oleh

Sara Pataanguna Community News 3.

-OPINI-371 dibaca

Inspirasi KITA BISA.

BEASISWA TAK MENGAJUKAN DAN KUNJUNGAN REKTOR KE RUANG KULIAH

Tahun 1982/3. La Ode Budi masuk melalui jalur undangan di Institut Pertanian Bogor (IPB University). Jalur ini belajar lebih dahulu dari jalur reguler (melalui Sipenmaru).

Pelajaran satu semester dan materi pelajaran SMA, dikebut hanya dua setengah bulan untuk Matematika dan beberapa pelajaran. Satu kelas 150 mahasiswa.

Dosen mengajar memberi pengantar, selanjutnya Mahasiswa mendalami sendiri.

Tersedia asisten dosen, tapi tanpa persiapan, bingung juga pertanyaan apa yang mau diajukan.

Tiap hari Sabtu, ujian.

Soal yang dijawab salah, tidak selalu nol. Ada pelajaran yang jawaban salah dinilai minus. Dan ada pelajaran yang nilai maksimalnya 110 atau 120, Matematika dan Bahasa Inggris diantaranya.

Umumnya rata-rata seluruh nilai 1500 mahasiswa umumnya adalah 40-50 (untuk mendapat NILAI C).

Beratnya pelajaran disana, dapat digambarkan oleh teman satu sekolah La Ode Budi sesama undangan dari SMAN 25 Jakarta, harus mengulang kelas. Nilainya banyak yang di bawah rata-rata nilai.

Walau Matematika dan Bahasa Inggris maksimal nilainya di atas 100, sangat sedikit, yang mendapat nilai melebihi 100. Tapi ada saja yang mencapainya.

Dan satu diantaranya ? La Ode Budi, namanya.

La Ode Budi yang juga adalah Komti (ketua kelompok 1), sering mengajar teman-temannya.

Dari sanalah keakraban terbentuk. Masalah La Ode Budi untuk kumpul-kumpul hanya satu : tidak punya uang jika ingin jajan. Bahkan sering terlambat membayar uang kuliah.

Hingga suatu waktu, ada teman kuliah mengabarkan : “La Ode, nama kamu ada di daftar BAK (Biro Akademik Kemahasiswaan)”.

Duggg, pasti ini panggilan untuk bayar uang kuliah, batinnya.

Memberanikan diri mencari tahu kenapa ada namanya diumumkan, La Ode Budi ke BAK.

Rupanya hanya ada satu lembar pengumuman yang bertuliskan “yang namanya di bawah ini, harap menghadap BAK”, dan ada sedikit nama-nama mahasiswa di bawahnya.

“Ada apa Pak?”, nama saya ada di daftar ini. “Mana kartu mahasiswanya?”. Setelah dicek, lalu pegawai BAK memberikan amplop tebal, ini ada uang beasiswa dari Kampus untuk yang bernilai istimewa. Tanda tangan disini!

Alhamdulillah, wasyukurillah.

Harus mencari dulu tempat duduk, untuk menenangkan diri. Berharganya uang ini, untuk menyambung hidup di masa kuliah.

Naik ke tingkat 2, La Ode Budi memilih jurusan Statistika, fakultas MIPA. Satu dari dua jurusan yang paling tinggi syarat nilai masuknya.

Suatu waktu, sementara kuliah berlangsung, ada yang mengetuk pintu ruang kuliah. Ternyata, REKTOR Prof. Dr. Andi Hakim Nasution (almarhum).

Rupanya Beliau datang ingin mengenal salah satu mahasiswa : “Mana yang bernama La Ode Budi?”. La Ode Budi angkat tangan. Lalu Beliau berucap : “Pintar sekali mahasiswa ini”. Lalu pamit pergi.

Kelas terdiam sejenak. Rektor datang ke ruang kuliah, sangat langka terjadi.

Dua peristiwa ini sudah jarang diingat La Ode Budi.

Tapi memori ini teringat kembali, saat sebelum Covid, di Jakarta, La Ode Budi bertemu utusan Gubernur Sultra terkait kompensasi pengungsi Maluku yang ingin bertemu Dirjen di Kemensos.

Ternyata Dirjen yang ingin ditemui adalah Bapak Dr. Harry Hikmat (penerima The Best in Proffesional and Leadership 2019), teman kuliahnya.

Alhamdulillah, whats up La Ode Budi dibalas, dan pak Dirjen bolehkan hari itu bertemu. Karena tidak janji, otomatis harus menunggu selesai Beliau rapat dengan Menteri.

Dan setelah diskusi, Pak Dirjen sampaikan “siap membantu, kalau masalah ini nanti jadi tanggung jawab Direktorat saya, apalagi ketua kelas yang perintahkan. Dia ini dulu nilainya bagus sekali,” gurau Pak Dirjen sambil tertawa.

Kalimat pak Dirjen inilah memicu ingatan La Ode Budi kepada dua peristiwa di atas (foto bersama pak Dirjen).
——————————-

La Ode Budi, lahir di Majapahit tahun 1964, saat ayahanda La Ode M. Sahihu (Sampolawa), menjadi camat Ditrik pertama di Batauga. Ibunya, Wa Ode Aliyah dari Batauga.

Tahun 1974 ke Jakarta, menyusul ayahanda yang lebih dahulu kesana karena problema politik di Buton.

Sering juga pulang ke Busel, liburan sambil ziarah ke Mesjid Wawoangi dan siram kuburan leluhur. Bahkan pernah satu kali jadi khotib jum’at disana.

Setelah tiga anaknya selesaikan kuliah S1, tahun 2017, La Ode Budi ingin menjalankan wasiat ayahandanya agar ada anaknya pulang untuk membangun Buton.

Pilkada Busel 2017, bermodal dukungan KTP yang dikumpulkannya, mendaftar ke KPU Busel, bersama Abdul Manan. Tapi tidak berlanjut menjadi Calon.

Tahun 2022 yad, La Ode Budi berupaya memenuhi syarat PARTAI.

Karena itu kembali mensosialisasikan diri kembali terkait, nama, siapa orang tua, pendidikan dan motivasinya untuk Busel.

Motivasinya saat ini, bukan hanya terkait wasiat ayahanda, tapi ingin mencari pahala melalui jalan merubah nasib orang banyak.

“Kita upaya maksimal mengenalkan dan menawarkan diri. Cari pahala. Cari ridho Allah SWT.

Rakyat Busel yang menentukan mana yang terbaik untuk masa depan mereka”, simpulan La Ode Budi.

Kabarakatina tana wolio. Allah SWT adalah penentu takdir manusia.

Terima kasih.

Terkini