Profil Asrun Lio, Dari Bangku Akademisi Kini Jadi “Jendral” ASN Pemprov Sultra

NEWS542 dibaca

KENDARI, MEDIAKENDARI.COM – Setelah melalui proses asesmen menggunakan ujian tipe kompleks, akhirnya akademisi asal Bombana, Drs Asrun Lio MHum PhD berhasil meraih rangking tertinggi dan mendapatkan persetujuan Presiden RI untuk dilantik menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) definitif Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Persetujuan dari orang nomor satu di Indonesia tersebut tertuang melalui SK Presiden RI Nomor 166/TPA Tahun 2022, dimana memuat tentang pemberhentian Drs Asrun Lio MHum PhD sebagai Pj dan ditetapkan menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) definitif Provinsi Sulawesi Tenggara.

Pelantikan yang dilakukan oleh Gubernur Sultra, H Ali Mazi SH tersebut berlangsung pada Hari Rabu (11/01/22) sekitar pukul 11.00 WITA, bertempat di Gedung Aula Merah Putih Rujab Gubernur Sultra.

Sejak bergabung di Pemerintahan Provinsi Sultra dibawah kepimpinan Ali Mazi-Lukman Abunawas, nama Asrun Lio seolah melecit dari segi prestasi dan kinerja.

Bahkan loyalitasnya pun tak diragukan lagi sehingga sejak awal, aura kepimpinan pun telah tajam tercium, meskipun oleh Asrun Lio sendiri belum menyadari sebab prinsipnya bagaimana tetap menjalankan tugas dan tanggung jawab sepenuh hati dan dedikasi tinggi.

Berada pada posisi tertinggi pada jenjang karier sebagai ASN saat ini, sebelumnya Asrun Lio telah melalui proses dan perjalanan cukup panjang, sehingga tidak heran melalui pengalaman yang dimilikinya, dirinya kurang lebih mampu menganalisis masalah menuju solusi terbaik.

Dalam menjalankan kepimpinannya baik saat di dunia akademisi, di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sultra maupun sebagai Pj Sekda Pemprov Sultra, Asrun Lio juga mampu menerapkan berbagai tipe kepemimpinan, yakni ada saatnya pembinaan, demokratis, hingga otoriter.

Jika menyakut hal prinsip dan mengarah pada atisipasi agar tidak terjadi masalah ataupun penyimpangan. Namun yang lebih dominan yakni bagaimana membangun hubungan orang tua dan anak kepada bawahan.

Untuk mengenal lebih jauh sosok Asrun Lio, berikut perjalanan kariernya. Sebelum mejabat sebagai Jendral ASN atau Sekda di Pemprov Sultra, dia dipercayakan menjadi pimpinan tertinggi pada lingkup Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Sultra oleh Gubernur Sultra, H Ali Mazi SH. Selanjutnya menjadi Plh Sekda Pemprov Sultra.

Sekda Sultra, Asrun Lio yang baru saja dilantik bersama keluarga. (Foto: Rahmat R)

Suami Dra Wa Ode Munanah ini termasuk pejabat yang dinilai berhasil melaksanakan tugas yang diembannya. Selain di pendidikan di Sultra, khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN)/ Sekolah Menengah Atas Swasta (SMAS), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Sekolah Luar Biasa (SLB) hingga tataran birokrasi, khususnya pada bidang pelayanan dinas yang melayani 17 kabupaten kota di Sultra, banyak mengalami perkembangan.

Termasuk selama menjabat Plh Sekda Pemprov Sultra, Asrun Lio cepat tanggap terhadap isu-isu penting dan mendesak untuk direspon.

Berikut untuk mengenal latar belakang perjalanan karier pria yang menyelesaikan studi S3 tahun 2015 di negeri Kangguru Australia, The Australian National University of Cambera ini yang dikutip dari sumber data Dikbud Sultra :

1. Sebelum bergabung di birokrasi Pemprov Sultra, Asrun Lio pernah sebagai Konsultan Proyek Peningkatan Mutu SLTP.

2. Pernah menjadi Kepala Pusat Studi Eropa UHO.
3. Pernah menjadi Kepala Sekretariat Rektor UHO.

4. Pernah menjadi Sekretaris Dewan Kehormatan Kode Etik UHO.
Prestasi Selama Bergabung di Birokrasi Pemprov Sultra :

1. Peringkat satu Rata-rata Indeks Efektivitas Tertinggi Layanan Pendidikan se-Sultra tahun 2019, dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Sultra, tepatnya pada satu tahun kepemimpinan sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemprov Sultra.

2. Juara 1 Diklat PIM III di BPSDM Provinsi Sultra 2019.

3. 90 persen sekolah di bawah naungan Dikbud Sultra terakreditasi B. Ini karena dinilai mampu mengatasi keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan dan kekurangan tenaga guru. Pada awal tahun penugasan di lingkup Dikbud Sultra tahun 2018, Dikbud Sultra mampu meningkatkan akreditasi pendidikan Sultra dari posisi ketiga paling bawah, menjadi posisi 17 besar nasional tahun 2019, dan tahun 2020 terangkat menjadi 10 besar nasional.

4. Penambahan pembangunan Kantor Dikbud Sultra sehingga pelayanan pendidikan terpusat pada satu lokasi saja.

5. Bidang budaya, dibawah komandonya, Dikbud Sultra berhasil memberikan label pada 15 Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) secara nasional, sehingga total keseluruhan pada Tahun 2022 mencapai 27 WBTB. Jumlah ini terbilang terbanyak dibandingkan kepemimpinan sebelumnya.

6. Penghargaan budaya oleh Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) diterima Pemprov Sultra dari Universitas Haluoleo yang telah mendapat mengakuan dari UNESCO, pada festival pantun daerah tahun 2020, yang dapat mendongkrat Indeks Pembangunan Kebudayaan atau IPK Sultra yang masih berada di bawah 50 persen.

7. Dikbud Sultra bersinergis dengan Dinas Pemuda dan Olahraga Sultra, melalui kesepakatan yang dituangkan dalam MoU pada 2 Februari 2021, dimana pengelolaan keberbakatan Sekolah Keberbakatan Olahragara (SKO) diserahkan kepada Dispora Sultra, sementara kurikulum tetap menjadi kewenangan Dikbud Sultra. Ini membuat Sultra menjadi tercepat ke-2 se Indonesia melakukan pelaporan sinergisitas dua instansi yang mendukung penyediaan bibit unggul bidang keberbakatan di tanah air.

8. Pemerintah Sultra melalui Dikbud Sultra pun menunjukkan keseriusan dalam melestarikan sejarah nasional, memperjuankan dikeluarkannya Kepres Nomor 120/TK/Tahun 20219 oleh Presiden Joko Widodo atas penetapan Pahlawan Nasional kepada Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau Oputa Yi Koo, yang berkuasa selama dua periode sebagai Sultan Buton ke-20 tahun 1752-1755, dan ke-23 tahun 1760-1763, atas jasanya berjuang mengusir penjajah Belanda di Pulau Buton,” papar mantan Ketua Panwas Provinsi Sultra tahun 2007/2008 ini.

9. Mampu melakukan pembenahan kelembagaan hingga peningkatan kompetensi SLB, diantaranya Sultra berhasil masuk 10 besar nasional best practice autis dan tuna netra dan berhasil menyumbangkan dua orang master teacher skala nasional.

10. Berhasil melakukan perubahan kelembagaan dari SDLB Negeri menjadi SLB Negeri sehingga cakupan pelayanan pendidikan SLB yang diberikan, tidak hanya sebatas usia SD saja, namun juga mulai dari tingkat TK, SMP, hingga SMA. Dengan demikian, semua SLB yang tersebar di seluruh wilayah Sultra dapat terbaca di Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

11. Sertifikasi kompetensi tim ahli cagar budaya yang kini jumlahnya diatas 70 orang dan tersebar di 17 kabupaten kota se Provinsi Sultra, hal ini menjadi perhatian penting mengingat banyaknya cagar budaya Sultra yang harus dinilai, dijaga dikembangkan, dan disebarluaskan keberadaan serta informasinya.

12. Menyediakan 3.750 Guru Tetap Bukan Pegawai Negeri Sipil (GTBPNS), baik guru SMA, SMK, SLB sebagai tenaga honorer yang tersebar di 17 kabupaten kota se Sultra, melalui SK Gubernur Nomor 137 Tahun 2021.

13. Melahirkan program unggulan dan inovatif berupa Proyek Perubahan Perau Gadik (Penataan, pemerataan guru, dan tenaga kependidikan), yakni sebuah sistem aplikasi penataan dan pemerataan guru, dimana proses pemindahan atau pemutasian guru dan tenaga pendidik tidak dilakukan secara manual, melainkan dipindahkan oleh sistem dengan dasar pertimbangan tertentu, guna mengisi kekosongan di wilayah yang diperlukan.

14. Terkait meningkatkan kualitas tenaga pendidik, Dikbud Sultra memprioritaskan pelatihan-pelatihan peningkatan mutu tenaga pendidik. Seperti menjalin kemitraan luar negeri dengan President The International Assosiation of Management and Human Resources Development (IAMHRD), yang merupakan lembaga internasional dan memiliki keahlian dalam pengembangan Sumber Daya Manusia, yang memberikan kesempatan bagi Dikbud Sultra untuk melakukan kerjasama terkait peningkatan kapasitas guru dan kepala sekolah.

Reporter : Rahmat R.