oleh

Pertumbuhan Ekonomi Kota Kendari Pada Desember 2017 Alami Inflasi Sebesar 0,68 Persen

KENDARI – Pada Desember 2017, pertumbuhan ekonomi di Kota Kendari mengalami inflasi sebesar 0,68 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Atqo Mardianto menyebutkan, Kota Kendari mengalami peningkatan inflasi pada Desember 2017 dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

Jika dibandingkan inflasi nasional 0,71 persen. Maka pada Desember 2017 tercatat 82 Kota diseluruh Indonesia dan dari semua itu, inflasi tertinggi yakni Kota Jayapura dan terendah di Kota Sorong.

“Jadi, secara umum Kota Kendari di tahun 2017 inflasinya sangat terkendali. Artinya kondisi harga relatif terkendali walaupun pada Juni kemarin terjadi lonjakan cukup tinggi inflasi sebesar 3,58 persen, karena dipengaruhi cuaca, tetapi pada bulan-bulan sebelumnya harga kembali stabil. Pada akhirnya inflasi tahun kalender hanya 2,96 persen ini jauh jika dibandingkan dengan nasional inflasi 3,61 persen dan target inflasi tahun ini tercapai,” ungkap Atqo, pada Selasa (2/1/2018).

Atqo menuturkan, jika dibandingkan dengan Kota Baubau, tidak jauh berbeda dengan kota Kendari. Dimana inflasi yang dialaminya sebesar 0,74 persen dan tahun kalender 3 persen juga masih lebih rendah jika dibandingkan dengan nasional, jadi harga di Baubau juga relatif terkendali.

“Inflasi sebesar 0,68 yang menyumbang atau andil inflasi terbesar adalah bahan makanan sebesar 0,58 persen, kemudian makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,01 persen sedangkan perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,07 persen,” urainya.

“Tetapi sandang dan kesehatan pada Bulan Desember mengalami deflasi sebesar 0,01 dan 0,003 persen. Kemudian pendidikan, rekreasi, olahraga mengalami inflasi tetapi sangat kecil sebesar 0,00. Sedangkan Sub sektor transportasi, komunikasi dan jasa keuangan turut andil pada inflasi sebesar 0,03 persen,” tambahnya.

Ia menjelaskan, jika dilihat dari kalender tahun 2013 sampai 2017 sangat bervariasi, tetapi tahun 2017 berada diangka 0,68 persen. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya inflasi yang paling rendah pada 2015 inflasi sebesar 1,64 persen kemudian 2016 menjadi 3,07 persen tapi 2017 bisa lebih rendah atau turun menjadi 2,96 persen.

“Komoditas yang naik atau menyumbang inflasi perubahan yang paling banyak 10 bahan pokok yang harga kenaikannya yang cukup tinggi. Jadi perubahan harga paling tinggi belum tentu dia menyebabkan andil inflasi tertinggi karena tergantung dari paketnya,” terangnya.

Contohnya sawi hijau di Bulan Desember naik paling tinggi sebesar 19,33 persen tetapi andilnya terhadap inflasi hanya 0,03 persen, sebaliknya ikan cakalang naiknya hanya 14,29 persen tetapi andilnya terhadap inflasi sebesar 0,19 persen. Artinya sesuatu yang naiknya tinggi dan menyebabkan andilnya tinggi berarti Komoditas itu bobotnya terhadap inflasi tinggi,” pungkasnya.

Reporter: Waty
Editor: Kardin

Terkini