oleh

Temu Tahunan IMF-Word Bank 2018, Sultra Diharap Dorong Sektor Unggulan

-FEATURED-209 dibaca

KENDARI – Dalam rangka pertemuan tahunan (Annual Meeting) IMF-Word Bank 2018 yang bakal menyelenggarakan kegiatan diskusi ekonomi dan keuangan dunia pada Oktober 2018 di Bali, ada beberapa sektor unggulan yang harus diperkenalkan pemerintah Provinsi Sultra dalam kegiatan tersebut.

Delegasi Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) atau Regional Opinion Maker/Ekonom Universitas Halu Oleo (UHO), Dr. Syamsir Nur, SE.,M.Si mengungkapkan, dalam kegiatan diskusi ekonomi dan keuangan dunia, Provinsi Sultra bisa mendorong tiga potensi sektor unggulan antara lain, mendorong komoditas pangan lokal, pengolahan perikanan dan pengembangan pariwisata.

Katanya, kegiatan itu setidaknya memberikan manfaat ekonomi jangka pendek dan jangka panjang bagi Indonesia yang diyakini bahwa daerah pun akan kecipratan manfaat dari kegiatan agenda tersebut.

Syamsir menambahkan, selama perhelatan itu berlangsung tentu pendapatan masyarakat akan meningkat terutama bagi masyarakat yang memiliki usaha di sektor akmamin (akomodasi, makanan dan minuman) dan belhib (belanja dan hiburan) mengingat jumlah peserta sebanyak 15.000 yang kegiatannya berlangsung 7 hari.

“Saya kira ini kesempatan pula bagi masyarakat dan pemerintah Sultra untuk bisa memanfaatkan ivent ini sebagai ajang promosi potensi kita di sektor makanan khususnya pangan lokal dan komoditas sektor perikanan serta pengembangan pariwisata,” ujar Syamsir Nur di salah satu warkop kota Kendari, Rabu (18/07/2018).

Lanjut Syamsir, karenanya dengan kegiatan ini juga akan memberikan penerimaan devisa dan  mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik lagi. Sedangkan untuk manfaat jangka panjang adalah pengenalan produk unggulan Indonesia, peluang investasi dan usaha Indonesia yang dimana potensi ini ada di daerah2, dan juga sebagai ajang untuk memperoleh pembiayaan pembangunan infrastruktur.

“Kita tahu betul bahwa salah satu persoalan ekonomi daerah termasuk di Sultra adalah soal ketersediaan infrastruktur yang diakibatkan oleh keterbatasan pembiayaan,” pungkasnya.


Reporter : Waty

Terkini