Iklan PDI-P

Direktur PT RIB, Ishak Ismail. Foto : IST

Soal Kredit Macet, Ishak Ismail: Bank Sultra Salahi UU dan Ali Mazi Gagal Paham

Reporter: Kardin

Iklan PT Luwu

KENDARI – Belakangan ini santer pemberitaan terkait adanya kredit macet dari Bank Sultra terhadap debiturnya, Ishak Ismail yang juga pimpinan PT Rezky Ilham Bersaudara (RIB) dengan nilai Plafon Rp 30 miliar.

Menanggapi hal itu, Ishak Ismail akhirnya angkat bicara. Dirinya menegaskan, kredit perusahaan yang ia pimpin tidak bermasalah dan semua berjalan dengan lancar.

Ishak juga menjelaskan, status kredit perusahanya ialah stand by Loan. Artinya, hanya diberikan kepada nasabah bersifat khusus dalam artian debitur memiliki proyek rutin dan kredibilitas terpercaya.

Sedangkan plafon kredit Rp 30 miliar miliknya merupakan nilai 30 persen dari total proyek yang tengah dikerjakan dengan jumlah yakni mencapai Rp 100 miliar.

“Kalau ada masalah, kan ada jaminan saya. Dan itu di atas Rp 30 miliar, nilainya itu sampai 100 miliar rupiah,” jelasnya saat saat ditemui di kediamannya, pada Senin malam (12/8/2019).

Sementara persoalan termin yang tidak terpotong jelasnya, kejadian itu terjadi pada saat adanya pergantian direksi dan posisi di akhir tahun 2018, sehigga pada termin saat itu tidak terpotong.

Namun Ishak Ismail menegaskan, di awal tahun 2019 diirinya telah melakukan pembayaran dan sampai saat ini terhitung sudah Rp 7,4 miliar yang sudah ia bayarkan dari Rp 21 miliar kreditnya dengan plafon besarnya Rp 30 miliar.

“Saya komitmen untuk melunasi sisanya tahun ini. Bahkan saya akan bayar lagi sebanyak Rp 2 miliar,” ungkapnya.

Atas kejadian itu, Ishak Ismail pun masih berpikir untuk melanjutkan kreditnya di Bank Sultra.

“Saya juga ini masih pikir-pikir untuk lanjutkan kredit kalau kejadiannya begini,” jelasnya.

Menyalahi Undang Undang Perbankan

Ishak Ismail juga sangat menyayangkan sikap ‘Bank Plat Merah’ itu yang membeberkan secara gamlang kerahasiaan data dirinya terhadap fasilitas kredit miliknya kepada publik.

Menurutnya, aksi Bank Sultra itu telah melanggar Undang-undang Perbankan yang seharusnya dapat merahasiakan kredit konsumennya selaku debitur.

“Bank Sultra harus melindungi debiturnya. Data-data itu harusnya dirahasiakan, tapi ini ada data saya yang dipublikasikan. Artinya apa?, Bank Sultra tidak melindungi kerahasiaan data saya selaku debitur,” ujar Ishak Ismail.

BACA JUGA :

Berdasarkan ketentuan Pasal 40 (1) Undang Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, menjelaskan bahwa bank wajib merahasiakan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya.

Sejalan dengan pasal tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 14/SEOJK.07/2014 tentang Kerahasiaan dan Keamanan Data Dan/Atau Informasi Pribadi Konsumen.

Surat Edaran itu dikeluarkan sehubungan dengan diberlakukannya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan.

Surat Edaran OJK ini mengatur bahwa para Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK), termasuk bank, wajib melindungi data dan atau informasi pribadi konsumen dan melarang dengan cara apapun untuk memberikan data dan atau informasi pribadi konsumen kepada pihak ketiga.

Soal Sikap Gubernur Sultra, Ali Mazi terhadap Kredit Macet

Setelah beredarnya pemberitaan kredit macet Ishak Ismail, Gubernur Sultra, Ali Mazi langsung meminta Kejaksaan untuk mengusut tuntas persoalan tersebut dengan alasan terkait uang negara.

Menurut Ishak Ismail, Ali Mazi terlalu reaktif menanggapi soal kredit masyarakatnya hingga meminta Kejaksaan untuk mengusutnya.

Atas pernyataan itu, Ishak Ismail mengatakan bahwa Ali Mazi sudah gagal paham terkait kredit perusahaannya di Bank Sultra.

“Saya nilai Ali Mazi gagal paham. Karena selama republik ini berdiri, baru sekarang ada gubernur yang urusi kredit masyarakatnya,” jelas Ketua DPC PDIP Kendari itu.

BACA JUGA :

Padahal menurut Ishak, Pemerintah haruslah mendukung masyarakat seperti dirinya karena telah bermitra dengan Bank Sultra yang notabene milik Pemprov Sultra. Terlebih katanya, ia rutin memberikan pemasukan kepada Bank Sultra melalui pembayaran bunga dari kredit yang perusahaannya.

“Tiap tahun itu rata-rata Rp 1 miliar lebih bahkan pernah Rp 2 miliar bunga yang saya bayarkan,” jelasnya.

Tak sampai di situ, Ishak Ismail juga mengungkapkan, kreditnya di Bank Sultra telah dimulai sejak 10 tahun yang lalu secara stimulan mulai diangka kredit Rp 5 miliar.

“Kredit saya ini sudah 10 tahun, awalnya dari Rp 5 miliar, naik Rp 10 miliar naik Rp 15 miliar sampai teman-teman melihat saya banyak proyek sehingga mendapat kepercayaan dan diberikanlah Rp 30 miliar,” urainya.

Ishak Ismail pun bertanya-tanya terhadap sikap Ali Mazi atas dugaan kredit macet perusahaannya.

“Apakah karena saya tidak dukung Pak Ali Mazi dalam pencalonan gubernur, apakah karena saya di PDIP, dia (Ali Mazi, red) di NasDem? Atau, apakah karena saya sudah berkawan dengan Pak Lukman (Wagub Sultra, red)?,” pungkasnya penuh keheranan. (A)

Iklan Lapas konawe

Iklan Damri
error: Content is protected !!