Wa Ode Rabia : Sistem Proporsional Terbuka Lebih Mementingkan Aspirasi Masyarkat

NEWS468 dibaca

KENDARI, MEDIAKENDARI.COM – Ramai gugatan mengenai sistem pemilihan umum (pemilu) diusulkan dilakukan secara proporsional tertutup pada Pemilu 2024.

Isu itu mencuat seiring dengan uji materi terhadap Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Artinya, jika MK mengabulkan gugatan itu, maka Pemilu 2024 akan dilakukan dengan sistem proporsional tertutup.

Lalu, apa perbedaan sistem pemilu proporsional tertutup dengan sistem proporsional terbuka?

Dilansir dari Kompas.com, Senin (2/1/2023), sistem proporsional terbuka adalah sistem pemilu di mana pemilih bisa langsung memilih calon anggota legislatif (caleg) yang diusung oleh partai politik peserta pemilu.

Sementara, sistem proporsional tertutup adalah sistem pemilu di mana pemilih tidak langsung memilih calon anggota legislatif.

Menanggapi hal ini, Wa Ode Rabia Al Adawia Ridwan, Anggota DPD RI Dapil Sulawesi Tenggara (Sultra) menilai sistem proporsional terbuka lebih mementingkan aspirasi masyarakat.

“Proporsional terbuka lebih menjamin masyarkat, selain itu pemilih dapat mengenali secara detil figur caleg yang akan dipilih. Baik dari profil maupun tawaran program dan rencana kinerja tiap-tiap caleg,” katanya saat dihubungi, Jum’at (13/01/23).

Selanjutnya, Rabia menilai sistem ini lebih berpihak kepada masyarakat.

“Sistem ini benar-benar menerapkan konsep daulat rakyat dengan menyediakan opsi caleg yang variatif tentu dengan basis kualitas yang tergambar melalui visi misi program yang terukur,” terang Senator asal Bumi Anoa ini.

Dalam penilaiannya, Rabiah menuturkan, demokrasi lebih tumbuh pada basis konstituen.

“Secara tidak langsung prinsip “rakyat berdaulat” semakin terimplementasi. Rakyat sebagai poros utama demokrasi, bukan termonopoli oleh komunikasi elit,” tukasnya.

Reporter : Rahmat R.