oleh

WON Tanggapi Soal TKI Asal Wakatobi Alami Kecelakaan Kerja di Malaysia dan Luput dari Perhatian Pemerintah Daerah

-NEWS-32 dibaca

KENDARI – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Sulawesi Tenggara (Sultra), Wa Ode Nurhayati (WON) angkat suara soal tenaga kerja Indonesia (TKI) Yai (37) asal Desa Liya Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang mengalami kecelakaan kerja di Malaysia dan luput dari perhatian pemerintah daerah.

WON mengatakan sebagai orang Wakatobi ia menggugat pemerintah daerah, terkait apa yang sudah pemerintah daerah lakukan terhadap korban.

“Saya sebagai orang Wakatobi menggugat pemerintah daerah terkait apa yang sudah mereka lakukan untuk korban,” ujarnya pada mediakendari.com, Sabtu, 15 Januari 2022.

Lanjut WON menegaskan setaunya saat koordinasi dengan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) terkait kejadian ini, pihak kedutaan sudah membantu memastikan korban agar tidak di rugikan oleh perusahaan tempat nya bekerja.

“Setau saya saat koordinasi dengan pihak BP2MI, pihak kedutaan sudah membantu memastikan korban agar tidak di rugikan oleh perusahaan tempat nya bekerja,” bebernya.

Selanjutnya WON mendengar adalagi keluhan dari pihak keluarga terkait pemulihan dan biaya lainnya.

“Pertanyaan saya dimana peran pemerintah daerah, harusnya mereka berkewajiban juga mengurusi orang Wakatobi yang juga adalah pekerja migran diluar negeri,” pintanya.

“Tolonglah pemerintah daerah jangan melulu cuci tangan dan buang badan kepemerintah pusat terkait urusan masyarakat Wakatobi yang ada diluar daerah, mereka tetaplah orang Wakatobi dimanapun mereka berada,” pungkasnya.

Diketahui sebelumnya pada 2 Desember 2021 malam sekitar pukul 23.00 waktu setempat, Yai dijatuhi crame/derek saat kapal ikan tempat dia kerja hendak membuang jaring di laut.

Setelah keluar dari rumah sakit pada 15 Desember 2021, pemerintah Republik Indonesia maupun pihak perusahaan terkesan lepas tangan atas derita yang dialami oleh pahlawan devisa negara ini. Padahal sudah selayaknya pemerintah Indonesia memberikan perhatian dan perlindungan kepada mereka.

Kini hidup Yai bersama istri dan keempat anaknya di Sandakan, Malaysia, terlunta-lunta. Perusahaan tempat dia berkerja hingga mengalami kecelakaan kerja tidak lagi menanggung biaya pengobatannya lebih-lebih biaya hidupnya.

 

Penulis : Sardin.D

Terkini