayasan dengan sistem kredit.

Iklan dalam Berita Ana Wonua Distributor Oli Total