oleh

Sastra Lisan Tolaki Terancam Punah, Generasi Muda Diharapkan Bisa Melestarikan

 

Reporter: Andis

KONAWE – Tim Peneliti Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara mengadakan konservasi sastra lisan Tolaki di Desa Onembute (Besulutu) dan Kelurahan Meluhu, Kabupaten Konawe pada 5 sampai 10 April 2021. Hal ini dilakukan dengan tujuan mendokumentasikan sastar lisan yang penuturnya semakin berkurang agar bisa dilihat generasi mendatang.

Kajian vitalitas sastra lisan Tolaki tersebut sebelumnya sudah dilakukan Tim Peneliti Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara di dua daerah yakni Kota Kendari (2019) dan Kabupaten Konawe (2020). Dari hasil kajian tersebut, disimpulkan bahwa vitalitas sastra lisan Tolaki mengalami kemunduran serta terancam punah.

Koordinator kegiatan konservasi sastra lisan, Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara, Rahmawati menjelaskan, kondisi kemunduran (eroding) terjadi dikarenakan seniman sastra lisan Tolaki sudah berkurang dan semuanya sudah berusia tua. Selain hal tersebut, juga dikarenakan hanya diwarisi dalam keluarga itupun tak semua keluarga, hingga pada akhirnya generasi muda tidak dapat lagi menuturkan.

“Penutur Taenango tersisa 3 orang, Kinoho sekitar 2 orang, Suasua masih berkelompok yang dinyanyikan remaja. Sedangkan Anggo masih ada beberapa yang bisa menuturkan. Jika situasi seperti ini, sudah seharusnya didokumentasikan selagi penuturnya masih ada,” ungkap Rahmawati saat dikonfirmasi via telepon, Jumat, 9 April 2021.

Sejauh ini, berdasarkan hasil surveinya, ia mengatakan jika penutur Taenango yang terdiri 3 orang berada di daerah Benua Konawe Selatan dan Lambuya. Itupun sudah berumur kisaran 80-an, Kinoho hanya 2 orang juga merupakan tokoh adat dari Kecamatan Konawe, Suasua dinyanyikan anggota sanggar dari Meluhu, sedangkan Anggo Masih beberapa penuturnya, salah satunya dari Besulutu.

Kegiatan ini berupa pendokumentasian dalam bentuk perekaman audiovisual empat jenis sastra lisan Tolaki yaitu Suasua, Kinoho, Anggo, dan Taenango.

“Dalam kegiatan ini tentunya ada sedikit kendala terkait masalah penutur yang sangat minim, jadinya kita harus banyak mencari informasi dari berbagai pihak ,” ungkapnya.

Ia mengaku secara teknis mengalami gangguan suara sehingga hasil rekaman tidak maksimal. Ditambah lagi di Konawe belum ada studio, sehingga penutur dibawa ke Studio RRI Kendari.

“Kami juga melibatkan siswa SMP 1 Meluhu untuk menyaksikan serta mengenalkan kepada mereka tentang sastra lisan Tolaki,” terangnya.

Ia mengakui, jika konservasi lisan ini awalnya didahului dengan penelitian yang merupakan salah satu program kerja Kantor Bahasa Sultra yang dimulai dengan vetalitas sastra Tolaki untuk melihat daya hidup sastra lisan yang ada di masyarakat masih ada atau punah.

“Dan kami simpulkan sudah ada penurunan, di.samping berkurangnya orang bisa menuturkan sastra lisan itu, tidak ada pola pewarisan yang baik, serta pengaruh perkembangan teknologi dengan adanya hiburan yang dikemas menarik, sehingga minimnya minat generasi untuk mempelajari budaya sastra lisan tersebut,” tuturnya.

Koordinator Kegiatan berharap agar hasil dari kegiatan ini bisa menjadi bahan pembelajaran generasi muda untuk lebih mengenal lagi warisan budaya agar tak punah. Generasi muda setidaknya memiliki kesadaran untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya yang merupakan kekayaan bangsa ini.

“Saya berharap kepada generasi muda terutama masyarakat Konawe dengan adanya dokumentasi yang bisa dilihat dari agenda ini agar selalu menjaga dan melestarikan warisan kekayaan budaya yang kita miliki,” tutupnya. (B)

Terkini