EKONOMI & BISNISKENDARIMETRO KOTASULTRA

Cerah Sekejap, Derita Nanti: Perempuan Muda Wajib Tahu Efek Jangka Panjang Merkuri

1321
×

Cerah Sekejap, Derita Nanti: Perempuan Muda Wajib Tahu Efek Jangka Panjang Merkuri

Sebarkan artikel ini
Kepala Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Sulawesi Tenggara (Sultra), Riyanto.

KENDARI, MEDIAKENDARI.com – Khususnya para perempuan muda, diimbau untuk lebih cermat dalam memilih produk kosmetik. Penggunaan kosmetik yang mengandung merkuri bisa memberikan efek instan pada kulit, namun dampak jangka panjangnya sangat membahayakan.

Kepala Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Sulawesi Tenggara (Sultra), Riyanto, menegaskan bahwa merkuri adalah salah satu zat berbahaya yang tidak seharusnya digunakan dalam produk kosmetik.

“Merkuri ini salah satu zat yang berbahaya apalagi dicampur di kosmetik memang sifat merkuri ini kalau dilihat secara kimia memang bisa mengikis kulit, sehingga yang semula kulitnya kusam ketika memakai kosmetik yang ada merkurinya itu bisa kusamnya bisa lama-lama hilang tetapi efek panjangnya juga berbahaya,” jelas Riyanto.

Ia menyebutkan bahwa penggunaan produk bermerkuri memang bisa membuat kulit tampak putih dan cerah dalam waktu singkat, namun kerusakan kulit akan muncul seiring waktu.

“Awalnya bagus mungkin terlihat cerah putih tapi lama-lama kulit akan terkikis dan mungkin itu efek sampingnya bisa luar biasa sekali,” sebutnya.

Efek jangka pendek yang sering muncul antara lain ruam, gatal, panas, dan kulit menjadi kehitaman jika penggunaan dihentikan.

Riyanto juga menjelaskan bahwa produk kosmetik yang mengandung merkuri bisa dikenali dari teksturnya yang berbeda dan bau yang menyengat.

Dalam upaya pencegahan, BPOM Sultra telah membentuk tim beranggotakan 12 orang untuk melakukan edukasi langsung ke masyarakat, termasuk ke sekolah dan kampus.

“Tugasnya tim kami sekitar ada 12 orang itu mengedukasi ke masyarakat, baik sekolah, kampus, apalagi para mahasiswa. Mahasiswi yang pakai kosmetik itu untuk memastikan bahan yang berada di kosmetik yang dipakai harus yang aman,” jelas Riyanto.

Ia juga mengingatkan agar tidak menggunakan kosmetik tanpa label dan nomor registrasi BPOM, termasuk produk yang dibeli dari luar negeri maupun secara online.

“Apalagi tidak ada labelnya. Itu jangan dipakai pastikan ada BPOMnya dulu, karena kalau nggak ada BPOMnya itu kita tidak tahu apakah itu aman atau tidak,” katanya.

Terlebih kandungan merkuri dalam kosmetik selain merusak kulit, merkuri juga berdampak pada sistem saraf pusat dan bahkan bisa memicu kanker.

“Merkuri ini kalau jangka panjang biasanya itu susunan saraf pusat, sistem sarafnya itu bisa terganggu bahkan memicu kanker, karsinogenik sifatnya,” tegasnya.

Tak hanya itu, perempuan yang sejak remaja menggunakan kosmetik bermerkuri berisiko mengalami gangguan pada sistem reproduksi yang dapat berdampak pada kesehatan janin kelak.

“Makanya bisa saja muncul malformasi anak cacat itu bisa saja salah satunya pemicunya adalah merkuri tadi. Ketika masih muda, masih SMA, masih kuliah, sudah pakai kosmetik terus apalagi ada merkurinya itu terakumulasi,” ucapnya.

Efek akumulasi merkuri ini bisa muncul belasan hingga puluhan tahun kemudian.

“Sehingga ketika dewasa atau umur 30-40 setelah 20 tahun, 10 tahun telah akumulasi itu baru muncul. Jadi efek jangka panjangnya sangat luar biasa sekali,” tambahnya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur dengan hasil instan dan selalu waspada terhadap gejala awal saat menggunakan kosmetik baru.

“Ketika produknya itu mengandung merkuri biasanya sensitif itu ada rasa gatal terus tadi dari fisik saja sudah kelihatan krimnya tampilnya itu berbeda tampaknya kekelenturan, kepadatannya itu berbeda baunya juga ada khas,” jelasnya.

Apalagi, kosmetik yang dioleskan terasa gatal, kulit kemerahan, ketika gejala itu muncul seharusnya cepat dihentikan, walaupun itu produk terkenal.

“Karena sifat kulitnya orang itu beda-beda ada yang sensitif, ketika sensitif atau tidak sesuai itu dihentikan,” pungkas Riyanto.

 

You cannot copy content of this page