AFRIKA – PRESIDEN Aljazair Abdelaziz Bouteflika, yang telah berkuasa selama dua puluh tahun, hari Senin (11/3) membatalkan rencana untuk mengikuti pemilu guna memenangkan masa jabatan kelima. Hal ini disampaikan setelah meluasnya aksi protes yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang mengkritisi kelayakannya untuk kembali menjabat. Penundaan pelaksanaan pemilu serentak secara terus menerus telah membuat para pengecamnya menilai Bouteflika berniat mempertahankan kekuasaan.
Presiden Bouteflika, yang sejak terkena serangan stroke pada tahun 2013 jarang terlihat di depan publik dan baru saja kembali dari perawatan kesehatan di Jenewa dua minggu lalu, berjanji akan membentuk sebuah panel untuk merencanakan pelaksanaan pemilu dan pemerintahan sementara.
Baca Juga :
- Masa Jabatan Berakhir, Kini Nurnining Ditunjuk Jadi Plt Ketua DPD II Golkar Konawe, Siap Gelar Musda
- Gubernur Sultra Andi Sumangerukka Dilaporkan ke KPK! Diduga Terima Aliran Dana Tambang Rp 2,09 Triliun PT TMS
- Golkar Konawe Buka Pintu untuk Semua Kader, Termasuk Purnama Saboli, Musda Tunggu Jadwal Resmi DPD I Golkar Sultra
- Dua Tahun Gubernur ASR Memimpin Sultra, FPKPK Soroti Kinerja Pemerintahan
- LIRA Desak Kejati Telusuri Dugaan Dana Pilkada Gubernur Sultra ASR dari PT TMS, Soroti Denda Rp2,09 Triliun
- Kejati Sultra Soroti Tambang Pulau Pulau, Sugeng: Kita Cek dan Verifikasi
Dalam sebuah surat kepada rakyat Aljazair, sebagaimana dirilis kantor berita APS hari Senin, Bouteflika – yang kini berusia 82 tahun – menekankan pentingnya melibatkan anak muda Aljazair yang sempat kecewa dalam proses reformasi sebelumnya. Ia menggarisbawahi perlunya “menyerahkan negara itu ke tangan generasi baru.”
Tetapi bagi banyak rakyat, dan terutama para demonstran, kalimat paling penting dalam surat presiden itu adalah “tidak akan ada masa jabatan kelima.”
Tak lama setelah kabar soal surat presiden itu meluas, perayaan tampak berlangsung di jalan-jalan kota Aljir. Mobil-mobil membunyikan klakson dan orang-orang bersorak sorai, melambaikan tangan dan bendera, sebagian menyanyikan lagu kebangsaan negara itu. Sebagian mengucapkan terima kasih kepada Bouteflika. Lainnya menggambarkan perkembangan itu sebagai “sinar matahari sesungguhnya.”
Baca Juga :
- Gubernur Sultra Andi Sumangerukka Dilaporkan ke KPK! Diduga Terima Aliran Dana Tambang Rp 2,09 Triliun PT TMS
- Ampuh Sultra Harapkan Pemilik IUP Tak Salah Gunakan Kepmen ESDM 365 untuk Monopoli Jasa Pertambangan
- Jalin Kerjasama Publikasi Jangka Panjang, Komisaris MEK TV Berikan Sertifikat Penghargaan Kepada Perwakilan Manajemen Huayou Cobalt dan Apresiasi IPIP Pomalaa sebagai Pusat Hilirisasi Baru di Sultra
- Tak Miliki PKKPRL dan AMDAL, Izin Tersus PT TMN Dicabut Kemenhub Tapi Masih Ngeyel Beroperasi – GERAK Sultra Desak Kejati Turun
- Proyek Hilirisasi Miliaran Dolar Terancam Seret, Komisi XII DPR RI : Kepastian RKAB Harga Mati
- Peringati HUT ke-30, Polda Sultra Gelar Doa Bersama Hadirkan Ustadz Das’ad Latif
Meskipun demikian banyak warga yang masih khawatir karena tahu persis bahwa pernyataan Bouteflika itu baru langkah pertama. Presiden itu tidak memberi rincian tanggal atau tenggat pemilu yang direncanakan. Dalam suratnya ia hanya mengatakan “konferensi nasional” yang dibentuknya akan merencanakan pemilu dan sekaligus bertanggungjawab merancang konstitusi baru Aljazair.
Ia juga mengatakan akan mengumumkan pemerintahan sementara. Perubahan terjadi dalam beberapa jam kemudian.
Seorang tokoh yang setia pada Bouteflika dan kini menjabat sebagai menteri dalam negeri, Noureddine Bedoui, diangkat menjadi perdana menteri dan dimandatkan untuk membantu pemerintahan baru, demikian menurut kantor berita Aljazair APS. [em]
