Amar Ma'ruf, Wasekjend PB HMI Periode 2018 -2020, Pengurus BADKO HMI Sultra 2016-2108, Pendiri Organisasi Akademisi Mahasiswa Islam (OAISIS) Sultra, dan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Paramadina Jurusan Kebijakan dan hubungan Internasional

Menilik Potensi Pembangunan Nuklir di Indonesia

Penulis : Amar Ma’ruf

Indonesia adalah kawasan yang dianugerahi sumberdaya alam berlimpah ruah. Dalam suatu penelitian disebutkan 1/3 dari sumber-sumber utama di dunia ada di Indonesia. Disamping itu,  Indonesia juga merupakan negara kepulauan dimana setiap pulaunya adalah daratan yang sangat subur, memungkinnya menjadi lumbung pangan dunia.

Pulau-pulau disepanjang garis pantai Indonesia kebanyakan adalah pulau-pulau yang menyimpan panorama memakau dipadu dengan budaya lokal yang unik, memungkinnya menjadi objek wisata ternama dunia. Sayangnya potensi-potensi tersebut diatas belum mampu dikelola secara maksimal oleh pemerintah dan masyarakat pribumi. Kasus-kasus kelaparan, busung lapar, dan ekonomi rakyat yang masih berada dibawah taraf hidup layak adalah momok yang dari masa kemasa belum teratasi.  

Tulisan ini ingin mendeskripsikan salah satu dari sumber daya alam Indonesia yang kurang menjadi perhatian, padahal menyimpan potensi yang besar untuk pembangunan Indonesia kedapan yaitu uranium atau torium.

Kedua unsur tersebut dapat digunakan sebagai sumber tenaga baru untuk pembangkit listrik. Uranium sendiri sebagaimana diketahui adalah bahan utama dari tenaga nuklir, yang dapat menghasilkan energi berlipat ganda dari pada yang dihasilkan oleh batubara dan sumber lainnya. Sebagai gambaran 1 gram Uranium dapat menghasilkan 2 terajoules energy atau setara dengan 150 Ton Batu bara.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menyebutkan bahwa Indonesia memiliki cadangan uranium sebesar 70.000 Ton uranium yang mana dengan jumlah sebesar itu mampu untuk membuat Indonesia sangat lebih di bidang energy. Bahan bakar ini terutama ditemukan di beberapa lokasi, diantaranya  Papua, Kalimantan Barat, Bangkabelitung dan  Sulawesi Barat.

Di Sulawesi Barat, uranium di temukan di Kabupaten Mamuju. Berdasarkan hasil penelitian Bidang Pengkajian Keselamatan Nuklir (BAPETEN) disebutkan bahwa letak uranium berada di Kabupaten Mamuju kecamatan Tapalang dan Taplang Barat dengan kandungan unsurnya sebanding dengan uranium yang berada di wilayah Pocos de Caldas Brazil yakni 250 nsv per tahun. Selain itu, menurut hasil penelitian oleh Bahan Galian Tenaga BATAN menghasilkan bahwa,  ketinggian radioaktivitas di daerah tersebut berkisar antara 2000-3000 nsw per jam.

Sayangnya  uranium di Indonesia belum bisa dikelola sama sekali dikarenakan beberapa hambatan yang menjadi “the Shortage of our country” untuk mengelola uranium tersebut. Tidak lain kekurangan itu adalah “main weakness” dari Indonesia yaitu kurangnya tenaga ahli di sektor tersebut  dan yang kedua adalah kurangnya peralatan mesin yang dapat membantu proses produksi, dan adapun hal lain hanyalah persoalan efek negatif radoaktive terhadap masyarakat, yang mana itu tidak seberapa dengan manfaat yang dihasilkan.

Membandingkan dengan negara lain, beberapa negara di dunia telah menggunakan nuklir sebagai sumber energy mereka. Tiga diantara negara negara yang menggunakan tenaga Nuklir sebagai pemasok paling besar litrik di negara mereka adalah Prancis dengan persentase 77%, Lithuania 64%, dan Slovakia 54%.

Sementara di ASIA ada 5 negara yang menggunakan tenaga nuklir yaitu Jepang dengan jumlah pembangkit 53 yang merupakan terbesar di ASIA dan urutan ketiga di dunia. Padahal jika dilihat jepang adalah negara yang rawan gempa dan tsunami yang secara tak langsung dapat membahayakan kelansungan nuklir. Selain itu negara lain di Asia yang memberi perhatian pada pembangunan nuklir sebagai sumber listrik adalah Korea Selatan dengan jumlah pembangkit sebanyak 20. Sementara  China, India dan Pakistan masing masing memiliki 11, 17, dan 2 unit pembangkit listrik tenaga nuklir.

Memang diperlukan usaha dan perhatian yang serius untuk dapat mewujudkan pembangunan tenaga nuklir di Indonesia. Terutama pemerintah Indonesia harus membentuk satu lembaga khusu yang bertugas mengelola dan mengembangkan potensi uranium di kawasan Indonesia. Disamping itu pemerintah juga harus mulai memfokuskan beberapa beasiswa luar negeri untuk bagian ahli pengelolaan uranium atau pilihan lain kita harus mendatangkan beberapa tenaga ahli uranium untuk mengajar di indonesia sampai anak bangsa mandiri untuk memproduksi itu. Indonesia hanya perlu berani untuk mengelolah sumber daya alam ini.

Menurut penulis jika Indonesia ingin menjadikan uranium sebagai Energy listrik jalannya adalah dengan membuka satu industry baru yang memfocuskan uranium sebagai bahan utamannya. Saat ini dunia telah menemukan mobil baru yang bertenaga listrik yang mampu menempuh jarak hingga 3000 km untuk sekali pengecasan. Indonsia pula bisa membuat mobil dan pesawat bertenaga uranium jika anak bangsa berani untuk melakukan penelitian dan percobaan. jika anak bangsa mampu untuk menciptakan itu maka Indonesia sedang diambang menjadi negara paling maju didunia.