oleh

Pemuda Estafet Perjuangan

-OPINI-504 dibaca

Oleh: Teguh RM., SH., MH.

Untuk pencapai kemerdekan memang tidak mudah, selalu ada perjuangan dan pengorbanan, bahkan di setiap perjuangan harus bercucuran darah bahkan sampai rela kehilangan nyawa sekalipun. Gambaran tersebut yang terjadi ketika dimasa lalu, bagaimana para pejuang negara kita memperjuangkan arti kemerdekan untuk sebuah kemaslahatan yang akan ditempuh. Kita ketahui bersama para pahlawan yang pupus dimasa perjuangan mereka yaitu pahlawan Revolusi diantaranya adalah: 1. Jendral (Anumerta) Ahmad Yani, 2. Letnan Jendral (Anumerta) Suprapto, 3. Letnan Jendral (Anumerta) M.T. Haryono, 4. Mayor Jendral (Anumerta) D.I. Panjaitan, 5. Mayjen (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo, 6. Kapten CZI (Anumerta) Pierre A. Tendean, 7. AIP II (Anumerta) Karel Satsuit Tubun, 8. Brigadir Jendral (Anumerta) Katamso, 9. Kolonel Inf. (Anumerta) Sugiono.

Dalam perjuangan untuk merebut kemerdekan disuarakan oleh semua lapisan masyarakat kala itu, tidak terkecuali keterlibatan kaum muda yang memiliki semangat besar, juga ikut turut menyuarakan hal tersebut, dengan dibuktikannya peristiwa sumpah pemuda yang dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 1928. Peristiwa tersebut diawali perjuangan yang besifat kedaerahan, diantaranya ada Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Islaminten Bond, Pemuda Kaum Betawi, Pemuda Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) dan masih banyak lainnya yang kemudian mampu disatukan oleh janji kesatuan yaitu Sumpah Pemuda.

Isi teks sumpah pemuda:

SOEMPAH PEMUDA

PERTAMA: Kami poetra dan Poetri Indonesia , Mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indoneia;
Kedoea: kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia;
Ketiga: kami Poetra dan Poetri Indonesia, menjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Sejarah sumpah pemuda merupakan proses yang panjang. Momentum tersebut tak akan berjalan tanpa adanya tokoh-tokoh penting. Tokoh-tokoh yang terlibat dalam sumpah pemuda yaitu: Soegondo Jojopoespito, Muhammad Yamin, Wage Rodolf Soepratman, Amir Syarifuddin, Sie Kong Liong, Sarmidi Mangoensarkoro, Djoko Marsaid dan Soenario Sastrowardoyo.

Keterlibatan Pemuda Dalam Mengisi Kemerdekaan

Perjuangan belum berakhir ketika negara Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus tahun 1945, akan tetapi masih banyak tanggung jawab, khusunya untuk pemuda dalam megisi kemerdekaan tersebut. Memang tidak mudah untuk mengisi kemerdekaan ini, diperlukannya perjuangan terus menurs untuk semua aspek demi terwujudnya kesejahteraan umum sebagaimana amanah konstitusi negara Repulik Indonesia yang termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke- 4.

Selain itu, keterlibatan pemuda memang sangat penting diberbagai aspek kehidupan kita bernegara. Dari pra kemerdekaan sampai kini, pasca merdeka, pemuda selalu turut ambil peranan. Terlihat nyata keterlibatan pemuda ketika beberapa saat lalu dalam kontestasi pemilu legislatif, hampir 60 % keterlibatan pemuda mengikuti kontestasi menjadi wakil rakyat. Bahkan ketika sidang paripurna DPRI pertama beberapa saat lalu dipimpin oleh anggota DPR termuda bernama Hillary Lasut berumur 23 tahun, berasal dari Kabupaten Talaud (Sulawesi Utara), lalu kemudian ada nama Jialyka Maharani berusia 22 tahun berada di DPD-RI. Selain itu bahkan kaum muda ada juga yang masuk dalam Kabinet Indonesia Maju Jokowi yaitu, Mendikbud Nadiem Makarim yang berusia 35 tahun. Dan masih banyak lainnya. Gambaran tersebut seakan selaras dengan ungkapan Bung Karno : “seribu orang tua hanya bisa bermimpi, tetapi seorang pemuda mampu mengubah dunia!”

BACA JUGA:

Peran Sarjana Hukum

Tidak dapat dipungkiri keberperanan sarjana hukum turut terlibat dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Sebut saja , Soenario Sastrowardoyo, salah satu pahlawan yang menjadi salah satu tokoh penting munculnya manifesto politik yang dikeluarkan oleh perhimpunan indonesia (PI) di Belanda pada tahun 1925 dan kongres sumpah pemuda 1928, pada tahun 1917. Ia sekolah di Rechtschool (Sekolah Menengah Kejuruan Hukum) di Batavia. Pasca menyelesaikan pendidikannya di Rechtscool, beliau melanjutkan pendidikannya di Universitas Leiden mengikuti kuliah Doktoral. Lalu pada tahun 1925, beliau meraih gelar Mr. atau Messter in de Rechten, ahli dalam ilmu hukum. Pada akhir Tahun 1925, Soenario Sastrowardoyo aktif sebagai pengacara yang membela para aktivis pergerakan yang berurusan dengan polisi Hindia Belanda. Ia juga menjadi penasehat Panitia Kongres Pemuda II tahun 1928 yang melahirkan sumpah pemuda. Dalam kongres itu Soenario Sastrowardoyo menjadi pembicara dengan makalah ‘Pergerakan pemuda dan persatuan Indonesia.’

Lalu ada Mohammad Yamin, yang di lahirkan di Sawahlunto, menempuh pendidikan dasarnya di Hollanddsch In School (HIS) dan Algemeene Middelbare School (AMS), ia juga menjalani kuliah di Rechtshoogesschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di jakarta, yang kelak menjadi fakultas Hukum Universitas Indonsia) dan berhasil memperoleh gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum) pada Tahun 1932. Adapun karier politik Yamin dimulai sejak ia masih menjadi mahasiswa di Jakarta. Ketika itu bergabung dalam organisasi jong Sumatranen Bond dan menyusun ikrar Sumpah Pemuda yang dibacakan pada Kongres Pemuda II. Ketika yamin memperoleh Gelar Sarjana hukum ia kemudian bekerja dalam bidang hukum di jakarta hingga tahun 1942. Bahkan disaat setelah kemerdekaan, jabatan yang pernah di pangku Yamin selain sebagai anggota DPR , ia pernah menjadi Menteri Kehakiman (1959-1960).

Keterlibatan serta peran sarjana hukum dalam perjuangan kemerdekaan terwakili oleh kedua tokoh sebagaimana terurai diatas, merupakan inspirasi untuk para sarjana hukum saat ini dalam mengisi kemerdekaan. Mengapa penulis menyinggung dalam tulisan ini prihal keterlibatan sarjana hukum dalam poses turut serta mengisi kemerdekan tersebut. Secara kebetulan penulis merupakan praktisi hukum sehingga kedua tokoh tersebut dapat dijadikan acuan dalam besikap dan mengisi kemerdekaan dalam berbangsa dan bernegara

Penulis mengajak, dimomentum memperingati hari Sumpah Pemuda, hari ini bertepan tanggal 28 Oktber 2019, mari kita sebagai kaum muda Bangsa Indonesia ikut serta terlibat dan ambil peran dengan disiplin ilmu dan keterampilan kita masing-masing.

Selain itu juga dikesempatan ini penulis mengucapkan selamat hari sumpah Pemuda, semoga dengan mengingat hari sumpah pemuda, kita semua terkhusus para pemuda poetra dan poetri bangsa indonesi kembali mengingat perjuangan para pejuang dan bisa mengisi kemerdekaan kita dengan cara mengimplementasikan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini merupakan merefleksikan ungkapan Bung Karno: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawan.”

Sumpah pemuda merupakan momentum penting bagi Bangsa Indonesia. Jika pemuda pada zaman dahulu memilki semangat dan tekad yang kuat untuk memperjuangkan kemerdekaan, maka pemuda zaman sekarang hanya perlu melanjutkan estafet perjuangan para pendahulu kita.

Penulis:
Teguh RM, S.H.,M.H.
Praktisi Hukum
Pengacara/Advokat, Konsultan Hukum Pertambangan
Ketua Lembaga Bantuan Hukun (LBH) AMPI D.I Yogyakarta

Terkini