KENDARl, MEDIAKENDARI.com – Pemerintah Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), terus memperkuat sektor pariwisata berbasis sejarah dan budaya.
Salah satu destinasi yang kini menjadi sorotan dunia adalah kawasan Gua Liang Kabori di Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia, yang dikenal memiliki ratusan lukisan purba dan jejak peradaban manusia sejak puluhan hingga ratusan ribu tahun lalu.
Kabid Pengembangan Sumberdaya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dispar Muna, Azisam, S.S.T. Par, menjelaskan bahwa nama Liang Kabori sendiri berasal dari bahasa Muna.
“Dalam bahasa suku Muna, liang berarti gua dan kaboriberarti tulisan. Kawasan ini memiliki potensi besar untuk pengembangan pariwisata karena menyimpan bukti visual kehidupan manusia purba,” ungkapnya, Kamis, 20 November 2025.
Menurut Azisam, keunikan Liang Kabori tidak hanya terletak pada banyaknya gua dengan lukisan purba, tetapi juga keberadaan layang-layang tertua di dunia yang disebut masyarakat lokal sebagai Kagati Kalope.
“Ini bukan sekadar destinasi wisata, tetapi sebuah situs ilmiah yang telah menarik perhatian peneliti internasional,” tambahnya.
Saat memasuki kawasan wisata, pengunjung terlebih dulu akan menemui Liang Metanduno, salah satu gua dengan lukisan manusia dan hewan yang sangat jelas.
“Di dalam liang ini terdapat lukisan simbol orang yang sedang mengendarai hewan. Dari bentuknya, itu adalah kuda. Lukisannya lebih dari satu dan memiliki ukuran berbeda-beda,” jelas Azisam.
Setelah menjelajahi Liang Metanduno, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke Liang Kabori, yang memiliki gugusan batuan karst dengan bentuk abstrak.
Batuan di dalamnya licin karena sering dibasahi tetesan air, menciptakan suasana lembap dan alami khas gua purba.
“Di beberapa bagian gua, terdapat lukisan manusia, matahari, ular, kuda, rusa, perahu, babi hutan, hingga serangga seperti lipan dan kalajengking,” katanya.
Keunikan seni cadas yang tersebar di berbagai gua di Desa Liang Kabori menjadikan kawasan ini sebagai pusat riset sejarah manusia purba di Asia Tenggara.
Para peneliti dari sejumlah negara telah datang untuk mempelajari lukisan dan budaya prasejarah yang ada di dalamnya.
Tak hanya itu, Kagati Kalope, layang-layang kuno yang ditemukan di kawasan ini menjadi bukti kuat bahwa peradaban masyarakat Muna di masa lalu memiliki teknologi dan ekspresi seni yang maju.
Akses menuju Liang Kabori juga semakin memudahkan wisatawan. Dari pusat Kota Raha, jarak menuju kawasan gua sekitar 17 kilometer, sedangkan dari poros Mabolu – Kontunaga hanya sekitar 6 kilometer.
“Untuk jalan menuju ke Desa Liang Kabori sudah bagus. Memang sesuai arahan Bupati untuk mengembangkan potensi wisata gua,” kata Azisam.
Pemkab Muna di bawah kepemimpinan Bupati H. Bachrun memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan kawasan ini. Pemerintah juga mengimbau masyarakat agar menjaga kelestarian situs, termasuk mencegah tindakan vandalisme yang dapat merusak lukisan-lukisan berharga tersebut.
Untuk mendorong popularitas destinasi, Pemkab Muna rutin menggelar Festival Liang Kabori, sebuah ajang budaya yang menampilkan atraksi seni tradisi, pameran kerajinan lokal, hingga tur edukatif ke kawasan gua.
Azisam menegaskan bahwa Liang Kabori bukan hanya bernilai sejarah tinggi, tetapi juga berpotensi besar sebagai motor ekonomi masyarakat setempat.
“Kami mengajak wisatawan untuk datang dan merasakan langsung pesona alam Desa Liang Kabori yang masih terjaga. Ini adalah ikon penting Kabupaten Muna, warisan yang harus kita lestarikan bersama,” tutupnya.
