oleh

Aman dan Nyaman Bermedia Sosial dengan Pemahaman Keamanan serta Etika Digital

 

Redaksi

Morowali – Rangkaian Literasi Digital ‘Indonesia Makin Cakap Digital’ di Sulawesi yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siber kreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 15 Mei 2021 di Morowali, Sulawesi Tengah. Kolaborasi ketiga Lembaga ini, khusus pada penyelenggaraan Literasi Digital pada wilayah Sulawesi. Berlokasi di Morowali, webinar ini menghadirkan beberapa narasumber di antaranya, Nenden Sekar Arum, Kepala Divisi Kebebasan Berekspresi SAFENET, Jafar G. Bua, Produser Lapangan CNN Indonesia yang juga Pegiat Literasi Digital, Agus Saleh Tampakatu, Founder Komunitas Literasi Kandepe Topilenja, Pegiat Literasi di Poso, dan Muhammad Iqbal, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu sekaligus Trainer Google News Initiative. Pada episode kali ini diikuti oleh 452 peserta. Rangkaian Literasi Digital ‘Indonesia Makin Cakap Digital’ di Sulawesi menargetkan peserta sebanyak 57.550 orang.

Kegiatan diawali dengan menampilkan sambutan berupa video dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. “Infrastruktur digital tidak berdiri sendiri, jadi saat jaringan internet sudah tersedia harus diikuti dengan kesiapan-kesiapan pengguna internetnya agar manfaat positif internet dapat dioptimalkan untuk membuat masyarakat semakin cerdas dan produktif,” jelas Joko Widodo. Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan memperkenalkan narasumber oleh moderator kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Nara sumber pertama yang menyampaikan materinya ialah Nenden Sekar Arum, tentang Digital Skill dengan tema ‘Positif Kreatif dan Aman di Internet’. Ia menjelaskan bahwa media sosial tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, membuat kita lebih kreatif dengan mengeluarkan kita dari rutinitas, menunjukkan berbagai perspektif, dan membuat kita tertawa. Manfaat yang bisa kita dapatkan dari media sosial pun banyak, di antaranya memperluas koneksi, mengasah kreativitas, lahan untuk belajar, meningkatkan keterampilan sosial, dan menambah pendapatan.

Untuk bisa lebih kreatif dan positif di media sosial kita mesti belajar dari banyak sumber, berteman dengan orang-orang kreatif, mempunyai tujuan yang baik dan konsisten, dan menggunakan media sosial sebagai tempat yang aman, bukan hanya untuk kita tapi juga menciptakan ruang yang aman dan nyaman buat orang lain.

Nara sumber kedua yang menyampaikan materi ialah Jafar G. Bua, dengan materi Digital ethics bertema ‘Bebas namun Terbatas Berekspresi di Media Sosial’. Jafar menjelaskan persoalan etika di media sosial dengan beragam pendekatan retorika. Mulai dari ‘Retorika Aristoteles’, dimana kita melihat bahwa ada tiga daya tarik menyeluruh yang digunakan untuk mengklasifikasikan cara kita berargumentasi; logis (logos), emosi (pathos), dan karakter pembicara (ethos), hingga ‘Retorika Abad Kini’ di mana seseorang harus menampilkan kecerdasan praktis (phronesis), karakter yang berbudi luhur, dan niat baik. Pada akhirnya, validitas bukti, klaim ilmiah dan politik, terletak pada karakter individu.

Tentu saja, perlu ada penafsiran ulang atas seruan Aristotelian bagi komunikator modern, kita sebagai manusia tidak lagi membangun argumen dan membagikannya secara sporadis dalam simposium publik. Pemahaman kita tentang retorika menegaskan bahwa sebagian besar dari apa yang kita lakukan dan katakan adalah argumentatif dalam beberapa bentuk, dan teknologi di manapun saat ini, berarti bahwa apa yang kita lakukan dan katakan lebih ‘publik’ dari sebelumnya. Komunikator di abad 21, harus terus menerus berpikir tentang bagaimana mewakili diri mereka sendiri dalam komunitas fisik dan non-fisik.

Selanjutnya nara sumber ketiga Agus Saleh Tampakatu, memaparkan materi Digital Culture dengan tema ‘Penggunaan Bahasa yang Baik dan benar di Internet’. Ia menjelaskan bahwa berbahasa menunjukkan pemikiran. Bahasa adalah cerminan dari apa yang dipikirkan oleh seseorang. Dalam kontek ini Agus memberikan kutipan dari filsuf jerman Ludwig Wittgenstein, “The limits of language are the limits of my world. Whereof one cannot speak, thereof one must be silent”. Bahasa adalah batas dunia kita, maksudnya adalah dengan pengetahuan bahasa yang luas, maka dunia kita pun menjadi luas.

Untuk itu kita perlu berbahasa yang baik agar tidak menghasilkan kebingungan, kesalahpahaman, memicu konflik, terhindar dari ujaran kebencian, menghasilkan perbedaan makna, menghasilkan tafsir yang berbeda, atau tanggapan yang berbeda. Di samping itu terdapat beragam orang di internet dengan budaya dan bahasa yang belum tentu akan bisa memahami cara berkomunikasi kita.

Nara sumber terakhir yaitu Muhammad Iqbal, yang memberikan materi mengenai Digital Safety bertema ‘Kenali dan Pahami Rekam Jejak di Era Digital’. Dalam pemaparannya ia mengungkapkan bahwa dunia digital tidak jauh berbeda dari dunia sehari-hari, ada kejahatan yang terus mengintai kita yang lengah. Untuk menghindari kejahatan ini kita mesti menerapkan tips-tips keamanan digital. Memperbarui perangkat lunak terus menerus, menggunakan kata sandi yang kuat, berhati- hati dalam membuka pesan, tautan, maupun lampiran dari pengirim yang tidak kita kenal, dan tidak lupa menggunakan antivirus pada semua alat yang terhubung dengan internet.

Tips-tips lain yang tak kalah pentingnya antara lain, mengenkripsi semua gawai, melakukan otentikasi dua langkah pada sebanyak mungkin akun, menggunakan VPN (virtual private network), terutama saat terkoneksi lewat wifi yang tidak aman, misalnya di kedai kopi, bandara, atau ruang publik lainnya. Tidak lupa untuk memasang aplikasi hanya dari pengembang yang kredibel dan hindari mengunduh konten bajakan, serta tak ketinggalan untuk membackup data.

Setelah pemaparan materi oleh keempat narasumber, kegiatan Literasi Digital dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang diarahkan oleh moderator. Terlihat antusias dari para peserta yang mengirimkan banyak pertanyaan kepada para narasumber berkaitan dengan tema dan materi yang telah disampaikan. Kegiatan Literasi Digital mendapatkan apresiasi dan dukungan dari semua pihak karena menyajikan konten dan informasi yang baru, unik, dan pastinya mengedukasi para peserta webinar.

Terkini