Bedah Bukunya, AS Tamrin Ungkap Keterkaitan Pancasila dan Polima

Reporter: Ardilan
Editor: Kardin

BANJARMASIN – Wali Kota Baubau, AS Tamrin mendapat kehormatan untuk melakukan bedah buku miliknya yang berjudul “Polima Gema Pancasila dari Baubau” yang menjadi salah satu agenda dalam rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2020 di Hotel Golden Tulip Banjarmasin, Sabtu 8 Februari 2020.

Dihadapan sejumlah Profesor yang menjadi pembahas bukunya itu, AS Tamrin mengungkapkan, keterkaitan antara Pancasila dan buku Polimanya. Keterkaitan dimaksud, menurut dia, keduanya merupakan ideologi pemersatu bangsa.

“Keduanya (Pancasila dan Polima) merupakan filter atas pengaruh budaya luar, sebagai panduan kehidupan dalam interaksi bermasyarakat dan sebagai jati diri dan identitas,” ucap AS Tamrin.

Wali Kota Baubau dua periode ini menerangkan, Polima adalah identitas masyarakat Buton. Sedang Pancasila adalah identitas seluruh masyarakat Indonesia. Dalam penerapannya, dua ideologi tersebut menganut paham kekeluargaan dan gotong royong.

Ia menceritakan, Polima merupakan implementasi dari “Sara Pataanguna” yang tertuang dalam mukadimah martabat tujuh Kesultanan Buton. Nilai ini sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Buton.

“Nilai ini lalu diikat oleh falsafah Binci-binciki Kuli yang berarti tenggang rasa, sifat jujur pada diri sendiri dan representasi sifat religius sebagai causa prima yang merupakan rasa tanpa mengurangi nilai yang lainnya. Setiap nilai dalam Polima mewakili setiap sila Pancasila. Contoh, Po-binci binciki Kuli yang merupakan representasi sifat religius yang berkaitan erat dengan sila pertama,” paparnya.

Dia juga menjelaskan, empat nilai lainnya yang terkandung dalam Polima yakni Po-mamasiaka berarti saling sayang menyayangi sesama manusia berkaitan erat dengan sila ke dua kemanusiaan yang adil dan beradab.

Lalu ada yang disebut Po-maemaeaka yang berarti saling menaggung rasa malu, seperasaan, sepenanggungan, solidaritas dan jiwa bersatu berkaitan erat dengan sila ke tiga, Persatuan Indonesia.

Kemudian, lanjut AS Tamrin, Po-angka Angkataka atau saling menghormati, menghargai dan respresentasi sifat yang bijaksana berkaitan erat dengan sila ke empat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyaratan/perwakilan.

“Terakhir Po-piapiara artinya saling mengayomi dengan memberi pelayanan yang adil terhadap sesama berkaitan erat dengan sila ke lima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keduanya sama-sama memiliki lima nilai,” urainya.

Menanggapi itu, salah satu pembahas buku Polima, Prof Dr Ermaya Wiradinata menganggap, budaya Polima memuat nilai dasar hidup yang patut diaplikasikan.

Dia mengakui, garis besar Polima mengarah pada toleransi, saling menghormati dan menghargai yang juga merupakan nilai terkandung dalam Pancasila sebagai ideologi bangsa.

“Polima sangat menarik. Pak Tamrin ini bukan seorang pencipta, karena pencipta hanya Allah SWT. Tapi dia (AS Tamrin) adalah seorang penggali nilai yang diimplementasikan dalam satu budaya yang disebut Polima. Hal ini yang sangat kita apresiasi,” ujarnya.

Untuk diketahui, pembahas dalam bedah buku Polima ini diantaranya, Prof Dr Ermaya Wiradinata selaku Rektor Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN) yang juga Mantan Gubernur Lemhanas, Prof Dr Hasan Effendi sebagai akademisi IPDN dan Dr Sampara Lukman selaku Direktur Pasca Sarjana IPDN.

Dalam bedah buku tersebut hadir pula perwakilan PWI Pusat, Prof Dr Rajab, Sekda Baubau, Roni Muhtar, Ketua DPRD Baubau, Zahari bersama anggotanya, Dr Tasrifin Tahara selaku Antropolog Unhas, Dewan Juri Anugerah Kebudayaan PWI Pusat.

Turut hadir juga wartawan senior dari PWI Pusat, Sultan Buton, unsur Forkopimda se-Kota Baubau, Kepala OPD lingkup Pemkot Baubau, Kerukunan Keluarga Sulawesi Tenggara (KKST), Srikandi Polima dan sejumlah tamu undangan lainnya.

Yang memandu giat ini adalah Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Baubau, Dr Roni Muhtar sebagai moderator.

Iklan dalam Berita Ana Wonua Distributor Oli Total