EKONOMI & BISNISKENDARIMETRO KOTA

BPS Catat Neraca Perdagangan Sultra Defisit pada Februari 2026

444
×

BPS Catat Neraca Perdagangan Sultra Defisit pada Februari 2026

Sebarkan artikel ini
Impor Melonjak, Neraca Perdagangan Sultra Alami Defisit

KENDARI, MEDIAKENDARI.COM — Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Provinsi Sulawesi Tenggara mengalami defisit pada Februari 2026 sebesar US$1,74 juta. Kondisi ini terjadi karena nilai impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor pada periode tersebut.

Data BPS menunjukkan nilai ekspor Sulawesi Tenggara pada Februari 2026 mencapai US$291,74 juta, meningkat 4,00 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, dari sisi volume, ekspor justru mengalami penurunan sebesar 3,10 persen.

Kenaikan nilai ekspor didorong oleh komoditas besi dan baja yang mencatat peningkatan signifikan. Secara kumulatif, ekspor pada Januari hingga Februari 2026 masih didominasi sektor industri pengolahan dengan kontribusi hampir seluruh total ekspor, serta pasar utama tujuan ekspor adalah Tiongkok.

Di sisi lain, impor Sulawesi Tenggara mengalami lonjakan yang cukup tajam. Nilai impor Februari 2026 tercatat sebesar US$293,49 juta atau meningkat lebih dari 160 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini terutama dipicu oleh impor mesin dan peralatan mekanik.

Secara kumulatif, barang modal menjadi komponen impor dengan peningkatan tertinggi, diikuti barang konsumsi dan bahan baku. Adapun negara asal impor terbesar masih didominasi oleh Tiongkok, Singapura, dan Malaysia.

Selain neraca perdagangan, BPS juga mencatat perkembangan indikator ekonomi lainnya. Pada Maret 2026, inflasi tahunan (year-on-year) di Sulawesi Tenggara tercatat sebesar 3,37 persen, dengan kenaikan harga terjadi pada sebagian besar kelompok pengeluaran, terutama sektor perumahan serta kebutuhan rumah tangga lainnya.

Sementara itu, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Maret 2026 mengalami penurunan sebesar 1,64 persen menjadi 98,55. Penurunan ini dipengaruhi oleh turunnya indeks harga yang diterima petani, sementara biaya yang harus dibayar petani justru meningkat.

Dari sektor pariwisata, tingkat hunian hotel berbintang pada Februari 2026 tercatat mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Hal serupa juga terjadi pada tingkat pemakaian tempat tidur, meskipun rata-rata lama menginap tamu relatif stabil.

Pada sektor transportasi, jumlah penumpang angkutan udara dan laut domestik juga mengalami penurunan pada Februari 2026 dibandingkan Januari 2026, baik untuk keberangkatan maupun kedatangan.

Secara keseluruhan, data ini menunjukkan adanya dinamika ekonomi di Sulawesi Tenggara, dengan peningkatan aktivitas impor dan tekanan pada beberapa indikator lainnya.

You cannot copy content of this page