ADVBUDAYAKendariKONAWE

Ketua Dekranasda Konawe Trinop Tijasari Peragakan Pakaian Motif Pinetoto’ono di Ajang Tenun Sultra 2023

609
×

Ketua Dekranasda Konawe Trinop Tijasari Peragakan Pakaian Motif Pinetoto’ono di Ajang Tenun Sultra 2023

Sebarkan artikel ini

KONAWE, Mediakendari.com – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Konawe, Trinop Tijasari tampil memukau penonton diajang Sultra Tenun Carnaval (STC) yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Sultra 2023 yang berlangsung selama 2 hari  dimulai tanggal 2 samapi 3 Desember 2023 di Kota Kendari.

Trinop saat tampil dengan anggun di ajang STC, Minggu malam (3/12/2023). tampak menggunakan busana serba merah. Busana itu dihiasi motif khas yang disebut motif Pinetoto’ono yang diangkat dari legenda Wekoila.

Istri Penjabat (Pj) Bupati Konawe Harmin Ramba bilang, Pinetoto’ono memiliki arti manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling mulia, berakal budi, memiliki jiwa kepemimpinan dan mempersatukan tua, muda, miskin, kaya, tanpa membeda-bedakan. Pinetoto’ono merupakan gambaran umum masyarakat Kabupaten Konawe.

“Kami akan tampil dengan kostum bernuansa merah. Warna merah melambangkan kebangsawanan dan simbol keberanian,” ujar Trinop.

Lanjut Trinop, Pinetoto’ono atau orang atau manusia memiliki akal budaya dan budi pekerti. Pinetoto’ono juga memiliki makna empat rahasia dari sifat manusia yang harus ditutup pada dirinya yaitu takdir, jodoh, rejeki, dan kematian.

“Saya berharap seluruh masyarakat Konawe bisa mengikuti dan menyaksikan penampilan Fashion Show Dekranasda Konawe,” harap Trinop.

Diketahui, Masyarakat Tolaki menempati sebuah wilayah di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi; suatu wilayah di mana arah matahari terbit dialiri dua sungai yang sangat besar, dan hulu sungainya tidak jauh dari danau Towuti.

Pada masa sebelum terbentuknya Kerajaan Konawe, terdapat empat kerajaan kecil yang saling berinteraksi yaitu
Kerajaan Padangguni, Kerajaan Besulutu,
Kerajaan Watumendonga dan Kerajaan Wawolesea

Sebagai kerajaan adidaya, Padangguni memindahkan pusat pemerintahannya di Inolobonggadue Unaaha. Setelah perpindahan tersebut muncul seorang perempuan berparas cantik di dampingi 40 pengawal lengkap dengan persenjataannya yang bernama Wekoila.

Wekoila diperbolehkan tinggal di Unaaha dengan syarat menikah dengan Putra Toramalangi yaitu Ramandalangi yang bergelar Langgai Moriana dan berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan kecil yang disebut Kerajaan Konawe

Awal abad ke 11, Wekoila dilantik menjadi Raja Pertama Kerajaan Konawe. Wekoila membuat berkehidupan Masyarakat Tolaki yang disebut O’sara atau Kalo Sara. Kalo Sara ini kemudian menjadi adat budaya falsafah Tolaki. (Red)

You cannot copy content of this page