oleh

Tradisi Idul Fitri Ala Masyarakat Keraton Buton Mulus Dihelat Ditengah Pandemi

-NEWS-250 dibaca

 

Penulis : Ardilan

BAUBAU – Mulus dihelat, begitu lah ungkapan untuk salah satu tradisi merayakan hari raya Idul Fitri 1442 Hijriyah bagi masyarakat Keraton Buton yang bermukim di Kompleks Benteng Keraton ditengah pandemi Covid-19 yang belum kunjung usai.

Tradisi yang dimaksud yakni aktifitas ekonomi berupa pasar dadakan yang hanya berlangsung selama tiga yaitu hari pertama lebaran hingga hari ketiga. Lokasinya ada di Kelurahan Melai, Kecamatan Murhum tepat disamping Masjid Agung Keraton dan tiang bendera eks Kesultanan Buton yang oleh warga lokal disebut Kasulana Tombi.

Tampak imbauan Karang Taruna Melai agar masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan.

Uniknya, tradisi semacam ini di Kota Baubau hanya terjadi di lokasi yang dulunya merupakan pusat eks Kesultanan Buton. Kegiatan seperti itu hanya terjadi dua kali setahun yakni setiap hari raya Idul Fitri yang baru saja selesai dan hari raya Idul Adha sebagai bentuk kesyukuran atas hari raya umat muslim.

Proses aktifitas ekonomi di tempat itu dimulai setelah pelaksanaan salat Idul Fitri digelar. Biasanya proses jual beli dimulai pukul 08.00 pagi Wita sampai dengan 17.30 Wita. H-1 lebaran, para pedagang yang hendak berjualan akan menyiapkan lapaknya masing-masing.

Meski digelar di Kelurahan Melai, namun tradisi ini bisa diikuti oleh semua masyarakat Kota Baubau. Siapa pun yang ingin berdagang di hari lebaran boleh ikut serta. Namun karena lokasinya yang tidak cukup luas, pedagang yang ingin berjualan disesuaikan dengan luas areal tempat itu.

“Perayaan semacam ini sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Hanya tahun lalu (2020) itu ditiadakan karena lagi puncak-puncaknya pandemi virus Corona. Tahun ini (2021), alhamdulillah bisa diadakan lagi setelah satuan tugas Covid-19 Kota Baubau memberi izin tentu dengan penerapan protokol kesehatan,” ucap Ketua Karang Taruna Melai, Irwadin kepada MEDIAKENDARI.Com, Minggu 16 Mei 2021.

Pria yang akrab disapa Dedi ini mengatakan kegiatan tradisional ini sekaligus mengenang pasar lama zaman dahulu yang berada di depan Masjid Agung Keraton. Ia menyebut, aktifitas jual beli yang berlangsung beragam, mulai dari kuliner seperti bakso, pentol dan tahu, berbagai jenis minuman hingga pernak-pernik untuk anak-anak hingga dewasa.

Ia menjelaskan pihaknya menyiapkan tempat mencuci tangan dan mengatur sedemikian rupa agar para pedagang tidak berkerumun dan menjaga jarak untuk mencegah munculnya klaster baru Covid-19.

“Yang datang kita sampaikan agar memakai masker, jaga jarak dan mencuci tangannya sesuai dengan protokol kesehatannya,” ujar alumni FKIP Unidayan itu.

Sementara itu, salah satu pedagang, Adi mengaku bersyukur tahun ini perayaan lebaran Idul Fitri di Keraton kembali dilaksanakan. Ia pun berterima kasih kepada pemerintah yang sudah memberi izin dengan catatan patuhi protokol kesehatan.

“Cukup senang bisa diadakan kembali karena perputaran ekonomi selama jualan itu lumayan lah,” pungkasnya.

Terkini