KENDARI, MEDIAKENDARI.com – Dunia pendidikan di Sulawesi Tenggara (Sultra) tahun ini mendapat angin segar. Pemerintah Provinsi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sultra menunjukkan komitmen nyata untuk menjadikan guru dan siswa sebagai prioritas utama pembangunan sumber daya manusia.
Tak hanya fokus pada guru Aparatur Sipil Negara (ASN), perhatian besar kini diarahkan pada guru non-ASN dan anak-anak dari keluarga kurang mampu yang selama ini kerap luput dari sorotan.
Plt. Kepala Dikbud Sultra, Prof. Dr. Aris, S.Pd., M.Hum., menjelaskan bahwa pemerintah provinsi ingin memastikan semua tenaga pendidik dan peserta didik mendapat perhatian yang adil.
“Selain guru ASN, kami memberikan perhatian besar kepada guru non-ASN. Tahun ini, kami telah menganggarkan bantuan kesejahteraan untuk 885 guru non-ASN agar mereka bisa lebih nyaman dan termotivasi dalam mengajar,” ungkapnya, Kamis, 21 Agustus 2025.
Program ini hadir sebagai wujud kepedulian terhadap guru honorer yang selama ini sering menghadapi keterbatasan kesejahteraan. Dengan dukungan ini, diharapkan kualitas pengajaran di sekolah-sekolah, termasuk di daerah pelosok, semakin meningkat.
Tak hanya guru, perhatian juga tertuju pada peserta didik, terutama yang berasal dari keluarga prasejahtera. Prof. Aris menyebutkan, tahun ini Dikbud Sultra akan mengintervensi kebutuhan siswa kurang mampu, mulai dari penyediaan seragam sekolah hingga pemberian beasiswa.
“Kami memahami bahwa keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang untuk anak-anak kita melanjutkan sekolah. Untuk itu, kami hadir dengan program bantuan seperti seragam gratis dan beasiswa,” kata Prof. Aris.
Menurutnya, ada dua jenis beasiswa yang tengah berjalan untuk tingkat SMA, SMK, dan SLB, yaitu Program Indonesia Pintar (PIP) dari pemerintah pusat dan bantuan siswa miskin dari pemerintah provinsi.
“Walaupun jumlahnya masih terbatas, kedua program ini adalah bukti nyata keberpihakan pemerintah terhadap anak-anak Sultra yang kurang mampu,” jelasnya.
Menariknya, perhatian pemerintah tidak berhenti di situ. Anak-anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas juga mendapat tempat di hati Dikbud Sultra.
“Kami juga memiliki sekolah luar biasa (SLB) yang menjadi wadah bagi anak-anak disabilitas untuk berkembang. Walaupun anggaran yang ada masih terbatas, kami berusaha memberikan bantuan yang memadai untuk mereka,” ujar Prof. Aris.
Ia menegaskan, seluruh program tersebut tidak bersifat sementara. Pemerintah provinsi merancang agar bantuan ini berkelanjutan dan terus ditingkatkan dari sisi jumlah penerima maupun kualitas program.
“Tahun depan kami akan menambah kuantitas penerima manfaat dan meningkatkan kualitas bantuan. Pendidikan adalah investasi jangka panjang, dan kami ingin memastikan setiap anak di Sultra bisa meraih masa depan yang lebih baik,” tegasnya.
Melalui berbagai program ini, Dikbud Sultra ingin menghapus kesenjangan dan menghadirkan pemerataan pendidikan. Guru honorer tidak lagi merasa dipinggirkan, dan anak-anak dari keluarga tidak mampu pun dapat belajar dengan rasa percaya diri.
“Harapan kami, semua anak dan guru memiliki kesempatan yang sama. Dengan begitu, Sultra bisa mencetak generasi muda yang unggul dan siap bersaing,” tutup Prof. Aris.
