oleh

Pelojo Kembali Riuh

Penulis : Ardilan

BAUBAU – Suku bangsa Wolio di Kepulauan Buton (Kepton), Sulawesi Tenggara (Sultra) terkenal dengan beragam warisan adat dan budaya, salah satunya permainan tradisional rakyat yang oleh warga lokal menyebutnya “Pelojo”.

Namun seiring perkembangan zaman, permainan ini nyaris terlupakan. Situasi dunia yang dibuat pontang-panting akibat pandemi Covid-19 yang merebak pada tahun 2020 mencegah peminat pelojo memainkan kembali permainan itu.

Padahal Karang Taruna setempat yaitu Karang Taruna (Karta) Lelemangura Kelurahan Melai Kota Baubau sebelumnya pernah mengadakan kegiatan perlombaan pelojo memperingati hari ulang tahun (HUT) RI di tahun 2019 lalu.

Seiring berjalan waktu, kondisi Kota Baubau saat ini yang berada di zona hijau Covid-19 memberi kesempatan untuk para pemuda-pemudi masyarakat Wolio membuat Pelojo kembali riuh.

“Alhamdulillah permainan tradisional Lojo ini sudah mulai di gemari oleh anak-anak. Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau juga akan mengadakan turnamen pelojo untuk memeriahkan HUT kota tahun ini (2021),” ungkap Ketua Karta Lelemangura, Irwadin kepada Mediakendari.com, Senin 11 Oktober 2021.

Pria yang akrab disapa Dedi ini mengatakan Pelojo merupakan salah satu jenis permainan tradisional yang populer sejak zaman dahulu yang dimainkan oleh anak laki-laki pada sore hari.

Dedi menjelaskan untuk memainkan pelojo hanya butuh alat sederhana seperti lojo yang
terbuat dari tempurung kelapa kering. Kemudian kasuka yang berfungsi sebagai penapak atau alat pemukul yang terbuat dari sebilah bambu. Pelojo biasanya dimainkan diareal tanah lapang yang datar atau dihalaman rumah. Namun sangat kelihatan serunya saat di mainkan di atas jalan raya.

“Ukuran Lojo biasanya lima sampai tujuh sentimeter dan memiliki ketebalan satu hingga dua sentimeter. Bentuknya bermacam- macam. Ada yang berbentuk segitiga, bundar dan berbentuk hati. Setiap lojo harus di lubangi pada sisi depannya sebagai tempat bersandarnya alat pemukul saat melakukan aksi penembakan. Alat pemukul yang
digunakan untuk mendorong lojo terbuat dari bambu dengan panjang sekitar 40 sentimeter dan lebar dua sentimeter,” terangnya.

Ia menambahkan mengingat situasi daerah saat ini masih dalam kondisi pandemi pihaknya melakukan seleksi peserta tingkat Kelurahan untuk mencari perwakilan Kelurahan Melai di ajang turnamen Pelojo tingkat Kota dengan tetap menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker.

“Permainan ini sangat digemari oleh anak laki-laki ataupun dewasa pada zamannya karena
mengandung nilai-nilai sosial dan keseruan tersendiri, yaitu kekompakan, ketangkasan,
ketenangan dan rasa kebersamaan. Kami juga akan mencoba memunculkan kembali permainan tradisional lainnya yang hampir punah sebagai upaya melestarikan kearifan lokal,” pungkas Alumni FKIP Unidayan itu.

Terkini