oleh

Warga Konsel Keluhkan Debu Proyek Pekerjaan Jalan Ibu kota

ANDOOLO – Pembangunan jalan Kecamatan Andoolo, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra) sepanjang 5,3 Kilo meter berdampak bagi penduduk sekitar dan para pengguna jalan, hal ini dikarenakan debu yang berterbangan dari proyek itu dianggap cukup meresahkan, karena pengerjaan proyek maupun akibat dilintasi pengendara karena tidak dilakukan penyiraman terutama ketika siang hari.

Pembangunan jalan yang berada di wilayah perkantoran Pemerintah Daerah (Pemda) Konsel itu menelan anggaran sekitar Rp. 49 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Konsel, yang dikerjakan oleh perusahaan PT. Sarana Perkasa. Meskipun anggaran cukup besar, tapi sudah sepekan terakhir ini pihak perusahan tidak melakukan penyiraman debu.

Kondisi ini dikeluhkan Jamaruddin, warga yang bermukim diarea pengerjaan proyek jalan ini. Kata dia, sejak proyek jalan dilaksanakan dirinya mengaku terpaksa harus menutup usaha warung makannya. Karena meskipun usahanya itu tetap muka, otomatis tidak akan ada seorang pun pembeli, dikarenakan tempat ia membuka usaha kerap diselimuti debu-debu yang berterbangan.

“Karena banyak debu dari pekerjaan pengerasan jalan ini, yah dengan terpaksa saya harus menutup warung makan saya,” kesalnya, Selasa (23/10/2018) kepada Mediakendari.com

Tidak hanya itu, kata dia, selain resah dengan debu jalan tersebut juga sudah banyak pengendara roda dua yang menjadi korban kecelakaan, hal ini disebabkan kurangnya fasilitas rambu pengalihan arus lalu lintas di lokasi pekerjaan jalan. “selama jalan ini dikerja sudah ada beberapa pengemudi yang kecelakaan,” jelasnya.

Sementara itu Pelaksana PT. Sarana Perkasa, Sutrisno yang ditemui di lokasi pekerjaan jalan mengakui jika selama sepekan ini pihaknya tidak melakukan penyiraman dengan menggunakan mobil penyiram water tank. Hal ini, dikarenakan mobil penyiram tersebut sedang mengalami kerusakan dan sementara proses perbaikan.

“Iya benar sudah ada seminggu tidak perna disiram dengan mobil water tank, karna mobil tersebut sedang mengalami kerusakan. Tapi kami tetap berupaya melakukan alternatif penyiraman dengan tandon/tower yang dimuat oleh mobil pick up,” terangnya.

Dia menambahkan, selama menyiram jalan dengan mobil pick up yang disertai dengan tower pihaknya melakukan penyiraman tujuh kali dalam sehari. Tapi karena kapasitas penampungan airnya sedikit memungkinnya jalan yang sudah disiram cepat kering dan berdebu.

“Dan mengenai rambu pengalihan arah, sejak awal melakukan pekerjaan jalan kita sudah pasang tapi lama kelamaan banyak yang rusak, ataukah memang sengaja disurak. Tapi kedepannya kami akan tetap memperbaikinya,” tutupnya.(a)

Reporter : Erlin


Terkini