Iklan PDI-P

Perwakilan Forum Pemerhati Adat & Budaya Buton, Muhammad Nazar dan MT Muharam,/a

Sempat Viral di Medsos dan Dianggap Tidak Sah, Forum PAB Buton Bakal Perkarakan Pelantikan Sultan ke-41

Reporter : Ardilan

Iklan PT Luwu

Editor : Kang Upi

BAUBAU – Forum Pemerhati Adat dan Budaya (PAB) Buton bakal memperkarakan proses pelantikan Sultan Buton ke-41 yang diduga dilakukan salah satu lembaga yang mengatasnamakan Kesultanan Buton.

Pelantikan ini sendiri sempat viral di media sosial setelah diunggah salah satu akun bernama Mohtar. Unggahan ini sendiri menuai pro dan kontra di masyarakat, khususnya di jazirah Kesultanan Buton.

Perwakilan Forum PAB Buton Muhammad Nazar mengungkapkan, dirinya bersama sejumlah tokoh pemerhati adat Buton lainnya, bakal menempuh jalur hukum terkait pelantikan Sultan Buton ke-41 tersebut.

Menurutnya, proses hukum akan ditempuh karea dirinya menilai adanya ketidaksesuaian dan pelanggaran prosedur tata cara pengangkatan Kesultanan Buton ke-41 tersebut.

Jalur hukum dimaksud, kata Nazar, yakni melaporkan kepada pihak Kepolisian oknum Sultan serta lembaga melantik yang mengatasnamakan lembaga Kesultanan Buton tersebut.

Bukan itu saja, pihaknya juga akan meminta Pemerintah Kota Baubau agar meninjau kembali legalitas lembaga, yang dinilai telah mencoreng nama adat dan kebudayaan Buton tersebut.

“Secara spontanitas kami langsung menyikapi begitu ada postingan (Pelantikan Sultan Buton ke-41) yang viral tentang persoalan yang menyangkut marwah masyarakat Buton, kesultanan dan adat. Ini soal nama baik dan perbuatan mereka telah mencoreng harkat, martabat masyarakat adat dan budaya Buton,” tegas Muhammad Nazar kepada Mediakendari.com, Minggu malam (14/7/2019).

Baca Juga :

Ia menceritakan, postingan pemilik akun bernama Mohtar tersebut viral digrup facebook bernama Forum Wolio Yisintai. Isi postingan tersebut memuat konten pelantikan atau pengangkatan Sultan Buton ke-41 atas nama La Ode Sudarmono Kaimudin oleh lembaga Kesultanan Buton yang ditanda tangani La Ode Dini, H. La Ode Lymu Adi, La Ode Saafi Basari, LM. Ansar Idris dan LM. Syarif Makmun.

“Kita sepakat bertemu hari minggu. Alhamdulillah banyak teman-teman hadir. Ada dari Bombana, Pasarwajo, juga Lasalimu dan Batauga ikut datang karena sadar akan pentingnya persoalan ini,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan tokoh pemerhati adat Buton lainnya, MT Muharam yang menambahkan, bahwa pengangkatan Sultan Buton memiliki tatacara tertentu.

Dia membeberkan, bahwa pada zaman Kesultanan, Sultan Buton dilantik oleh lembaga yang bernama Siolimbona.

“Kalau dimasa lalu itu punya aturan-aturan sendiri. Yang melantik sultan adalah Siolimbona. Siolimbona adalah sebuah lembaga didalam Sara atau Kesultanan Buton yang mempunyai tugas dan kewenangan melantik atau memberhentikan sultan Buton,” urainya.

Muharam juga menerangkan, saat ini Kesultanan Buton masih tetap ada. Kendati demikian, Kesultanan dimaksud bukan lagi Kesultanan Pemerintahan melainkan Kesultanan tradisi yang tidak lepas dari tradisi adat Buton.

“Ini yang mencederai sehingga kami merasa ini sudah tercoreng nilai-nilai tradisi Buton dengan mengangkat serampangan Sultan Buton apalagi diluar wilayah Kesultanan Buton,” geramnya.

Olehnya itu, Muharam menegaskan, pihaknya meminta klarifikasi secara hukum kepada oknum yang terlibat dalam pelantikan dimaksud. Apalagi ada aturan hukum yang mengatur tentang menjaga harkat dan martabat suatu komunitas/suku.

“Sebagai pemerhati adat dan budaya kita tidak masuk pada ranah siapa yang sah dalam kelembagaan adat itu karena itu bukan ranah kami. Tetapi kami ingin tahu mekanisme pengangkatan Sultan makanya kami tadi menghadap dengan salah satu pengurus lembaga kebudayaan yang ada di Kesultanan Buton. Kaitannya dengan yang viral ini ternyata sangat mencederai karena tidak sesuai dengan mekanisme,” tegasnya.

“Apalagi setelah kami konfirmasi dan dapat informasi di Obi bahwa beliau orang yang tidak waras berpikir. Ini kan bisa menjadi main-mainan sehingga kita butuh klarifikasi,” tambahnya.

Untuk diketahui, telah viral postingan pelantikan Sultan Buton ke-41 bernama La Ode Sudarmono Kaimudin yang berada di Kepulauan Obi Kabupaten Halmahera Propinsi Maluku Utara. (A)

Iklan Lapas konawe

Iklan Damri
error: Content is protected !!