KAMPUSKENDARIMETRO KOTAPENDIDIKAN

Dari IAIN ke UIN Kendari: Sekadar Ganti Nama atau Lonjakan Mutu?

682
Alumni IAIN Kendari tahun 2017, penulis buku Namaku Tenggara, Tasnur Tehangga

KENDARI, MEDIAKENDARI.com – Rencana peralihan status Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Kendari menuai beragam tanggapan dari kalangan akademisi, mahasiswa, dan alumni.

Salah satunya datang dari alumni IAIN Kendari tahun 2017, penulis buku Namaku Tenggara, Tasnur Tehangga, yang menilai perubahan status tersebut tidak boleh hanya sebatas pergantian nama, melainkan harus dibarengi dengan peningkatan kualitas pendidikan dan lulusan.

Dalam pernyataannya pada Jumat (30/1/2026), Tasnur mempertanyakan apakah perubahan status dari institut menjadi universitas benar-benar mampu memberikan dampak nyata terhadap mutu akademik dan daya saing lulusan.

“Peralihan status bukan sekadar mengubah nama dari Institut menjadi Universitas, tapi harus beriringan dengan inovasi dan program kreatif lembaga pendidikan,” ujar Tasnur.

Menurutnya, tantangan terbesar perguruan tinggi saat ini adalah menciptakan tenaga pendidik yang kompeten, sekaligus melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kritis terhadap dinamika sosial, kebijakan publik, serta persoalan keagamaan, kebangsaan, dan kenegaraan.

Tasnur juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang inovatif dan partisipatif, di mana mahasiswa ditempatkan sebagai subjek utama dalam pengembangan kampus, bukan sekadar pelengkap dalam kegiatan seremonial.

“Mahasiswa harus aktif dilibatkan, menjadi pusat aktivitas kampus. Bukan hanya hadir sebagai penonton dalam berbagai agenda perguruan tinggi,” tegasnya.

Ia turut menyoroti persoalan klasik yang masih menghantui mahasiswa dan alumni, khususnya dari jurusan pendidikan, yakni ketidakpastian masa depan profesi guru. Menurutnya, pembatasan penerimaan guru pegawai negeri, di tengah terus bertambahnya lulusan sarjana pendidikan, menciptakan dilema serius di dunia pendidikan.

“Profesi guru masih menjadi hantu bagi banyak mahasiswa dan alumni. Banyak yang akhirnya terjebak menjadi guru honorer dengan penghasilan yang jauh dari kata layak,” ungkapnya.

Tasnur menilai kondisi tersebut sebagai “bom waktu” karena tidak seimbangnya jumlah lulusan dengan ketersediaan lapangan kerja. Ia menegaskan, perubahan status IAIN Kendari menjadi UIN Kendari seharusnya menjadi momentum untuk merombak pola pendidikan agar lebih progresif dan adaptif terhadap kebutuhan zaman.

“Perubahan status tidak boleh hanya dipajang di gerbang kampus dan kop surat. Harus mampu mengubah rasa takut mahasiswa menjadi peluang,” katanya.

Ia juga mendorong inovasi dalam pengembangan program studi, termasuk merancang kurikulum yang lebih fleksibel dan relevan dengan kebutuhan pasar kerja, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

Menurutnya, lulusan program pendidikan harus dibekali kompetensi yang memungkinkan mereka bersaing di sektor lain, seperti manajemen, sumber daya manusia, hingga industri.
Meski menyampaikan kritik, Tasnur tetap menilai perubahan status menjadi UIN Kendari sebagai sebuah pencapaian besar yang patut diapresiasi.

“Ini adalah capaian membanggakan bagi perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama. Status UIN dapat memperkuat visi kampus sebagai pusat pengembangan dan pengkajian Islam di Sulawesi Tenggara,” pungkasnya.

Ia berharap, transformasi tersebut benar-benar menjadi langkah strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi di Sulawesi Tenggara, sejalan dengan visi Kota Kendari sebagai “Kota Bertakwa.”

Laporan: Ahmad Mubarak

You cannot copy content of this page

You cannot print contents of this website.
Exit mobile version