Reporter : Mumun
Editor : Taya
WANGGUDU – Sempat viral dan diberitakan salah satu media online tentang munculnya dua warnah merah pada saat bencana banjir bandang yang melanda Konawe Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra), bahwa dua cahaya merah itu merupakan jelmaan mata ular besar yang oleh suku Tolaki disebut “Lamboriri” mendapat respon keras dari masyarakat setempat sekaligus saksi mata.
Saksi mata Firman yang juga warga Kelurahan Andowia itu membantah jika dua warna merah itu adalah mata “Lamboriri”. Akan tetapi, pada saat terjadi banjir lampu di trotoar menuju Desa Laronanga dan Labungga padam termasuk di Kelurahan Andowia, karena gardunya terendam.
“Kecuali lampu tower itu masih menyala. Jadi iseng-iseng mi ini anak-anak ambil gambar karena saat itu kita lagi kumpul di depan Masjid Andowia dan gambarnya termasuk lampu tower itu sehingga keliatan seperti mata. Kejadiannya itu malam Senin tanggal 9 Juni 2019, yang foto itu namanya Riyan sekitar pukul 9 malam,” kata Firman, Minggu (23/6/2019).
BACA JUGA :
- Gubernur ASR Beberkan Empat Prioritas Pembangunan di Sultra di Hadapan Lukman Abunawas saat Pengukuhan IKA SMAN 1 Kendari
- Maulid Nabi Muhammad SAW, Tri Saktiawan Ajak Masyarakat Teladani Akhlak Rasulullah
- DPRD Konawe Terima Rancangan KUA-PPAS Perubahan 2026 dari Pemda, Sekda : Defisit Rp174,5 Miliar Ditutup SiLPA dan Pinjaman
- Ditreskrimsus Polda Sultra Ungkap Dugaan Korupsi Pengadaan Lahan Pemkot Baubau, Berkas Tersangka Dinyatakan Lengkap
- FEB Unusia Siap Bertransformasi dengan Pimpinan Baru
- Dari Bumi Nahdliyin, Nasaruddin Umar Serukan Kepemimpinan Islam yang Merangkul
Menurut Firman, pada saat pengambilan gambar lampu Base Transceiver Station (BTS) salah satu jaringan telekomunikasi itu bagian tengahnya menyala. Sementara bagian atasnya yang menyala tidak dapat terekam kamera.
“Tempatnya itu di Kelurahan Andowia bukan di Wanggudu, seperti yang diberitakan,” ujarnya, yang juga berada di dalam foto itu.
Kata Firman, dengan adanya pemberitaan tersebut masyarakat setempat merasa takut dan trauma. Apalagi warga masih dalam keadaan berduka setelah banjir bandang menimpa.
“Harapan kami sebagai warga Konut agar wartawan, khususnya yang memberitakan kalau bisa jangan asal mengangkat berita tanpa mengecek kebenaran atau faktanya di lapangan. Karena dengan berita seperti ini membuat masyarakat takut dan trauma apalagi mereka masih dalam keadaan berduka setelah banjir bandang menimpa,” ungkapnya.(a)











