Reporter : Fito
Editor : Kang Upi
KENDARI – Aksi protes yang dilakukan warga sekitar jalan H. Lamuse, Kelurahan Lepo Lepo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari yang memblokir akses jalan, karena banyaknya debu akibat tumpukan material proyek ditanggapi Komisi III DPRD Kota Kendari.
Ketua Komisi III DPRD Kota Kendari, Rajab Jinik, yang menangani Bidang Pembangunan dan Kesra ini mendesak Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Sultra untuk segera turun tangan.
Rajab juga menjelaskan, setelah menerima masukan dari masyarakat yang terdampak debu proyek jalan di Kelurahan Lepo-lepo tersebut, dirinya langsung turun ke lokasi untuk melihat langsung kondisi masyarakat.
Namun, karena proyek tersebut bukan program kerja Pemerintah Kota Kendari sesuai status jalan tersebut sebagai jalan provinsi, maka kewenangan berada di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Sultra.
Baca Juga :
- Indomie Berangkatkan 11.300 Pemudik Mitra Warmindo Lewat Program Mudik Bersama 2026
- Pertamina Pastikan Stok LPG 3 Kg di Sultra Aman Selama Ramadan
- BEM UHO Gelar Sedekah Ramadhan di Panti Asuhan, Tebar Kepedulian di Bulan Suci
- DLH Sultra Sebut Izin PT Bahana Wastecare Tak Tercatat, Puskom Desak Aktivitas Dihentikan
- LIRA Sultra Desak BPK RI Audit Tambang Nikel PT SCM, Smelter Dinilai Belum Terealisasi
- Usai Kunjungi Pospam di Konawe, Kapolda Sultra Lanjut Safari Ramadan di Rujab Bupati
“Kemarin ada masukan dari masyarakat, kami cek langsung ke lapangan. Kami meminta Dinas PU untuk melakukan penyiraman jalan, karena sangat jelas dampaknya ke masyarakat, bisa menimbulkan penyakit,” tegasnya, di DPRD Kota Kendari, Kamis (17/10/2019).
Sementara itu, ditemui mediakendari.com, salah seorang warga di jalan H. Lamuse, Dio, menjelaskan, warga sekitar sudah resah dengan debu yang mengganggu baik warga setempat maupun, pengendara yang melintas.
Tidak hanya dari sisi kesehatan, akibat debu pekat yang ditimbulkan proyek jalan tersebut warung-warung milik warga harus ditutup, sehingga warga mengalami kerugian secara ekonomi.
Ia juga menuturkan jika pengerjaan jalan raya sepanjang 5 kilometer tersebut dimulai sejak Agustus 2019 lalu, namun sampai sekarang belum ada kelanjutan rencana perbaikan.
“Kami yang punya kios-kios setenga mati, karena tidak ada yang mau datang membeli, jadi kami terpaksa tutup,” ungkap Dio, kiosnya yang kini sudah tutup.
