oleh

Tuntut Pencabutan Skorsing 3 Mahasiswa, Security UNILAKI Bubarkan Demo Dengan Parang

UNAAHA – Keputusan sepihak yang dikeluarkan Rektor Universitas Lakidende (UNILAKI) Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), La Ode Masihu Kamaluddin karena menjatuhkan skorsing kepada tiga Mahasiswa, berbuntut panjang.

Puluhan Mahasiswa yang menilai skorsing tersebut tidak prosedural melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Rektorat Unilaki, Kamis (18/10/2018).

Dalam demonstrasi itu, Massa menuntut agar keputusan menskorsing tiga Mahasiswa untuk segera dicabut Rektor. Mereka membutuhkan penjelasan yang akurat perihal pemberian skorsing terhadap rekan mereka. Namun dalam tuntutan Mahasiswa itu tidak kunjung mendapatkan solusi dari pihak Manajemen Kampus.

Mahasiswa kemudian membakar ban sebagai protes, serta berusaha mengeluarkan unek-unek mereka secara bergantian.

“Kami akan memboikot kampus selama satu minggu kedepan, apabila hari ini tuntutan kami tidak diakomodir oleh pihak kampus,” ancam Harianto salah satu mahasiswa, dalam orasi.

Untuk diketahui, aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa yang tergabung dari berbagai Fakultas itu merupakan aksi atas skorsing terhadap tiga rekan mereka, pemberian skorsing ini dilakukan karena ketiga Mahasiswa itu ketahuan membakar fasilitas Kampus yakni Kursi saat menggelar aksi unjuk rasa beberapa waktu lalu dengan mempertanyakan anggaran kampus yang dinilai tidak transparan.

Ketiga Mahasiswa itu diberikan skorsing untuk tidak mengikuti proses perkuliahan selama satu semester.

Namun, saat demonstrasi berlangsung beberapa Mahasiswa dibuat ketakutan, salah satu Security Kampus tiba-tiba keluar hendak membubarkan aksi demonstrasi dengan menggunakan senjata tajam jenis parang yang sebelumnya diselipkan dari pinggangnya.

Untungnya aksi anarkis yang dipertontonkan Security itu bisa diredam, sebelum si security beringas dan melukai para mahasiswa.

Beberapa Mahasiswa yang tidak gentar dengan security yang menggunakan parang itu, berusaha menantang security untuk berduel satu lawan satu, karena security itu dinilai hanya berani jika menggunakan parang.

“Jangan beraninya pakai parang saja, karena kita tidak suka cara premanisme. Kalau memang laki-laki sini kita duel secara jantan,” tantang salah satu Mahasiswa yang tidak terima dengan ulah security itu.(a)

Reporter: Andri Kokong.


Terkini