Prodi Jurnalistik UHO, Wartawan vs AI: Siapa Lebih Unggul dalam Menggali Kebenaran?
– Bincang Kita di Studio MEK TV Bersama Prodi Jurnalistik UHO
KENDARI, Mediakendari.com – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah berbagai pekerjaan, termasuk dunia jurnalistik. Namun, kemampuan AI dalam mengolah informasi belum serta-merta membuat peran wartawan dapat digantikan.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam program Bincang Kita yang digelar di Studio MEK TV bersama Prodi Jurnalistik Universitas Halu Oleo (UHO), dengan tema “Wartawan vs AI: Siapa Lebih Unggul dalam Menggali Kebenaran?”
Bincang yang dipandu host Mayang Andini tersebut menghadirkan La Ode Herman, S.IP., M.I.Kom., sebagai narasumber.
Diskusi menyoroti perbedaan peran wartawan dan AI, khususnya dalam proses pengumpulan informasi, wawancara, hingga verifikasi berita.
La Ode Herman menjelaskan, salah satu perbedaan mendasar antara wartawan dan AI terlihat dari cara keduanya memperoleh informasi.
Menurutnya, wartawan memiliki kemampuan untuk turun langsung ke lapangan, mengamati peristiwa, melakukan wawancara, serta menggali keterangan dari sumber secara langsung. Sementara AI bekerja dengan mengolah informasi dan data yang telah tersedia.
“Oke. Kalau saya rangkum dari beberapa aspek ya, misalnya saya lihat dari aspek mengumpulkan informasi. Wartawan itu kan langsung bisa mewawancarai secara langsung, sementara AI itu hanya mengolah informasi yang sudah ada,” ujar La Ode Herman dalam sesi bincang tersebut.
Ia menambahkan, kemampuan wartawan untuk hadir secara langsung di lokasi kejadian menjadi salah satu aspek penting yang membedakan kerja jurnalistik dengan kemampuan AI.
Jurnalis dapat melihat situasi secara langsung, berinteraksi dengan narasumber, mengajukan pertanyaan lanjutan, sekaligus menggali informasi baru yang belum tersedia dalam sumber digital.
Sementara itu, AI pada dasarnya bekerja dengan mengolah informasi yang tersedia atau informasi yang diberikan kepadanya.
“Kalau wartawan bisa langsung turun ke lapangan, bisa bertanya kepada orang yang mengalami peristiwa. Dari situ wartawan mendapatkan informasi baru,” jelasnya.
Menurut La Ode Herman, perbedaan tersebut menjadi penting ketika sebuah berita membutuhkan pendalaman dan konfirmasi langsung dari pihak-pihak yang berkaitan dengan suatu peristiwa.
Verifikasi Jadi Kunci
Selain pengumpulan informasi, aspek verifikasi juga menjadi perhatian dalam diskusi tersebut.
Dalam kerja jurnalistik, verifikasi merupakan tahapan penting untuk memastikan informasi yang diperoleh benar sebelum disajikan kepada publik. Wartawan dituntut melakukan pengecekan kepada sumber, membandingkan informasi, melakukan konfirmasi, serta memastikan fakta yang ditemukan di lapangan.
Kemampuan tersebut membuat kerja jurnalistik tidak hanya sebatas mengumpulkan dan menyusun informasi, tetapi juga menentukan apakah informasi tersebut benar dan layak dipublikasikan.
Di sisi lain, AI dapat membantu jurnalis dalam berbagai pekerjaan teknis, seperti mengolah data, merangkum dokumen, menemukan pola informasi, hingga mempercepat proses produksi bahan berita.
Namun, teknologi tersebut tetap membutuhkan manusia untuk memberikan konteks, melakukan pengecekan fakta, dan mengambil keputusan jurnalistik.
Diskusi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kehadiran AI tidak harus selalu dipandang sebagai ancaman bagi profesi wartawan.
Sebaliknya, AI dapat ditempatkan sebagai alat bantu kerja jurnalistik, sementara kemampuan turun ke lapangan, melakukan wawancara, membangun komunikasi dengan narasumber, melakukan verifikasi, serta menggali fakta menjadi kekuatan yang tetap melekat pada profesi jurnalis.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, tantangan bagi wartawan bukan semata-mata soal apakah AI akan menggantikan manusia.
Pertanyaan yang lebih penting adalah sejauh mana wartawan mampu beradaptasi dengan AI tanpa kehilangan prinsip dasar jurnalistik: fakta, verifikasi, independensi, dan kepentingan publik.
Liputan : Rian Mahasiswa Jurusan Jurnalistik UHO (Magang)
Editor : Redaksi.
