oleh

Waspada, Pelaku Penipuan Pasar Modal Incar Investor Pemula di Daerah

-NEWS-248 dibaca

Reporter: Ferito Julyadi

KENDARI – Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, terjadi pertumbuhan jumlah investor secara signifikan meskipun saat ini masih dimasa pandemi Covod-19.

Namun, seiring meningkatnya daya tarik masyarakat untuk berinvestasi saham, hal itu juga haris disertai dengan peningkatan kewaspadaan modus penipuan di pasar modal.

Head of Marketing PT Indo Premier Sekuritas, Paramita Sari dalam keterangan persnya, Jum’at 11 Desember 2020 menyebut, seiring meningkatnya jumlah investor modus penipuan di pasar modal juga ikut berkembang.

“Modus penipuan yang mengincar investor saham semakin canggih dan beragam dengan sasaran investor-investor baru di daerah. Ada berbagai modus penipuan yang menargetkan para investor saham,” ujarnya.

Paramitha menjelaskan, awalnya sasaran utama para penipu adalah membobol akun para investor. Mereka ini mengincar username, password dan secure PIN yang sifatnya pribadi atau personal.

Modusnya, penipu menghubungi korban dengan mengaku sebagai karyawan resmi Indo Premier atau IPOT yang meminta username, password, secure PIN, dan data pribadi penting lainnya.

“Padahal data-data ini sifatnya pribadi dan tidak boleh diketahui pihak lain. Indo Premier tidak pernah meminta username, password dan secure PIN karena ini sifatnya pribadi,” tegasnya.

Tak berhenti di situ, modus penipuan pun memiliki wajah baru dimana penipu menduplikasi akun-akun resmi Instagram (IG) sekuritas yang sudah centang biru dengan akun-akun palsu yang secara tampilan dan isi sama persis.

“Mereka awalnya mem-follow akun-akun yang baru bergabung. Jadi jangan heran, begitu join dengan akun resmi @indopremier akan langsung difollow oleh berjibun akun-akun fake ini,” terangnya.

Menurutnya, modus penipuan dengan model akun IG palsu mengincar korban dengan mengirim pesan atau Direct Massagge (Dm) sobat IPOT yang baru follow @indopremier.

“Penipu bertindak seolah-olah ingin memberikan bantuan atau pertolongan. Penipu beraksi dengan meminta data-data pribadi, mulai nomor telepon, hingga meminta foto ATM yang ujung-ujungnya juga melakukan penipuan,” ujarnya.

Paramitha juga mengungkapkan, ada banyak cara yang dilakukan penipu untuk mendapatkan nomor kontak korban dan melancarkan aksinya untuk menjalankan aksi kriminalnya.

Salah satunya, yakni menghubungi korban dan dengan nada manis untuk seolah-olah ingin memberikan bantuan yang ujung-ujungnya meminta korban mentansfer sejumlah uang ke rekening atau virtual account (VA) penipu.

“Satu-satunya tujuan transfer dana untuk investasi hanya ke Rekening Dana Nasabah (RDN) atas nama nasabah sendiri, bukan ditransfer ke rekening apa pun selain RDN sendiri,” paparnya.

Selama ini, jelas Paramitha, korban lebih banyak yang ada di kota-kota besar. Namun tidak menutup kemungkinan, saat ini penipu juga mengincar investor dan calon investor di daerah.

Oleh sebab itu, edukasi terkait ancaman nyata para penipu ini perlu digencarkan untuk diketahui secara luas oleh investor dan calon investor biar tidak ada korban-korban baru.

“Ketika menemukan kejanggalan atau mengalami kendala tertentu terkait investasi saham, sebaiknya segera menghubungi call center resmi atau channel layanan lainnya seperti email dan akun resmi medsos bercentang biru serta yang terpenting selalu menjaga kerahasiaan data-data yang sifatnya personal,” pungkasnya./A

Terkini