oleh

Tekan Angka Stunting, KKP dan Komisi IV DPR RI Ajak Masyarakat Sultra Gemar Makan Ikan

-NEWS-129 dibaca

 

Redaksi

KENDARI – Ikan merupakan salah satu asupan gizi kaya protein dan Omega 3 yang sangat relevan untuk mendukung program prioritas penanganan stunting khususnya berkaitan dengan kecerdasan.

Ikan memiliki kandungan gizi yang lengkap, dan memiliki peran penting bagi ibu hamil, 1.000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK), perkembangan otak anak-anak dibawah usia dua tahun (Baduta), usia remaja serta lanjut usia.

Mendukung hal tersebut pada Maret – Juli 2021, KKP melalui Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan bersama Komisi IV DPR RI akan melaksanakan kegiatan perluasan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN).

Dalam program ini diserahkan paket Gemarikan di 112 kabupaten kota yang tersebar di 21 provinsi, dengan target penerima sebanyak 56 ribu orang yang terdiri dari kelompok target penanganan stunting yaitu ibu hamil dan/atau menyusui, anak balita dan remaja putri usia produktif, dan masyarakat rawan gizi lainnya.

Untuk di Sultra, KKP bersama Komisi IV DPR RI melaksanakan Safari Gemarikan di Rumah Aspirasi Fachry Pahlevi Konggoasa Kota Kendari, Jumat, 23 April 2021.

Agenda ini dihadiri Anggota Komisi IV DPR RI Fachry Pahlevi Konggoasa, Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara, Kepala Dinas Perikanan Kota Kendari, Kepala Dinas Kesehatan Kota Kendari.

Selain itu, turut hadir juga Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kendari, dan Camat Puuwatu, beserta seluruh jajaran dan masyarakat Kota Kendari.

Safari Gemarikan ini sendiri bertujuan meningkatkan konsumsi ikan, guna mendukung penurunan stunting, mempromosikan produk perikanan sebagai makanan kaya gizi dan protein, dan menyerap produksi ikan dan produk olahannya serta pemenuhan gizi masyarakat.

Kepala BBP3KP KKP Widya Rusyanto, menyampaikan akselerasi penurunan angka stunting telah dinyatakan sebagai program prioritas nasional di sektor kesehatan. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018, angka stunting nasional mengalami penurunan dari 37,2% pada 2013 menjadi 30,8 % pada 2018.

Menurut Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) terintegrasi Susenas menunjukkan angka prevalensi stunting nasional tahun 2019 menurun menjadi 27,7%, namun angka tersebut masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan batas maksimal prevalensi stunting yang telah ditetapkan World Health Organization (WHO) yaitu sebesar 20%.

Pemerintah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 – 2024, juga menetapkan target angka stunting nasional agar bisa turun mencapai 14 %.

Widya Rusyanto juga menyampaikan pada rapat terbatas mengenai percepatan penurunan stunting tanggal 5 Agustus 2020, Presiden Joko Widodo meminta jajarannya untuk focus kepada 10 provinsi dalam upaya penurunan angka prevalensi stunting yang menjadi salah satu program di bidang sumber daya manusia.

Kesepuluh provinsi yang menjadi perhatian utama tersebut merupakan provinsi dengan angka prevalensi stunting tertinggi di Indonesia, yaitu Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Aceh, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah.

Untuk percepatan penanganan stunting, Pemerintah melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas telah menetapkan 260 kabupaten/kota yang menjadi fokus prioritas pencegahan stunting.

Sulawesi Tenggara merupakan salah dari 10 provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi dengan sebaran terdapat di 6 kabupaten yaitu Kabupaten Kolaka, Buton, Buton Selatan, Muna, Kolaka Timur, dan Wakatobi.

Dikesempatan tersebut, Widya Rusyanto juga melaporkan Safari Gemarikan dalam rangka perluasan Gemarikan hari ini dilaksanakan melalui edukasi dan penyerahan total 1000 Paket Gemarikan kepada target kelompok masyarakat.

Paket tersebut akan disampaikan secara simbolis kepada perwakilan penerima di lokasi, dan untuk selanjutnya didistribusikan kepada masyarakat di Kota Kendari dan Kabupaten Kolaka Timur.

“Paket Gemarikan yang diberikan terdiri dari ikan tongkol, ikan layang, bakso ikan marlin, otak-otak ikan marlin, dan abon ikan tuna, yang diperoleh dari UMKM dan pelaku usaha setempat, dengan harapan dapat membantu penyerapan produksi dan menjaga keberlanjutan usaha mereka pada situasi pandemi ini,” jelasnya.

Disamping itu juga disampaikan materi promosi berupa kaos dan brosur edukasi tentang manfaat makan ikan agar menjadi inspirasi dan meningkatkan motivasi masyarakat untuk mengkonsumsi ikan.

Pada kesempatan tersebut KKP melalui BBP3KP menyampaikan apresiasi kepada anggota Komisi IV DPR RI Fachry Pahlevi Konggoasa dan Pemerintah Daerah yang telah memilih Kota Kendari dan Kabupaten Kolaka Timur sebagai lokasi kegiatan Safari Gemarikan.

Selain itu, pemilihan ikan tuna dan tongkol beserta produk olehannya sebagai isian paket Gemarikan yang akan diserahkan kepada masyarakat. Tuna dan tongkol merupakan komoditas unggulan Indonesia yang memiliki kandungan gizi yang lengkap dan protein yang tinggi.

Dalam 100 gr ikan tongkol dan ikan tuna masing-masing mengandung protein 24,0 gr dan 23,4 gr, lebih tinggi dibandingkan ikan kembung (21,4 gr), ikan kakap (20,5 gr), bahkan ikan salmon (19,9 gr).

“Saya berharap para pemangku kepentingan dan seluruh masyarakat Sultra secara bersama-sama dapat berperan aktif dalam mensukseskan Program Gemarikan dengan mengajak masyarakat untuk mengkonsumsi ikan, serta menjadikan Gemarikan sebagai pengungkit bisnis perikanan di daerah setempat, ” ujar Widya Rusyanto.

Disebutkannya, angka konsumsi ikan (AKI) nasional terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Angka konsumsi ikan nasional pada tahun 2019 sebesar 54,50 kg/kapita atau meningkat sebesar 3,81 kg/kapita/tahun dibandingkan tahun 2018 (50,69 kg/kapita/tahun) dan ditargetkan meningkat pada tahun 2020 menjadi 56,39 kg/kapita setara ikan utuh segar.

Berdasarkan data Susenas (2019), AKI Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 71,13 kg/kapita/tahun pada tahun 2019, meningkat sebesar 9,20% dibandingkan tahun 2018 (65,14 kg/kapita/tahun) setara ikan utuh segar, menempatkan Provisi Sulawesi Tenggara dengan AKI tertinggi kedua secara nasional setelah Provinsi Maluku (72,76 kg/kapita/tahun).

Hal ini menunjukkan bahwa minat masyarakat dalam mengonsumsi ikan cukup tinggi, sehingga perlu ditopang oleh ketersediaan ikan dan produk turunannya yang tepat waktu, tepat harga dan tepat lokasi.

“Presiden RI Joko Widodo juga telah memberi arahan bahwa makan ikan sangat penting di situasi pandemi Covid-19 untuk meningkatkan imunitas dan daya tahan tubuh. Selain itu ikan sebagai bahan pangan yang mengandung protein dan Omega-3, ikan sangat relevan untuk mendukung program prioritas penanganan stunting,” pungkasnya.

Terkini