oleh

Sekda Konawe Ungkap Sosok Kepemimpinan Bupati KSK, Selama Ini Ternyata Begini

-NEWS-245 dibaca

KONAWE – Sekertaris daerah (Sekda) Kabupaten Konawe Ferdinand Sapan kini mengungkapkan model kepemimpinan bupati Kery Saiful Konggoasa (KSK) selama kurang lebih sembilan tahun menjabat.

Sekda Konawe, Ferdinand Sapan mengatakan bahwa Bupati KSK merupakan salah satu pemimpin yang berbeda dengan pemimpin lainnya yang ada di Sultra.

Baca Juga : Beberapa Organisasi di Konawe Kepulauan Minta Presiden Tinjau Kembali IUP PT GKP 

Menurut Ferdinand, Tipe kepemimpinan Bupati KSK itu kecenderungan adalah melayani masyarakat bukan ingin dilayani:

“Sering saya temui pemimpin itu yang kecenderungannya ingin dilayani, namun Pak Bupati KSK ini berbeda kecenderungannya, ia adalah melayani ” ujarnya, Jumat 4 Maret 2022

Dari kebersamaannya selama ini, kata Ferdinand, ia melihat bahwa prinsip hidup KSK, kebahagian sejati terletak pada seberapa mampu dalam memberi sesuatu yang bermanfaat bagi seseorang maupun daerah .

Baca Juga : Kepemimpinan KSK Berhasil Kurangi Angka Kemiskinan Masyarakat Konawe

Sehingga menjadi hal yang wajar ketika sering menemukan pak Bupati KSK di tengah-tengah masyarakat selama ini.

Tentu hal itu semata-mata dilakukan untuk lebih mengoptimalkan dalam melayani masyarakat sebagaimana prinsip hidup yang telah ia tanamkan selama ini.

“Makanya posisi Bupati KSK saat ini ada diantara kita, jadi bagian dari kita untuk melayani bersama-sama,” cetus Mantan Kadis BPKAD Konawe ini.

Diketahui, KSK merupakan sosok pemimpin yang sederhana dan aktif dalam bekerja, hal itu, ditandai dengan berbagai perolehan prestasi yang diraihnya selama menjabat sebagai Bupati Konawe dua periode.

Baca Juga : Genap Usianya ke 62 Tahun, Bupati KSK Pastikan Masyarakat Konawe Dapat Mencapai Kesejahteraan

“Kita bisa liat juga sosok sederhana beliau dari misalnya, mobilnya biasa-biasa saja, tidak seperti pemimpin yang lain yang mobilnya licin-licin. Belum lagi dari kantor bupati yang tidak direhap. Semua itu bukan faktor tidak ada dana melainkan kebijakan politik anggaran pa bupati itu digunakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bukan membangun gedung,” ungkapnya.

Alasannya pun cukup menarik seperti dari pembangunan jalan, jembatan, mensubsidi pupuk petani, bibit sampai sapi, menurutnya itu merupakan salah pendorong pertumbuhan petani agar dapat lebih sejahtera

“Kalau membangun gedung yang menikmati paling hanya pegawai yang kerja di dalam, sedangkan kalau menfasilitasi kebutuhan masyarakat itu yang menikmati adalah masyarakat itu sendiri,” pungkasnya.

 

Penulis : Muhammad Ismail